Festival Gerhana Matahari Total di Jembatan Ampera

Warga kota Palembang dan wisatawan yang sedang berkunjung di kota itu bangun lebih awal hari Rabu (09/03/2016). Sebagian langsung menuju salah satu tempat wisata ngehits di Palembang,Β Jembatan Ampera, sebagian melaksanakan sholat Subuh terlebih dahulu di Masjid Agung. Sebagian lagi mencari tempat-tempat lain yang leluasa untuk melihat ke arah Timur langit. Mereka ingin menyaksikan kejadian langka di planet bumi berupa Gerhana Matahari Total.

Bangun Pagi?

Saya sendiri sudah terbangun sejak pukul 03:30, di bunyi alarm ketiga yang diatur di HP. Alarm pertama dan kedua sepertinya tidak berhasil membangunkan saya. Tidur terlalu nyenyak setelah kelelahan banyak jalan kaki malam sebelumnya untuk mencari tempat makan kue khas kota Palembang. Andai tak ada Gerhana Matahari, tentu bakal lanjut tidur lagi πŸ˜€

Masih ngantuk.

Mata merah masih ngantuk.

Sudah bangun dan masih ngantuk, ada sedikit pikiran sejak bangun awal pagi ini. Terutama tentang lokasi untuk mengamati Gerhana Matahari Total. Apa Jembatan Ampera itu lokasi paling tepat buat saya, atau ada tempat lain yang lebih menarik. Tetapi sudah saya putuskan untuk tetap ke Jembatan Ampera, apalagi saya sudah mendapatkan “pass Media” untuk masuk jembatan yang dengar-dengar tidak semua orang bisa masuk.

Tanpa filter memadai, saya tidak mungkin memotret matahari secara langsung. Lebih baik memotret suasana kemeriahan Festival Gerhana Matahari Total ini saja yang tidak bisa dirasakan di Lampung.

(Jadi ingat Warna-warni PawaiΒ Budaya Festival Krakatau 2015 )

Belakangan saya baru tahu bahwa, beberapa kawan fotografi Palembang justru tidak berada di jembatan. Mereka sudah mengincar tempat strategis pastinya. Sedangkan Rossie Zen, kawan fotografer satu perjalanan dari Bandar Lampung, mendapat akses memotret di rooftop kantor Walikota Palembang hasil dari lobi melobi antar kawan fotografer.

Kami di kalangan fotografer memang suka begitu. Ada sifat egois yang khas, tidak mau hasil fotonya sama dengan rekan fotografer kebanyakan. Dan itu sudah sama-sama dimaklumi. Tidak ada rasa benci, dendam, dan iri. Keculai iri positif kalau kawan lain mendapat foto bagus. Dan saat menulis ini, saya iri mereka bisa mendapatkan foto-foto bagus proses Gerhana Matahari Total πŸ™‚

Menuju Jembatan Ampera

Singkat cerita, saya sudah berjalan kaki dari depan pintu masuk Benteng Kuto Besak (BKB) menuju Jembatan Ampera bersama para warga dan juga rombongan blogger undangan acara Festival Gerhana Matahari Total. Memasuki Jembatan, melewati deretan foodtruck yang sengaja didatangkan untuk meramamaikan festival. Pukul 05:00 sudah berada di tengah Jembatan Ampera yang masih agak sepi.

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 3 Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 4

Di tengah jembatan, di bagian yang menghadap Timur diisi dengan meja-meja untuk undangan. Sedangkan di sisi yang menghadap Barat terdapat panggung kecil untuk perform beberapa penampil selama acara Festival berlangsung.

Oleh panitia saya diajak duduk bersama para blogger undangan, karena banyak yang saya kenal di antara mereka. Sama seperti kawan saya Rossie Zen, terkadang untuk urusan tertentu seperti menikmati suasan GMT ini, kita perlu kenal beberapa orang πŸ™‚

Terima kasih mbak Elli, mbak Ira, mas Rudi, bung Joni, Katerina, mas Sutiknyo, mas Cumi, dan lain-lain, yang menyilakan saya untuk bergabung di meja undangan.

(Baca juga: Geliat Ekonomi Komunitas Media Sosial)

Kalau hanya duduk menunggu saja ya ga bakal seru. Mengeluarkan kamera, saya berjalan di sekitar tempat duduk. Banyak juga yang mendatangi Jembatan Ampera, mulai dari anak-anak balita sampai yang sudah berumur, laki perempuan, sendiri dan beramai-ramai. Dan beberapa muka tampak sekali baru bangun tidur yang sepertinya belum mandi berjalan di sekitar. Eh, memang saya sudah mandi …? πŸ˜€

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 6

Banyak keluarga yang mengajak serta anak-anak mereka.

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 5

“ngopi dulu mblo, biar nikung g’ ngantuk”

Ada juga beberapa booth makanan dan minuman di sisi Barat jembatan. Tapi yang paling menarik perhatian tentu saja booth yang menyediakan kopi.

“Mau coba kopi Sumendo bang?”
“Boleh” πŸ˜€

Dan kopi Sumendo ini menjadi minuman pertama yang saya seruput pagi itu. Segar..!!

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 7

Segelas kopi ini yang menemani saya selama proses GMT berlangsung.

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 18

 

Setelah itu, saya merapat ke sisi jembatan yang menghadap Timur. Di bagian ini saya lihat banyak pewarta foto dan juga pehobi foto seperti saya. Mereka sudah menyiapkan tripod sebagai dudukan kamera untuk merekam proses Gerhana Matahari Total. Juga ada sekelompok (yang sepertinya) mahasiswa yang sedang mempersiapkan alat-alat astronomi. Mereka pastinya lebih serius mengamati GMT daripada saya yang hanya ingin menikmati suasana langka ini.

