Menulis Keliling Lampung

Yopie Pangkey
Yopie Pangkey - Keliling Lampung
Keliling Lampung

Tak terasa sudah 4 tahun mengelola akun twitter @kelilinglampung beserta akun FB KelilingLampung Yuk. Banyak suka dibanding dukanya selama itu. Berawal dari obrolan ringan dengan suami sepupu, Anggraito, yang banyak bercerita tentang peluang-peluang usaha yang berhubungan dengan lifestyle di Jakarta. “Keliling Lampung, sepertinya asik juga untuk jadi branding blog yang bakal gw buat nanti,” begitu kira-kira percakapan yang ga disangka bakal benar-benar terlaksana.

Lalu dilanjutkan dengan obrolan santai dengan seorang kawan, Diela Dahlan yang pernah sama-sama bekerja di Aceh, di pondok Anak Abah Teluk Kiluan milik @kiluandolphin. “Apa perlu gw buat dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia”, pertanyaan saya waktu itu. “Untuk apa, itu kan ngerepotin. Ga usah mikirin orang luar yang mau masuk ke Indonesia. Mereka sudah siap dengan info dan bahasa kita. Yang penting informatif.” Diela kasih saran.

Benar juga sarannya Diela. Buat apa repot-repot buat dua bahasa. Jaman sekarang tinggal buka google translate, copas sumber, sudah langsung keluar hasil dalam bahasa yang diinginkan.

Sebelum eksekusi dan memilih nama, tentu saja saya melakukan sedikit pencarian di google. Ga mau dong sudah memilih nama, ternyata ada orang lain yang sudah pernah menggunakan nama tersebut. Alhasil, belum ada yang pernah memakai nama “Keliling Lampung” sebagai nama akun dan branding. Hanya ada satu temuan di Facebook, itupun tidak aktif.

Lahirnya Keliling Lampung

Akhirnya di hari Jumat, (04/11/2011) lahirlah blog www.kelilinglampung.wordpress.com dan akun twitter @kelilinglampung.

Posting pertama di blog berjudul “Keliling Lampung” yang menjelaskan secara singkat maksud dari blog tersebut, Sabtu esok harinya (05/11/2011).

Dan di hari ketiga (06/11/2011), bu Evi Indrawanto yang belakangan rajin datang ke Lampung memberikan komentar pertama di blog itu.

“Wah pasti menarik secara saya sering ke Lampung namun tak begitu tahu banyak apa saja yg bisa di eksplorasi disana. Kalau alamnya sdh banyak yang tahu, tp tidak budaya dan kehidupan sehari2 penduduknya. Bagaimana orang Bali dan orang jawa menjadi lampung di sana. Aku akan langganan blog ini. Tak tunggu tulisan2nya :)” Begitu komentarnya hehehe…

Bagi fotografer amatir seperti saya tentu saja merasa tersanjung mendapat komentar dari seseorang yang sudah malang melingtang lebih dahulu di dunia blogging. Tak hanya itu, beberapa kali saya mendapat kritikan mengenai kegiatan blogging saya yang kurang aktif 😀

Komentar kedua datang dari seorang kawan SMA, Mimi Wu. Agak panjang komentarnya.

“Senang sekali tahu kabar tentang teman SMA saya satu ini. Baru tahu juga sudah 2 tahun ini sang teman lama ini balik lagi ke Lampung. Dan bertambah saja rasa senang saya karena baru tahu teman lama ini kembali ke Lampung dan memberi arti bagi Lampung melalui hobinya. Lampung itu sungguh indah. Walaupun sudah 19 tahun tidak menetap lagi di Lampung, tetapi panorama alam Lampung sepanjang jalan ke Bakauheni selalu membekas di hati, terlalu sulit untuk dilupakan, ngangenin, dan selalu ingin mengetahui lebih jauh lagi selain pantai kenangan masa kecil (Pasir Putih, Pulau Pasir, Merak Belantung) saja. “ Tulisnya.

“Dari dulu saya tahu Lampung itu indah alamnya, mutiara di ujung selatan pulau Sumatra. Sayangnya ketika saya mudik, saya tidak tahu harus jalan-jalan ke mana lagi, atau bahkan ketika teman-teman bertanya ‘Mi, gua mau ikut ke Lampung dong, ada lokasi wisata apa aja sih yang bagus-bagus di Lampung?’;” Lanjutnya.

“Saya malu, bingung juga, campur jadi satu, karena tidak bisa menjawabnya, plus rasa kesal koq bisa Pemda Lampung sepertinya belum sadar juga untuk memberi nilai tambah atas sumber daya alam yang tersedia ini. Dari blog ini mulai terkuak fakta indahnya Lampung, semua berkat ide dan upaya bro Yopie ini. Semoga blog ini bisa mendukung kemajuan pariwisata di Lampung, my always home town…” Tutupnya di komentar.

