Animo dan Beberapa Masalah Wisata Teluk Lampung

“Malam om, Saya Heru. Boleh ganggu malamnya bentar ndak. Mau minta pendapatnya tentang tingginya animo wisatawan luar ke pantai Lampung di long weekend”. Demikian pesan singkat yang saya baca tadi malam, Sabtu (26/03/2016) dari mas Heru.  Mas Heru itu wartawan Tribun Lampung, yang hendak minta pendapat saya tentang animo wisawatan di beberapa tempat wisata di Lampung, khususnya wisata bahari Teluk Lampung.

Ternyata sebelum SMS, mas Heru terlebih dahulu telpon saya dua kali, dan tidak saya angkat.

“Maaf mas Heru HP saya setting silent, jadinya ga dengar deh”
“Ooh, lagi santai ya dengan keluarga”
“Ga juga. pas kebetulan lagi di rumah aja”, jawab saya santai.
“Apa nih yang bisa dibantu?”

“Begini oom, tadi ada kawan wartawan yang pergi ke salah satu pantai di Lampung, yaitu pantai Mutun. Saat pulang ke Bandar Lampung, macetnya lumayan deh.” Begitu kira-kira pertanyaan dari mas Heru yang ingin mengangkat kemacetan di beberapa tempat wisata bahari di Lampung yang terletak di kabupaten Pesawaran itu.

(Baca juga: Pesta Laut dan Syukuran Nelayan Teluk Lampung)

Nah Sebelum saya kasih link hasil wawancara mas Heru, saya juga mau nulis-nulis nih tentang pariwisata Teluk Lampung. Simak ya…
Kalau mau langsung baca yang mas Heru rangkai, bisa lihat link di akhir artikel ini 😉

Farhan di Tanjung Putus

Tanjung Putus

Yopie Pangkey

Ramainya Parkiran di Ketapang
Oooh, jadi masalah pariwisata Lampung ini yang hendak dibahas. Jawab saya dalam hati. Kebetulan, satu bulan lalu saya juga melewati jalur ini, Teluk Betung – TPI Lempasing – Mutun – Hanura – Ketapang – Pantai Klara. Yang membuat saya tertegun adalah saat saya melintasi Ketapang. Di sana banyak sekali mobil parkir di pinggir jalan sebelum tikungan yang terdapat pos penjagaan milik Angkatan Laut. Saya hitung cepat, paling tidak ada sekitar 40 sampai 50 mobil di halaman yang sekarang difungsikan sebagai tempat parkir, plus mobil-mobil yang parkir di tepi jalan. Luar biasa.

Itu baru yang parkir di luar, bagaimana keadaan di dalam kalau kita belok kiri (dari arah Bandar Lampung). Kebayang deh padatnya. Pasti banyak juga kendaraan roda empat dan roda dua yang parkir di tempat-tempat yang memang sudah disiapkan oleh warga setempat.

Mereka yang parkir kendaraan di Ketapang ini adalah para wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut di perairan sekitar pulau Kelagian Besar, Kelagian Kecil, Pahawang, dan Tanjung Putus. Agak jauh sedikit ada 3 (tiga) pulau yang berdekatan, yaitu pulau Balak, Lok, dan Lunik. Tetapi kebanyakan mereka berkunjung ke Pahawang dan Kelagian.

Saat saya masih aktif bikin paket wisata snorkeling tahun 2012an, di hari Sabtu dan Minggu masih kehitung mobil yang parkir untuk menyeberang ke pulau-pulau itu. Dalam waktu 2 sampai 3 tahun pulau-pulau itu semakin terkenal rupanya. Berkat para pegiat media sosial yang pernah mampir di sini.

Pantai Mutun
Pengunjung pantai Mutun yang kebanyakan adalah keluarga yang membawa serta anak-anaknya. Di pantai ini pengunjung ingin bersantai di tepi pantai, di gubuk-gubuk yang disediakan pengelola pantai, makan jajanan yang banyak tersedia. Atau menyeberang ke pulau Tangkil yang sangat dekat dengan pantai. Juga ada wisata parasailing dan banana boat di sini.

