Menulis: Geliat Ekonomi Komunitas Media Sosial

Fotografer dan blogger di acara Parade Budaya Festival Krakatau 2015 (@yopiefranz)

Fotografer dan blogger di acara Parade Budaya Festival Krakatau 2015 (@yopiefranz)

“Nulis mas yopi. 15 paragraf aja. Soal Geliat Ekonomi Komunitas Media Sosial.” Tanya Deni Kurniawan seorang kawan dari Koran Fajar Sumatera, di hari Minggu (13/12/2015) pukul 21:27, melalui grup WA.

Tanpa banyak berpikir saya menjawab bisa malam itu. “Berapa hari mas”, saya bertanya.

“Malam ini yah. Redaktur Ekonomi sakit, ga masuk. Dia pegang 2 halaman. hehehe…”, Desak Deni ke saya.

“Ya ampyuuuuuun… Hahahahahaha”.
“Jam berapa deadline”
“Jam 1”
“OK”

yopie pangkey - fajar sumatera 1

yopie pangkey - fajar sumatera

Weekkssss Cuma punya waktu 3,5 jam menjelang deadline. Mana pikiran lagi fokus ke film yang sedang tayang di sebuah stasiun televisi. Sedangkan badan dan mata sudah agak lelah ingin segera mengajak tidur.

Sambil berbaring di kursi, mencoba mencari info hal-hal terkait mengenai media sosial dan membuka file berisikan akun-akun Twitter dan Instagram yang dikelola oleh masyarakat Lampung. Membaca beberapa link dari wikipedia dan mengintip beberapa akun yang ada di following akun pribadi. Tak terasa, perlahan-lahan mata tertutup dan masuk ke alam mimpi 😀

Tiba-tiba suara notifikasi chat WA berbunyi. Saya terbangun, tak terasa 1 jam terbuang begitu saja. Mas Deni bertanya apakah tulisan saya sudah jadi atau belum 😀

Syukurnya sudah ada bahan di mobile phone dan beberapa di laptop, tinggal dikompilasi saja semuanya.

Kita simak saja apa yang sudah saya tulis waktu itu…
*seruput wedang uwuh dari Halim Santoso 😀

Sebenarnya media sosial di Lampung itu gimana sih? Ada yang bilang bahwa media sosial di Lampung tidak seheboh di daerah lain seperti Jakarta, Jogja, Bandung, Surabaya. Loh, bukankah berarti di situ masih ada banyak peluang ya. Apalagi trend Facebook, IG, dan twitter masih stabil paling tidak 3-5 tahun ke depan. MAsih ada waktu walau baru memulainya sekarang.

Kalau kita cermati, banyak sekali akun-akun asal Lampung yang aktif di berbagai alur media sosial. Jujur saja, banyak masyarakat Lampung, terutama birokrasi, pengusaha dan investor yang masih terbiasa dengan media konvensional. Akhirnya geliat ekonomi yang terjadi di media sosial terlihat kurang tergali optimal.

Coba kita tengok, ada beberapa akun besar Lampung di beberapa aliran media sosial. Di twitter bisa kita temukan akun @bandarlampung, @infolampung, @kelilinglampung, @lampungbuzz, @lampungupdate, @infoBDL, @kicauBDL yang kesemuanya memiliki fanpage di facebook dan akun instagram untuk mendukung penyebaran informasi mereka. Belum termasuk 80an akun lain yang juga aktif, termasuk @kiluandolphin, @cowocewe, dan @yukbehel yang aktif memasarkan produk jualan mereka setiap harinya, dan mampu hasilkan jutaan rupiah setiap bulannya dari usahanya.

Coba juga intip-intip info trend pemasaran secara global. Trend pemasaran berubah sangat cepat tahun demi tahun. Pertumbuhan media sosial semakin pesat. Dijelaskan oleh #socialmediatoday, lebih dari 1/7 populasi manusia sudah menjadi bagian dari jaringan media sosial. Pengaruh media sosial terhadap kehidupan manusia semakin mendominasi.

Di tahun 2015 ini, Facebook telah mengakuisisi 5 perusahaan, Wit.ai, Quickfire, TheFind, Sureal Vision, dan Pebbles. Twitter mengakuisisi 7 perusahaan, ZipDial, Niche, Periscope, Tenxer, TellAppart, Whetlab, dan Fastlane. Tak mau kalah, LinkedIn turut mengakuisisi 4 perusahaan besar, termasuk Lynda.com sebuah perusahaan pembelajaran online.