Semangat Keliling Lampung

Nah, saya jadi lebih semangat lagi nih untuk jalan-jalan sambil memotret dan merekam scene alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang saya temui. Berawal dari ketidaktahuan, penasaran dan ingin belajar banyak tentang Lampung. Keliling Lampung bukan berawal dari banyak tahu tentang Lampung 😀

Dalam perjalanannya, punya blog dan punya akun twitter yang local banget itu banyak untungnya juga. Dari bikin paket jalan-jalan, diundang jalan-jalan, jadi nara sumber di media cetak, difollow artis dan pembawa acara, jadi juri desa wisata, merancang travel pattern bareng Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, sampe twit iklan 😀

Tapi tau ga, akun twitter @kelilinglampung itu lambat banget dapat follower di satu tahun awalnya. Dari 10 ke 100 follower itu butuh berbulan-bulan lho. Padahal sudah rajin mention sana-sini. Ada yang nanggapin ada juga yang cuekin. Mending sedikit, banyak yang cuek. Sedih ya, hiiiiks…

Keliling Lampung juga aktif mengkritisi acara-acara pariwisata yang ada di Lampung. Seperti pernah (beberapa kali) dimuat di koran cetak Tribun Lampung.

Saya bersama Keliling Lampung selalu menyuarakan akan pentingnya merangkul komunitas dalam setiap acara-acara yang berhubungan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Saat merangkul komunitas, itu bisa menjadi promosi masif yang secara tidak langsung didapat pemerintah secara gratis.

“Foto memang terlihat sepele, namun gambaran yang dibangun olehnya mampu memainkan imajinasi yang melihatnya dan membuat mereka mengunjungi destinasi wisata di Lampung.” Ucap saya tahun 2013.

“Ditambah lagi, pada kenyataannya tak sedikit pehobi foto atau blogger berburu cerita carnival yang ada di seluruh Nusantara, seperti dari Sumatera Selatan, Jakarta, Jogja, dan Surabaya. Sayangnya Festival Krakatau tidak menjangkau mereka. Bahkan kebanyakan mereka datang sendiri-sendiri,” saya menambahkan.

“Saya pikir, mereka (pemerintah) bukan belum paham dan bersikap masa bodoh posisi rekan-rekan komunitas. Namun di sini terlihat, ada kesulitan dalam membangun jalur komunikasi ke rekan- rekan tadi. Di salah satu kasus misalnya, seper ti ekowisata Kiluan, pemerintah akhirnya tidak bisa menyangkal bahwa ada andil rekan-rekan yang secara independen mempromosikan potensi surga dunia di pesisir Lampung tersebut.” Saya mengatakan dalam berita lain.

“Nah, hal semacam ini yang seharusnya bisa dirangkul dan lebih disinergikan lagi ke depan. Daya jelajah serta pondasi komunikasi rekan komunitas, apapun itu, tidak bisa dipandang remeh terkait promosi wisata Lampung.”
Kayak sudah ahli aja ya, padahal mah apa tuh 😀

Gigi Hiu, Batu Layar Pegadungan

Populerkan Wisata Lampung

Bagian paling menyenangkan dari kegiatan jalan-jalan keliling Lampung, memotret dan menulis adalah, bisa ikut berperan dalam mempopulerkan tempat-tempat yang mempunyai daya tarik luar biasa di Lampung.

Sebut saja Batu Layar Pegadungan di kecamatan Kelumbayan kabupaten Tanggamus. Saya bersama Budhi Marta Utama dan kawan-kawan fotografer lain berusaha mengambil angle terbaik saat memotret susunan batu-batu besar itu supaya bisa terkenal.

Lalu oleh Budhi, batu layar tersebut dijulukinya dengan nama “Gigi Hiu” untuk membedakan dengan batu layar lain yang ada di Indonesia. Bukan bermaksud merubah nama ya, tapi untuk membuatnya popular dan didatangi banyak fotografer dan wisatawan pada umumnya.

Pulau Pisang

Setelah Gigi Hiu, saya mendatangai Pulau Pisang di Kabupaten Pesisir Barat. Pulau yang ingin saya impikan untuk didatangi sejak 1998. Lama ya baru tercapai 😀

Saat kembali dari pulau itu dan membuat artikel tentangnya, satu minggu kemudian salah satu komunitas besar jalan-jalan langsung membuat trip murah ke pulau itu. Dan lebih asiknya nih, ,mereka menggunakan foto-foto saya untuk jualan trip tersebut. Untungnya ada tulisan “foto oleh” di woro-woro mereka 😀

Semoga Banyak Manfaat

Tapi semakin kemari kok semangat menulisnya semakin kendur. Terutama dari tahun 2013 sudah jarang aktif menulis walau masih banyak jalan-jalannya.

Mungkin ada rasa kawatir, tempat-tempat yang indah yang harus melewati jalan-jalan jelek itu bakal ramai dan rusak? Tidak juga. Sekarang masih tetap ada keinginan untuk melanjutkan menulis tentang jalan-jalan di samping tulisan-tulisan serius. Memang ada? 😀

Ini tulisan awal seorang fotografer amatir yang suka jalan-jalan Keliling Lampung, ke banyak tempat wisata di Lampung. Lalu mencoba nge-blog di sini. Semoga ada yang membaca 😀


25 Comments

  1. Lampung punya cerita dari orang yang tepat. Kurang apa lagi coba?

    From Lampung with Love ini mah 😀
    Sudah pasti akan aku baca!