Nah masalahnya adalah, saat sore pulang biasanya di jalan masuk/keluar akan terjadi kemacetan. Di hari libur terntentu seperti tahun baru dan lebaran, macetnya bisa mencapai 2 (dua) jam. Dan berangsur-angsur lancar saat memasuki waktu magrib.

Pantai Sari Ringgung
Pantai yang lumayan baru dibagusi oleh pengelolanya ini agak jauh masuknya dari jalan utama. Banyak bagan milik pengusaha ikan. Ada masjid terapung yang menjadi daya tarik tambahan pantai Sari Ringgung. Selain itu ada pulau Tegal yang bisa ditempuh dalam 30 menit bagi yang hobi snorkeling. Di sekitar pulau juga ada beberapa spot selam yang sering dikunjungi penyelam asal Lampung dan Jakarta.

Pantai Kelapa Rapat (Pantai Klara)
Pantai milik angkatan laut ini pada awalnya adalah pantai yang terbuka. Namun sejak beberapa tahun lalu akhirnya dijadikan pantai wisata berbayar oleh koperasi Angkatan Laut. Karena kawasan ini memang dimiliki oleh Angkatan Laut. Jika liburan banyak sekali pengunjungnya, baik dari Lampung maupun luar Lampung.

Di pantai Klara ini banyak sekali perahu taksi yang bisa mengantar wisatawan untuk menyeberang ke pulau Kelagian. Beda dengan perahu di Ketapang yang sewa harian, di pantai Klara perahu hanya mengantar kita lalu pergi kembali ke Klara untuk mencari penumpang lain. Sewanya pun lebih murah dibanding di Ketapang.

Macet yang Kadang-kadang Parah
Yang menjadi masalah itu adalah saat menjelang sore, dimulai dari sekitar pukul 15:00, saat para wisawatan dari semua pantai itu ingin kembali pulang ke Bandar Lampung. Dari Pantai Klara dan Ketapang, arus jalan masih lancar. Saat melewati pintu masuk pantai Sari Ringgung, arus mulai agak padat lancar di jalan yang lumayan sempit untuk ukuran daerah yang sudah terkenal sebagai daerah wisata bahari ini. Dan puncak kemacetan adalah menjelang pintu masuk Pantai Mutun.

Sekali waktu, seorang kawan pernah ketinggalan pesawat karena kemacetan di sekitar pintu masuk Pantai Mutun ini. Saat itu kami pulang setelah menghabiskan waktu malam tahun baru di Teluk Kiluan. Seorang kawan yang sudah booking tiket pesawat harus merelakan tiketnya hangus karena tidak mungkin mengejar jadwal checkin 🙁

Macet di daerah ini berangsur pulih saat memasuki waktu Magrib. Setelah Magrib lalu lintas sudah lancar kembali.

Transportasi
Bagaimana transportasi ke pantai-pantai tersebut? Terus terang saya masih bingung kalau hendak pergi ke pantai-panati tersebut. Kalau Pantai Mutun masih agak dekat. Sepertinya ada angkutan umum yang melewatinya, dan ada tersedia ojek di pintu masuknya. Kalau ke Ketapang dan Kelapa Rapat, saya masih belum tahu persisnya.

Sebenarnya ini peluang bagi pengusaha angkutan, saat masih kosong itu kan peluang untuk kita memulai usaha. Tapi saya belum tahu ilmu angkutan, bagusnya yang mengerti
yang kasih komentar 🙂

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan di akun twitter @kelilinglampung yang saya kelola, bagaimana caranya untuk mencapai tempat-tempat itu. Lebih baik saya retweet saja dan berharap ada orang lain yang membantu saya menjawabnya 🙁

Sampah
Nah ini yang sedikit “tricky”. Memang harus kita akui semakin banyak wisatawan, pasti akan semakin banyak meninggalkan sampah. Taruhlah para wisatawan tidak membuang sampah sembarangan di laut. Mereka bawa pulang sampahnya sampai di pantai tempat mereka parkir mobil. Di sanalah mereka menitipkan sampahnya. Pertanyaannya, akan dikemanakan sampah-sampah itu oleh warga di sekitar tempat wisata itu?

