Pesta Laut dan Syukuran Nelayan Teluk Lampung

Festival Budaya Maritim di Teluk Lampung

Festival Budaya Maritim di Teluk Lampung

“Besok ada Festival Budaya Maritim, judulnya Pesta Laut & Syukuran Nelayan Teluk Lampung 2014. Acaranya di TPI Lempasing dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Lampung, Bakhtiar Basri.” seorang kawan memberitahu saya lewat grup whatsapp, Sabtu (29/11/2014).

“Pergi aah, pasti banyak hal menarik yang bisa difoto.” Saya bergumam dalam hati. Saat itu juga saya langsung menelpon Budhi Marta Utama, siapa tau dia mau ikutan. Jarang ada acara wisata Lampung yang berhubungan dengan bahari, apalagi sepertinya acara ini bakal meriah.

Baca ini juga yahh: 7 Alasan Jalan-jalan (Hanya) di Daerah Sendiri

Minggu, (30/11/2014) pukul 09:00, saya dan Budhi Marta sudah tiba di TPI Lempasing. Pelabuhan tampak ramai pagi itu. Banyak perahu nelayan yang dihias berbagai macam bentuk bendera dengan berbagai warna meriah. Sebagian ibu-ibu dan anak-anak sudah menaiki perahu itu, walaupun acara belum dimulai.

warga ikut meramaikan festival budaya maritim
Banyak warga yang ikut meramaikan Festival Budaya Maritim ini.

Sebagian lagi, tampak sibuk dengan aktivitas yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Menurunkan ikan hasil tangkapan, mempersiapkan kapal yang akan berangkat disewa sekelompok orang yang hobi memancing di tengah laut.

Sedangkan sebagian besar warga sekitar berkumpul di bawah tenda, dengan panggung di depannya dan seperangkat sound system, bersiap-siap mengikuti acara pembukaan Festival Budaya Maritim 2014 ini.

Festival Budaya Maritim, Pesta Laut & Syukuran Nelayan Teluk Lampung 2014 ini, diprakarsai oleh Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Lampung, kerjasama dengan Pemerinta Provinsi Lampung, Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Perhimpunan Nelayan Seluruh Indonesia Lampung.

Melihat yang terlibat di sini, saya menganggap kegiatan ini sangatlah potensial untuk menarik wisatawan datang ke Lampung, bukan acara yang sekedar menyenangkan ‘beberapa orang’ saja. Asal dikemas menarik dan menghibur rakyat serta wisatawan, yakin acara seperti ini bakal ramai didatangi. Benar ga? 😉

wagub bakhtiar basri - Festival budaya maritim
Wagub Bakhtiar Basri menyaksikan kapal-kapal nelayan dari buritan kapal.
Dikawal oleh kapal Puhawang milik Angkatan Laut
Dikawal oleh kapal Puhawang milik Angkatan Laut

Setelah acara dibuka oleh Wakil Gubernur dan perwakilan dari Pemkot Bandar Lampung, pukul 11:00 perahu-perahu mulai melepas tambat dan menjauhi dermaga. Saya memilih untuk ikut rombongan Wakil Gubernur yang menaiki ‘kapal Puhawang’ milik AL bernama dan ambil posisi di lantai atas kapal. Kami bukan berharap dapat fasilitas dan makanan enak ya, tapi mau mencoba keberuntungan berburu foto dari angle yang berbeda. Sedangkan Budhi Marta memilih ambil posisi di bagian bawah, juga dengan pemikiran mendapatkan sudut yang berbeda.

Banyak juga nelayan, keluarga nelayan, dan masyarakat sekitar Lempasing kota Bandar Lampung yang datang ke acara ini.  Bahkan mereka antusias naik ke perahu-perahu nelayan untuk ikut ke tengah laut.

Banyak warga ikut meramaikan Festival Budaya Maritim 2014 ini.
Banyak warga ikut meramaikan Festival Budaya Maritim 2014 ini.
semua gembira
Semua gembira 🙂

“Salah satu poros maritim adalah nelayan. Mari kita gelorakan budaya maritim untuk mengembalikan Kejayaan kita sebagai negara maritim. Ajak Danlanal Lampung Kol Laut (p) Suharto dalam sambutannya.

