Menjual Lampung Lewat Fotografi

Batu layar Pegadungan

Batu layar Pegadungan

“Kita bikin saja wiken ini kelas Lampung Belajar, temanya Menjual Lampung Lewat Fotografi.” Ujar Teguh Prasetyo, penggiat Lampung Belajar, Minggu sore (24/01/2016). Hal tersebut terlontar setelah saya bertanya kabar Lampung Belajar yang sudah lama ga buat kelas sharing ilmu yang selalu gratis ini.

Sore itu kami berkumpul di sebuah coffee shop baru bernama Yellow Truck, yang berlokasi di Jalan ZA Pagaralam, Labuhan Ratu, Bandar Lampung. Bertemu kawan baru bang Denny Piliang yang ingin berkeliling Indonesia dengan judul RoadTrip Indonesia dan motto Together we can make dreams come true. Lalu ada Vitarinda, seorang blogger yang dikenalkan oleh Melfeyadin melalui twitter. Sisanya, ya kami-kami yang biasa kumpul dari warung kopi satu ke warung kopi lain.

Kami memang sering berkumpul di dunia nyata dan membahas isu apa yang sedang berkembang. Dan yang lebih penting membahas akan melakukan apa yang nyata selain bercakap-cakap di dunia maya. Akhirnya kita melaksanakan kelas Lampung Belajar hari ini, Sabtu (30/01/2015), di kantor Surat Kabar Tribun Lampung.

Menjual Lampung

Hal pertama yang ada di benak saya saat membaca “Menjual Lampung” adalah Pariwisata Lampung. Menjual Lampung dalam arti bagaimana membuat orang lain dari luar Lampung untuk datang ke Lampung. Atau bagaimana cara masyarakat Lampung mau berwisata di daerahnya sendiri.

Di sini, kita akan membahas “Menjual Lampung Lewat Fotografi” dari sudut pandang saya pribadi berdasar apa yang sudah saya dan kawan-kawan komunitas fotografi, komunitas jalan-jalan lakukan selama 6 (enam) tahun terakhir di bidang fotografi.

Sejak kembali ke Lampung saya bersemangat ikut acara-acara yang berhubungan dengan fotografi, baik yang diadakan di kota Bandar Lampung maupun luar kota. Merasa sebagai orang baru, meski besar dan menua di Lampung, saya sering bergabung dengan komunitas Pecinta Fotografi Lampung yang aktif di dunia maya sebagai ajang sharing hasil foto.

Explore Lampung Barat bersama kawan-kawan HMJ Komunikasi Unila.

Explore Lampung Barat bersama kawan-kawan HMJ Komunikasi Unila.

Tahun 2010 merupakan tahun awal saya ber-keliling Lampung. Dimulai dengan mengikuti Jelajah Lampung Barat yang diadakan oleh Jurusan Komunikasi FISIP Unila. 25 orang peserta menggunakan bis tanggung, kami ke beberapa tempat di Lampung Barat. Waktu itu Lampung Barat masih mencakup wilayah Pesisir Barat. Ini kali pertama saya mengunjungi Penangkaran Penyu Muara Tembulih, Air Terjun Sepapa Kanan TNBBS.

Berburu foto burung belibis di muara Bawang saat mengikuti Jurnalist Trip pulau Balak.

Berburu foto burung belibis di muara Bawang saat mengikuti Jurnalist Trip pulau Balak.

Jurnalist Trip ke pulau Balak yang diadakan oleh Yayasan Ekowisata Cikal juga saya ikuti. Meski bukan jurnalis, kawan-kawan dari BE_PFL diberi 5 seat waktu itu. Meeting point di Museum Transmigrasi Gedong Tataan, kami mengunjungi pulau Balak, Lok, dan Lunik selama 2 hari 1 malam.