Dan kalau kamu menyempatkan datang ke pulau Maitam yang sudah mulai ramai juga. Coba lihat sampah apa saja yang ada di sana. Kalau menurut yang saya lihat, di sana banyak sekali sampah rumah tangga bukan sampah dari wisatawan. Mulai dari plastik sabun deterjen, bungkus sabun mandi, sandal, sepatu, dan lainnya. Mungkin saja sampah-sampah itu berasal dari rumah kita di kota yang dibuang sembarangan. Terbawa arus kali, dan akhirnya masuk ke lautan dan akhirnya terbawa arus dan sampai di pulau itu. Bisa saja bukan?

Dan kalaupun kita bergotong royong saat ini di pulau itu, perlu berapa orang untuk membersihkannya. Dan berapa lama bakal tetap bersih? Karena bakal ada sampah lain
yang datang terbawa arus.

Namun demikian hal ini bukanlah pembenaran bagi kita untuk berdiam diri. Minimal diri kita tidak membuang sampah sembarangan. Dan yang paling penting, semua stakeholder terkait sampah harus duduk bareng dan membuat rumusan terkait sampah ini.

Harga
Yang sering jadi pertanyaan dalam hati saya adalah harga sewa perahu di pantai Sari Ringgung dan Ketapang. Beberapa kali kesana, harga sewanya bisa beda antar pemilik perahu. Kita ambil contoh Ekowisata Kiluan yang sudah dimulai dari beberapa tahun lalu. Mereka kompak membuat perangkat desa yang aktif di pariwisata. Membuat peraturan desa mengenai harga sewa jukung. Bukan hanya harga jukung, harga sekali makan pun kompak di Teluk Kiluan. Bagusnya lagi, siapapun yang datang tidak perlu kawatir harga berubah-ubah. Baik lokal maupun mancanegara bakal dikenai harga yang sama.

Bagaimana dengan sewa perahu di Ketapang, dan Pantai Sari Ringgung? Ini perlu kerjasama antarpihak juga. Jangan sampai wisatawan kapok untuk datang karena dipatok harga mahal yang tidak seperti biasanya. Perlu ada regulasi yang mengatur jangan sampai pemilik perahu rugi dan wisatawan kapok. Perlu kesadaran banyak pihak.

Tempat wisata di lampung - pantai lampung - wisata lampung - pulau kelagian - yopie pangkey

Pantai di Pulau Kelagian (@yopiefranz)

Lampung Akan Bangun Pelabuhan Wisata
Bersyukurnya kita, Pemprov Lampung sudah melihat masalah ini. Terutama masalah transportasi dan macet menuju pantai-pantai yang saya sebut di atas. Yang saya tahu, Pemerintah Provinsi Lampung berencana membangun pelabuhan pariwisata di Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung, tepatnya di Gunung Kunyit. Mengenai anggaran, pembangunan ini juga melibatkan Pemkot Bandar Lampung karena pembangunannya ada di wilayah kota Bandar Lampung. (http://harianlampung.com/index.php?k=investasi&i=1781-lampung-akan-bangun-pelabuhan-wisata)

“Salah satu yang akan difokuskan, yaitu pengembangan dermaga pariwisata. Kalau dermaga sudah dibangun, maka akses menuju tempat wisata semakin dekat. Dermaga ini juga untuk efisiensi waktu, bagi wisatawan luar,” jelas Kepala Bappeda Provinsi Lampung Taufik Hidayat, pada Senin (29/02/16). (http://otomindo.com/34/pemprov-lampung-bakal-kembangkan-dermaga-wisata)

Berita terkait:
http://www.duajurai.com/2015/02/pemprov-lampung-kembangkan-eks-dermaga-sukaraja-jadi-pelabuhan-wisata/
http://lampung.tribunnews.com/2015/02/16/pemprov-dan-pemkot-kolaborasi-bangun-pelabuhan-eks-sukaraja

Saya sih berharap, pelabuhan tersebut selesai di waktu yang tepat. Sehingga masalah transportasi dan macet bisa segera teratasi. Sehingga pemerintah bisa pikirkan masalah-masalah lainnya untuk diselesaikan.

Nah, kalau kamu mau baca hasil wawancara mas Heru dari Tribun Lampung tadi malam, bisa baca di sini: Mimpi Wisata Lampung Oke? Benahi Kemacetan, Sampah, Hingga Kenyamanan Wisatawan
Semoga bermanfaat.

Bagaimana kalau menurutmu?