Sedangkan Wakil Gubernur Bakhtiar Basri, mengajak Pemerintah Kota Bandar Lampung, Lanal dan stakeholder lain yang terkait untuk bekerjasama mengembangkan acara Festival Maritim ini. “Kuncinya, kita harus bekerja bersama-sama,” tegas Bakhtiar Basri.

Acara pesta laut dan syukuran nelayan dilaksanakan hingga sekitar Pulau Tangkil. Tidak terlalu lama, tetapi bagi saya cukup seru dinikmati meski kamera yang saya beli di FocusOne tahun 2012 ini sempat diguyur hujan. Yang penting dapet foto dan kamera aman-aman saja 😉

Pertanyaan dalam hati setelah pulang dari acara ini, apakah tahun selanjutnya bakal ada lagi acara serupa yang seru dan banyak warna ini? Saya berharap ada dan lebih banyak mengundang kawan-kawan pehobi fotografi, jalan-jalan dan menulis 🙂

Baca ini: Menjual Lampung Lewat Fotografi

Festival Budaya Maritim 1 Festival Budaya Maritim 2 Festival Budaya Maritim 3

Kalau menurutmu bagaimana kawan?

 


12 Comments

  1. Seru dan berwarna festivalnya. Sangat potensial untuk menarik wisatawan datang ke Lampung. Walau tampaknya hanya ramai2 naik kapal, lalu berlayar ke tengah laut (di tengah laut ngapain?)

    Kenapa 2015 tidak diadakan lagi? Apa ada yang merasa acaranya cuma sekedar menyenangkan ‘beberapa orang’ saja? 😀

    Kalau festivalnya diadakan lagi, aku mau datang. Asik buat jalan-jalan, sambil moto-moto, lalu jadi tulisan he he

    • seru meski cuma sebentar dan tidak ada apa2 selain selametan yang ga sempat aku foto karena kapal yang aku naiki terlalu kencang jalannya 😀
      kenapa harus nunggu ada festival untuk datang sih kak?? 😀

    • ihh ngeri amat oom sampe ada yang kecelakaan gitu.
      mudah2an ga terjadi lagi di semua festival laut di Indonesia ya..

  2. Waktu FTS 2014 nyaris mau melihat selamatan laut para nelayan Kota Agung. Sayangnya gak sempat karena acaranya Om Hanung juga padat. Pesta syukuran nelayan seperti ini sepertinya diadakan oleh seluruh warga nelayan di sepanjang Pantura..Sayang belum satu pun yang dikemas sebagai pesta budaya ya, Mas..
    Atau mungkin lebih baik seperti itu, meninggalkan nelayan dengan tradisi mereka tanpa harus dicampuri urusan pariwisata?

    • Bertahun-tahun lalu di sepanjang Pesisir Barat Sumatera juga ada kebudayaan selametan para nelayan. Tergerus zaman dan pemahaman agama akan kebudayaan tersebut dari masyarakatnya itu sendiri bu Evi.
      Pernah bincang2 dengan seorang antropolog yang kebetulan singgah di Lampung, bahwa budaya itu dinamis tidak kaku. Mungkin akan ada bentuk lain yang serupa dengan selametan itu yang bisa kita ‘jual’ sebagai produk pariwisata 🙂

  3. Iya. Karena budaya produk manusia. Ketika manusianya berubah budaya juga berubah. Tapi ada masanya orang-orang ingin kembali ke masa lalu. Sekedar mencecap romantisme-nya atau bertujuan pendidikan. Saat generasi muda nelayan sudah makmur dan mapan mereka akan mengingat tradisi moyang yang agung. Salah satunya mungkin akan lahir museum seperti Museum Transmigrasi Lampung 🙂

    • Nah itu dia bu Evi.
      Sebelum budaya itu hilang, pelaku budayanya yang harus kita selamatkan dulu. minimal cerita2nya bisa kita rekam untuk diceritakan kembali. Beberapa budaya harus kuasai teknologinya, seperti ada pembuatan kain tertentu yang ternyata kita tak bisa menirunya saat ini.
      Kapan-kapan aku ajak ke Museum Lampung ya bu Evi, banyak cerita menarik di sana 🙂

Comments are closed.