Fotografer berbagai daerah Indonesia berfoto bareng Bupati Lampung Barat saat itu, Mukhlis Basri, di Festival Teluk Stabas 2010

Fotografer dari berbagai daerah Indonesia berfoto bareng Bupati Lampung Barat saat itu, Mukhlis Basri, di Festival Teluk Stabas 2010

Yang seru di tahun 2010 adalah mengikuti acara Festival Teluk Stabas. Dihubungi oleh dinas Pariwisata Lampung Barat, panitia sanggup memfasilitasi 80an fotografer selama acara. Kami fotografer dari Lampung, Jakarta, Palembang, Bandung, Jogja pun datang. Sewa mobil dan bahan bakar dengan biaya sendiri, kami beramai-ramai datang meliput acara tersebut. Di acara ini saya pertama kali menginap di Tanjung Setia 🙂

Di tahun-tahun selanjutnya, kami banyak melakukan eksplorasi daya tarik alam yang ada di Lampung. Saat ini siapa komunitas fotografi yang tidak tahu Gigi Hiu Pegadungan, sebuah gugusan batu karang yang sebagian orang menyebutnya ‘mystical view’. Meskipun saat pertama kali melihatnya kami sama sekali tidak memotret, tetapi saat itu rekan saya Budhi Marta Utama bergumam, satu saat tempat ini akan terkenal. Dan sekarang sudah terbukti.

Mulai dari fotografer lokal, nasional bahkan dari Singapura pernah datang kemari. Artis sekaligus perancang busana Asri Welas pun melakukan photoshot untuk produk baju pengantinnya di lokasi ini, menggunakan ojek 😀

Budhi Marta menolong pengendara yang terjungkal di sebuah tanjakan curam menjelang Pegadungan.

Budhi Marta menolong pengendara yang terjungkal di sebuah tanjakan curam menjelang Pegadungan.

Istirahat di kali yang jernih airnya setelah eksplorasi Pegadungan.

Istirahat di kali yang jernih airnya setelah eksplorasi Pegadungan.

Disponsori oleh Dinas pariwisata Lampung Barat, kami sempat mengadakan pameran foto di Mal Kartini selama dua hari. Sambutan dari pengunjung luar biasa besar. Kami tidak menyangka foto-foto kami begitu disukai masyarakat awam. Banyak dari mereka bertanya-tanya, apa benar foto-foto tersebut diambil di Lampung. Lampung memang indah, sebagian berkata demikian. Pameran kedua diadakan di Novotel berbarengan dengan acara TIME (Tourism Indonesia Mart & Expo) 2012 dengan Lampung sebagai tuan rumah.

Pameran foto di Tourism Indonesia Mart & Expo 2012 yang diadakan di hotel Novotel Lampung,

Pameran foto di Tourism Indonesia Mart & Expo 2012 yang diadakan di hotel Novotel Lampung,

Selain itu, saya dan Budhi Marta juga beberapa kali mengadakan trip wisata dan trip fotografi. Destinasi favorit saya kala itu adalah teluk Kiluan dengan atraksi utamanya wisata lumba-lumba di luar teluk. Juga pulau Pisang dan danau Ranau dengan keindahan yang berbeda. Selain guiding wisatawan, saya masih sempat mengambil foto untuk stok yang siapa tau laku dijual 🙂

Sedangkan Budhi Marta lebih fokus kepada trip fotografi lanskap di Pegadungan. Dengan biaya tiga juta rupiah per peserta selama 3 hari 2 malam, trip tersebut lumayan diminati oleh fotografer dari berbagai kota di Indonesia.

Di acara pariwisata tingkat provinsi, Festival Krakatau 2012 sudah mulai mengundang fotografer untuk ikut dalam lomba foto yang diadakan saat parade budaya. Tahun-tahun selanjutnya malah sudah berani mengundang pehobi fotografi dan blogger luar daerah untuk datang.

Fotografer dan blogger berbaur di acara Festival Krakatau 2015.

Fotografer dan blogger berbaur di acara Festival Krakatau 2015.

"Ayo kita fotto bareng di sebelah sana yang lebih luas" Ajak gubernur Lampung Ridho Ficardo kepada para blogger.

“Ayo kita foto bareng di sebelah sana yang lebih luas” Ajak gubernur Lampung Ridho Ficardo kepada para blogger.

Apa yang kita foto?
Turis tidak datang ke suatu tempat hanya untuk melihat dan memotret sesuatu yang ada di daerah asal tempatnya tinggal atau bekerja. Harus ada keunikan di subyek foto. Ruang lingkupnya bisa lanskap, portrait, arsitektur, budaya, makanan, dan alam liar, bahkan subyek makro.

Ibu-ibu pembawa "pahar" di Krui, Pesisir Barat. Pahar adalah bawaan, bisa berupa bahan pokok, untuk yang punya hajat.

