Keseruan Yang Bisa DiLakukan Sebelum Menuju Teluk Kiluan

Entah sudah berapa kali mengunjungi Teluk Kiluan, sebuah tempat wisata di Lampung, yang memiliki pulau dan pantai indah. Beberapa kali menggunakan motor untuk berburu foto, beberapa kali urusannya mengantar tamu untuk nambah-nambah isi celengan. Pernah juga datang bersama kawan-kawan penggiat Yayasan Ekowisata Teluk Kiluan yang selalu aktif mendampingi warga dalam menggalakkan ekowisata di teluk kecil ini. Sekali datang sebagai juri lomba desa wisata se-Lampung bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung.

Dan setiap kali ke Teluk Kiluan selalu saja membawa cerita baru tanpa ada rasa bosan. Selalu ada keinginan untuk kembali. Keinginan menikmati suasana sepi, keindahan pantai berpasir halus dan berkarang, dan pastinya keinginan untuk melihat ribuan lumba-lumba di tengah laut di luar teluk. Beberapa kali beruntung melihat ribuan lumba-lumba. Beberapa kali hanya melihat puluhan. Bahkan pernah beberapa kali tidak bertemu sama sekali. Namanya juga hewan liar yang tidak bisa kita buat janji untuk ketemuan.

Beberapa kunjungan tersebut ada yang saya ceritakan di blog, beberapa kunjungan hanya saya share foto-fotonya saja di Facebook dan Twitter. Dan sebagian lagi cukup disimpan di dalam hati. Karena seringkali keindahan itu cukup dirasakan oleh indera penglihatan dan pendengaran saja, tanpa kamera.

(Sudah baca ini? Menjual Lampung Lewat Fotografi)

Dan di akhir pekan ke-empat bulan Febuari 2016, saya kembali mengunjungi Teluk Kiluan. Sabtu dan Minggu (27-28/02/2016), dua hari yang ternyata sepi di teluk kecil ini. Berasa seperti tinggal di cottage dan pantai pribadi. Hanya 1 grup kami yang menginap di cottage milik Maimun yang menghadap arah Barat dan pulau Kelapa.

Berawal dari Foto
Kunjungan kedua di 2016 ini berawal dari beberapa foto yang diposting di instagram. Dibagikan juga di akun Facebooknya, dari situ beberapa kawannya ternyata menghubungi dan meminta untuk dibuatkan trip.

Langsung menghubungi di chat WA, saya pun segera lihat jadwal. Tanggal 28 dan 29 Februari pun ditentukan.  Semua sepakat.

Ini foto saya yang diambil beberapa tahun lalu

Memang ya, foto yang beredar di media sosial itu bisa menyebar dengan cepat. Jadi ingat saat ke pulau Pisang tahun 2012. Seminggu setelah pulang saya upload beberapa foto di blog. Tak lama kemudian langsung muncul thread di salah satu komunitas besar jalan-jalan Indonesia yang mengajak jalan bareng ke pulau Pisang. Dan thread itu menggunakan foto-foto saya. Baik hatinya mereka, masih ada tulisan foto oleh @kelilinglampung 🙂

Pesawat Pagi
Pagi itu sedari subuh, grup WA kami berisi 7 orang sudah mulai ramai notifikasi. Saling menanyakan posisi untuk memastikan bisa sama-sama sampai di terminal keberangkatan bandara Soekarno-Hatta. Tapi seperti ada yang kurang pagi itu. Mbak Andrie tak muncul di percakapan, sampai tiba waktunya boarding dan take-off.

Ternyata, mbak Andrie masih di perjalanan Bandung – Soekarno Hatta. Dan saat saya chat japri, masih berada di sekitaran Bekasi. Kami pun mencoba mencari alternatif penerbangan lain yang kemungkinan masih bisa terjangkau.

Bakso Sony dan Taman Kupu-kupu
Sembari menunggu kabar kepastian penerbangan, saya dan kawan-kawan yang sudah tiba di Lampung memutuskan untuk mampir di Bakso Sony Labuhan Ratu. Lumayan untuk mengisi perut pagi hari sembari mencari-cari info tiket pesawat yang ada.

Hangatnya bakso dan kuahnya begitu menyegarkan rasanya. Kalau tidak bersama kawan-kawan ini, mungkin saya sudah memesan satu mangkuk tambahan. Maklum saja, ukuran perutnya beda 🙂

Sementara waktu terus berjalan, setelah masing-masing menghabiskan seporsi bakso kami melanjutkan perjalanan ke Taman Kupu-kupu Gita Persada. Dari Bakso Sony Labuhan Ratu, saya memilih rute melewati jalan ZA. Pagaralam – jalan Pramuka – Perum Langkapura – SLB / SMAN 7 – Jalan Wan Abdurrahman Kemiling – Taman Kupu-kupu Gita Persada.