    Selamat nge-blog. Ditunggu cerita-cerita menariknya, juga foto-foto ajibnya 🙂

  2. Lampung memang masih banyak yang harus di eksplore, bila saja banyak penggiat media sosial yang juga melalui edia website atau blognya menuliskan teantang Lampung hal ini akan menjadi pendobrak perekonomian rakyat daerah setempat. Dan Indonesai membutuhkan orang-orang yang dapat mendorong daerah untuk menata diri, dan salah satunya dengan mengeksplore sebagai daya tarik untuk menjadi minat setiap orang datang, dengan sendirinya kan mebuat pemerintah dan daerah tersebut mau tidak mau harus segera cepat enata diri, maklum biro kresi di Indonesia masih banyak pintu.

    Websitenya tinggal di poles dikit nih kang biar bisa lebih on.

    • Betul kang Indra, masih banyak yang bisa dieksplore di Lampung. Bukan alamnya saja, tapi kuliner, budaya, dll yang masih terbuka bagi para penggiat media sosial. Sudah beberapa kali para penggiat ini ikut membantu mendobrak perekonomian rakyat di Lampung.

      Bantu2 saran juga ya kang Indra 🙂

  3. Itu foto pulau pisangnya audah nempel di kamar saya berbulan2. To belum sempet kesana. Ditunggu undangan jalan2 ke pulau pisang ataupun pulau2 keren lainnya di Lampung

  4. Aiish..akhirnya punya domain nama sendiri. Bagus Kakak…
    Lampung teh terlalu indah untuk diabaikan. Apa lagi jika penduduknya mau mempertontonkan kan keindahan tersebut kepada orang lain. Membaca blog tentang Lampung dari orang Lampung tentu lebih sahih tingkat kepercayaannya. Selamat datang yopiefranz.com. Nama domainnya seindah nama yang punya wkwkwkw…

    • hahahaha….
      Akhirnya nongol juga bu Evi di blog baru ini.
      lahirnya blog ini semoga membuat blog2 lain dari Lampung bermunculan juga 🙂

  5. Seneng baca tulisan2 Om Yopie tentang Lampung (termasuk juga di blog lainnya). Foto2nya Om Yopie cs seruu.. Sedikit mengobati rasa kangen saya yg sudah belasan tahun tidak pernah ke sana lagi. Sekarang saya tahu kalo ke Lampung lagi harus kontak siapa, hehehe… temen SMA-ku yg satu inih 🙂
    Semoga semangat terus ya mempromosikan Lampung.

    • Hai Lalita,
      Kapan kita ketemu terakhir ya, Gambir tahun 1998-1999 ya?
      Kalau ke Lampung jangan segan kabari ya.
      Trims sudah mampir 🙂

  6. Aku pingin bgt potensi pariwisata di Lampung, Kota kelahiranku bisa sejajar dg yg ada dipulau jawa. Semua potensi wisata alam yang melimpah dan arena taman wisata yang masih begitu luas. Seperti Pulau Pasir, Pasir Putih, Teluk Kiluan, Pantai Klara, Taman Kupu-Kupu, Lembah Hijau, Penangkaran Gajah Way Kambas, Dan masih banyak lagi. Aku mau buat blog tentang Lampung klo bisa bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Lampung agar Lampung tidak kalah dengan wisata yang ada di pulau Jawa.

    • selain sejajar ada hal lain yang penting kak, yaitu terjaga baik alam maupun masyarakat lokalnya.
      Ditunggu artikel2nya tentang Lampung, & trims sudah mampir 🙂

  7. Hai Mas Yoppie salam kenal. Perkenalan saya dengan Kampung Sudah lama sekalian semenjak Kakek sering merantau dan membawa buah-buahan aneka rupa yang buaanyak bgt. Dari situ penasaran ingin ke Lampung.

    2004 teman sharing tentang foto2 Lumba-lumba di Teluk Kilauan tambah deh penasaran. Dan hingga kini belasan thn blm juga sempat ke Lampung. Hikss.

    Semoga suatu saat bisa main, jalan2 dan mempelajari adat budaya masyarakat Lampung

    • Hai mbak Lina, salam kenal juga 🙂
      Saya pun begitu, puluhan tahun tinggal di Lampung bisa menikmatinya baru dari tahun 2010. Sebelum itu kemana saja ya 😀

      Mudah-mudahan ada kesempatan buat datang ke Lampung. aamiin…

  8. Ayo, teruskan menjelajah Lampung Bang! 😀
    Kalau perlu dibuat basis data di tiap kecamatan itu ada potensi apa saja.

    Tapi sayang, menurutku tempat-tempat ekstotik di Lampung itu hitungannya masih “pelosok”. Akses jalan yang sulit dan minim transportasi umum. Jadi benar kalau “Keliling Lampung” itu sepatutnya menyasar anak muda yang umumnya dikaruniai fisik yang sehat, banyak waktu luang, dan semangat yang tinggi. 😀

    Semoga Lampung dengan potensinya yang seabrek itu bisa semakin maju dengan pariwisata sebagaimana Bali dan Yogyakarta.

Comments are closed.