Kembali ke bagian meja-meja tamu undangan. Saya melihat beberapa muka yang sering saya lihat baik melalui televisi maupun di media cetak dan online. Sudah tentu sebagai tuan rumah Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin ada di situ. Nampak juga Walikota Palembang Harnojoyo, mantan Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, dan Ketua DPP partai Golkar Titiek Soeharto.

Festival Gerhana Matahari Total - Jembatan Ampera - Yopie Pangkey - 8

Di sekitar saya, para blogger juga antusias menikmati suasana jembatan Ampera. Mereka terlihat berfoto selfie, foto beramai-ramai dan saling berinteraksi satu sama lain. Di dekat saya, Katerina, sibuk sekali dengan kameranya. Selain memotret sana-sini, saya lihat dia juga mewawancara warga yang hadir dan sebagai penutup mewawancara secara eksklusif Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga.

Saat saya berkeliling, tiba-tiba ada yang menegur dari belakang.
“mas Yopie ya..?!”
“Iya”, saya jawab sambil penasaran melihat siapa yang menyapa.
“Astaga, Apri dan Rinda,” bertemu kembali di Jembatan Ampera πŸ˜€

Seru, ternyata saya bertemu dengan dua orang kawan, Rinda dan Apri, yang pernah jalan bareng ke pulau Pahawang dan Kelagian beberapa tahun lalu. Tunggu apa lagi, kami bertiga pun foto-foto bareng untuk kenang-kenangan. Pepatah ‘dunia tak selebar daun kelor’ sepertinya berlaku untuk kami bertiga saat itu πŸ˜€

Setelah itu saya kembali ke meja. Di situ sudah ada seseorang yang berdiri di bangku yang saya duduki. Ternyata seseorang dari Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang akan menjelaskan fenomena GMT dari sisi ilmiah kepada seluruh yang hadir di Jembatan Ampera melalui pengeras suara.

Proses Gerhana Matahari Total, Pengunjung Padati Jembatan Ampera

Asik menikmati suasana ramai dan seru di Jembatan Ampera, saya kurang memperhatikan Jembatan semakin sesak. Pukul 06:20, saat proses gerhana dimulai saya baru sadar kalau sekeliling saya sudah sangat ramai. Banyak orang sudah berdiri di samping meja saya yang dibatasi oleh tali.

Mereka sangat antusias sekali untuk bisa menyaksikan GMT yang belum tentu bisa dialami lagi seumur hidup mereka. Tak tega rasanya kalau saya menghalangi pandangan mereka. Jadi hanya sesekali saja saya menaiki bangku dan meja untuk mendapatkan beberapa scene dari action camera yang saya bawa. Sisanya, saya banyak berdiri di bawah, sesekali memutar badan untuk melihat sekitar.

Matahari tertutup awan dan asap pabrik

“Itu asap pabrik atau awan?” Pertanyaan itu terdengar berkali-kali di sekililing saya. Awalnya saya yakin itu hanya awan. Tetapi saat diperhatikan seksama itu adalah asap yang keluar dari cerobong pabrik PT. PUSRI.

Sesekali terdengar celetukan dan guyonan dari pembawa acara tentang asap ini. Dan juga mengajak berdoa bersama-sama agar asapnya menghilang sementara waktu saat GMT berlangsung πŸ˜€

Saya dalam hati berpikir, tidak mungkin sepertinya perusahaan besar itu menghentikan sementara aktivitas pabriknya. Dan benar, seseorang menjelaskan ke saya tak lama kemudian. Kalau mereka menghentikan sementara aktivitas mesin pabrik, untuk memulai lagi paling tidak membutuhkan 17an jam untuk memanaskan kembali mesin pabrik. Sama seperti pabrik-pabrik lain pada umumnya.

Sejak berangkat dari Lampung saya memang tidak niat memotret proses GMT secara khusus, jadi tidak terlalu kawatir dengan awan dan asap tersebut. Yang saya cari adalah suasana. Ya, suasana kemeriahan Festival Gerhana Matahari Total di atas Jembatan Ampera. Dan yang paling penting adalah bisa menikmati dengan mata kepala sendiri suasana gelap GMT ini.

Kamera DSLR sudah saya setting untuk merekam timelapse degan hasil 10an detik saja. Dan sisanya saya benar-benar enjoy ada di tengah-tengah jembatan Ampera bersama tamu-tamu undangan dan ribuan masyarakat Palembang yang hanyut dengan fenomena alam yang jarang terjadi ini.

Lihat foto-foto lain di album flickr saya:

Festival Gerhana Matahari Total

Suasana yang luar biasa ajaib, bakal jadi kenangan saya seumur hidup.

A photo posted by yopie pangkey (@yopiefranz) on

Apalagi tidak semua masyarakat Indonesia bisa menyaksikan gerhana matahari total ini secara langsung. Menurut info dari BMKG, hanya 11 provinsi yang dilintasi oleh gerhana matahari total. Ke-11 provinsi tersebut adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Acara ini juga diramaikan dengan tiupan saxofon, pertunjukan perkusi, airshow oleh komunitas Palembang drone.

Sungguh beruntung orang-orang yang bisa menyaksikannya dan mengambil hikmah dari kejadian ini. tsaaah, gaya banget.. πŸ˜€

“Telah kita saksikan Gerhana Matahari Total. Mudah-mudahan ini menjadi edukasi yang luar biasa. Bagi seluruh warga Sumatera Selatan, untuk selalu tetap bersyukur dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.” Ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumsel, ibu Irene Camelyn Sinaga.

Kamu punya pengalaman tersendiri saat Gerhana Matahari Total (GMT) kemarin?