(Perlu juga nih, diadakan survey yang mempelajari alur media sosial mana yang paling sering digunakan oleh masyarakat Lampung untuk mencari informasi. Sepertinya beberpa sudah melakukan, tetapi hanya untuk intern saja.)

Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya. (wikipedia)

Melihat situasi seperti ini, sudah seharusnya pelaku media sosial di Lampung bisa menangkap peluang yang ada.

Menurut pengamatan saya nih, pemerintah daerah melalui beberapa Satuan Kerja-nya sudah mulai melibatkan pelaku media sosial Lampung. Di level provinsi, Dinas Parekraf beberapa kali menggandeng penggiat media sosial lokal maupun nasional untuk datang meliput dan membantu kampanye pariwisata.

Dari Tahun 2014 dan 2015, Dinas Parekraf Provinsi Lampung sudah mengundang belasan pelaku media sosial. Belum lagi puluhan/ratusan netizen lokal yang ikut di Tur Krakatau. Hasilnya, tagar #krakataufest sempat nangkring di WorldWide Trending Topic.

Sedangkan di level kabupaten, Kabupaten Tanggamus sudah berani mengundang para penggiat media sosial Lampung dan Nasional untuk datang ke Kota Agung. Kedatangan mereka secara langsung ini memberikan banyak keuntungan. Dengan melihat dan merasakan secara langsung pengalaman selama mengikuti acara, mereka dapat bercerita kepada sesama pengguna media sosial secara luas. Terbukti dengan ramainya tagar #FestTelukSemaka selama acara berlangsung, bahkan sampai saat ini tagar tersebut masih berseliweran di twitter dan dibaca oleh banyak orang.

Perhelatan Lampung Fair 2015 pun sudah melibatkan pengguna media sosial, baik oleh para akun informasi maupun para pengunjung. Bahkan Bappeda Lampung menggaet akun informasi @infolampung dan @kelilinglampung untuk mengangkat kegiatan mereka selama berlangsungnya acara Lampung Fair tersebut.

(Baca juga Kisah Keliling Lampung)

Nah sekarang tinggal pelaku usaha di Lampung. Tidak ada salahnya lho mencoba membuka diri dan menjadi bagian dari jejaring media sosial yang ada di Lampung maupun nasional. Sudah banyak perusahaan swasta besar yang membangun wadah sosialnya sendiri. Mereka sudah melibatkan orang-orang di sekitar perusahaan untuk berinteraksi.

Melalui media sosial tersebut, perusahaan mengajak semua pihak yang tertarik pada produknya untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka. Perusahaan menghendaki komentar dari semua pihak, serta saling berbagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Bagaimana dengan orang nomor satu di Lampung? Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo pernah berujar, “kerajinan kreatif sudah banyak terlihat, namun saja hal itu belum dikembangkan dengan maksimal.”

Dari sisi permodalan Gubernur berharap pada dukungan dari perbankan. Dari sisi promosi, selain media konvensional tidak ada salahnya pemerintah juga mulai melirik media sosial sebagai salah satu strategi pemasaran industri dan pariwisata agar keduanya bisa berjalan beriringan.

“Ekonomi kreatif harus dioptimalkan lagi, sehingga kerajinan di daerah itu dikenal luas. Pemprov akan terus mendorong bagaimana industri kerajinan itu betul-betul menjadi harapan baru buat masyarakat Provinsi Lampung, sehingga tumbuh dan berkembang.” Ujar Ridho Ficardo saat itu. (lampungprov.go.id)

Pemerintah sebagai fasilitator bisa menghidupkan dunia media sosial di Lampung dengan memberikan pelatihan peningkatan kualitas SDM para penggiat media sosial swasta maupun di lingkungan pemerintah itu sendiri untuk menguatkan harapan gubernur.

Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita. (wikipedia.com)

Tetapi tetap ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat kita masuk ke dunia media sosial. Media sosial bersifat cepat dan pesan yang disampaikan tidak hanya dari satu orang saja, namun bisa dari banyak orang karena tidak melalui suatu ‘gatekeeper’. Kalau kita jeli, banyak peluang untuk dimanfaatkan dalam bisnis, networking, dan menambah wawasan. Kalau tidak waspada, bisa-bisa kita yang kena tipu.

Kalau menurutmu, bagaimana geliat ekonomi media sosial Lampung?