Ibu-ibu pembawa “pahar” di Krui, Pesisir Barat. Pahar adalah bawaan, bisa berupa bahan pokok, untuk yang punya hajat.

Perkembangan Media Sosial

Nah, foto-foto yang kami potret itu dikemanakan? Jawabannya sudah jelas, media sosial. Foto-foto 80an fotografer yang mengikuti Festival Teluk Stabas meramaikan wall Facebook di tahun 2010 itu juga. Menjadi promosi gratis Lampung Barat khususnya dan Lampung pada umumnya. Dilihat oleh banyak orang, bukan hanya fotografer saja.

Foto pribadi saya di Gigi Hiu Pegadungan bukanlah foto terbaik. Banyak kawan fotografer yang membuat foto lanskap dahsyat. Tetapi boleh dibilang saya yang pertama kali menceritakannya dalam blog. Dan artikel blog tersebut banyak dibaca dan di-share hingga saat ini.

Instagram juga merupakan saluran populer di media sosial, dimana penggunanya bisa berbagi foto dan saling berinteraksi. Meskipun terbilang terlambat memulai, akun IG @kelilinglampung_ mendapat respons positif dari para pengikutnya. Saat ini tagar #kelilinglampung sudah melampaui 18ribu post.

Bukan hanya fotografer profesional dengan kamera besarnya yang punya andil di sini. Seorang anak SMP dengan kamera smartphone-nya juga bisa memotret keunikan daya tarik wisata, berbagi di akun medsosnya dan dilihat oleh banyak orang.

Salah satu kegiatan pengguna instagram Lampung adalah #InstameetLampung, bisa dibilang cara mereka berkumpul, melakukan photowalk lalu upload di akun masing-masing adalah sebuah cara baru mempromosikan pariwisata Lampung.

Travel blogger juga tak kalah berperan aktif dalam mempromosikan pariwisata Lampung. Mereka pastinya melengkapi tulisan dengan foto untuk kelengkapan visual. Tidak dengan kamera DLSR, compact camera, action camera, dengan kamera HP pun jadi. Seperti yang dilakukan oleh kawan Indra Pradya pemilik akun twitter @duniaindra melalui blognya, www.duniaindra.com .

Nah, kalau ditanya apa sih hubungan pariwisata dan fotografi. Bisa kita jawab: (1) Fotografi sebagai media untuk merekam dan mengabadikan kenangan; (2) Fotografi sebagai alat promosi produk pariwisata; (3) Pariwisata fotografi sebagai dimensi baru industri pariwisata.

Cocok menjadi Travel Photographer atau Travel Blogger?

Menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang bisa kita pertimbangkan.

Tangguh
Seringkali foto-foto yang tersusun dan terpilih di blog dan akun intagram kita itu tidak mencerminkan proses perjalanannya. Perjalanan jauh yang mnghabiskan waktu bisa menurunkan produktivitas kita di daerah tujuan. Belum lagi harus menyesuaikan diri saat tiba.

Belum lagi bila kena macet, kendaraan mogok, kehabisan tiket, beda bahasa, gigitan serangga, dan sebagainya.

Nilam dan kang Rudi Huang tahan masuk rawa buat cari angle foto terbaik :)

Nilam dan kang Rudi Huang tahan masuk rawa buat cari angle foto terbaik 🙂

Toleran
Semakin jauh memasuki suatu daerah / budaya, semakin banyak macam orang yang harus kita hadapi. Bertemu orang baru merupakan hal yang menyenangkan dan menarik bagi beberapa orang. Bagi sebagian lagi bisa jadi menyebalkan dan menimbulkan resiko. Termasuk saat kita melihat banyak kebiasaan yang tidak sesuai seperti yang terjadi di daerah asal kita.

Tugas kita sebagai fotografer/blogger adalah mengamati, dengan harapan bahwa gambar dan tulisan kita dapat mempengaruhi perubahan sosial yang positif.

Fleksibel
Semakin punya banyak waktu untuk bepergian semakin banyak peluang untuk bisa mengakses tempat-tempat dan hal-hal menarik baru. Yang jelas, pekerjaan utama kita pastinya membatasi daya jelajah kita.

Pertimbangkan gaya hidup anda, dan berapa banyak waktu yang tersedia untuk jauh dari rumah. Sebagian orang siap pergi kapan saja dengan ransel pakaian dan tas kamera dan yang penting bepergian dengan pikiran terbuka.

 


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