Di taman ini, kami tidak berlama-lama. Cukup memasuki museum kupu-kupu yang berbentuk rumah kayu panggung. Keliling taman, dan masuk ke penangkaran kupu-kupu di tengah taman. Di penangkaran ini, kami banyak motret dan merekam video. Juga mencoba untuk memegang ulat calon kupu-kupu, yang ternyata tidak membuat kulit kita gatal saat menyentuhnya.

Dan tentu saja, sesi foto itu harus. Satu-satu saya foto mereka di sebuah rumah pohon yang tidak begitu tinggi 🙂

Pindang Kepala Simba RM Ika
Dan akhirnya waktu untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh, masih 3 jam lagi menempuh jarak sekitar 80 km. Jam sudah melewati pukul 11:00 saat kami menaiki mobil. Perut yang tadinya terisi bakso pun sepertinya sudah minta diisi lagi.

Memasuki wilayah kabupaten Pesawaran, saya memberhentikan mobil di depan RM Ika yang berada tepat di pasar Hanura. Rumah makan yang beberapa kali saya hampiri saat bersama kawan/tamu yang ingin ke Kiluan.

Di rumah makan ini, menu utamanya adalah pindang ikan kepala simba. Pesan satu porsi untuk makan bersama dengan 5 wanita yang senang jalan-jalan, tetap saja saya yang harus menghabisi kepala ikan simba berukuran besar itu. Terakhir kemari bareng 3 kawan laki-laki, satu porsi itu kurang banget 😀
(Kapan-kapan akan saya bahas khusus RM ini)

Pantai Kelapa Rapat (Klara)
Dari Hanura menuju Pantai Kelapa Rapat, kendaraan saya kemudikan dengan perlahan. Tak enak harus terguncang-guncang dengan perut yang baru terisi. Tak sampai 30 menit kami sudah melewati pantai rakyat Kelapa Rapat, atau biasa disebut pantai Klara. Sebuah pantai yang dikelola oleh koperasi Angkatan Laut.

Setelah Pantai Klara ada pantai dengan jalan aspal di tepiannya. Ada beberapa pohon yang bagus untuk berfoto-ria. Terik panas matahari (13:00) tidak menyurutkan semangat kawan-kawan untuk berpose di depan kamera. Bahkan loncat berkali-kali pun dilakukan untuk sebuah hasil foto. 30 menit pun terasa singkat, kalau saat teduh mungkin bisa saja kami berhenti 1 jam lebih di situ.

Pikir-pikir, belum sampai Kiluan saja sudah banyak foto, apalagi sudah sampai di sana ya..?? 😀

Jalan di tepi pantai. (Foto: @travelerien)

Jalan di tepi pantai. (Foto: @travelerien)

Tapi setelah pantai ini menuju Kiluan, saya sudah yakin satu mobil ini bakal ngantuk dan tertidur semua dan tidak ada berhenti-berhenti. Bakal bangun lagi saat memasuki jalan berbatu dan berlubang di sekitar 20an kilometer terakhir. Tapi paling tidak saat ini sudah lebih banyak nyamannya dibanding 4 tahun lalu. Perbaikan jalan sudah selesai di beberapa titik, dan masih akan diteruskan di tempat lain tahun 2016 ini.

(Baca: 7 Alasan Jalan-jalan di Daerah Sendiri)

Tiba di Kiluan
Tiba di rumah saudaranya Maimun dekat lapangan bola di Kiluan Negeri sekitar pukul 16:00. Kami diarahkan untuk ke cottage yang mereka kelola. Menuju cottage-nya harus dengan jukung (perahu kayu kecil) yang sudah disiapkan. Meskipun masih sama-sama di daratan pulau Sumatera, cottage mereka lebih nyaman dicapai dengan jukung daripada dengan berjalan kaki dari dusun Bandung Jaya.

Kami pun bersiap-siap menuju Laguna Gayau. (Bersambung)

Itulah kira-kira yang bisa kita lakukan sebelum sampai di Kiluan. Beberapa wisatawan bahkan memilih untuk snorkeling terlebih dahulu di pulau Kelagian dan Pahawang sebelum melanjutkan perjalanan ke Kiluan dengan menggunakan perahu.

Kamu pernah coba?


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