Teluk Kiluan Tempat Wisata Seru di Lampung

Sore itu akhirnya kami tiba di salah satu tempat wisata di Lampung, dusun Kiluan Negeri di Teluk Kiluan. Sampai di rumah saudaranya bang Maimun di dekat lapangan bola sekitar pukul 15:30. Di situ saya biasa parkir kendaraan untuk selanjutnya menuju cottage keluarga Maimun dengan menggunakan jukung.

Sebelum sampai di Kiluan, kami terlebih dahulu mampir menikmati Bakso Sony, mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada, makan siang di RM Ika Pindang Kepala Simba, dan foto-foto di tepi pantai setelah pantai Kelapa Rapat (pantai Klara). Perut masih agak kenyang sore itu. Gimana ga kenyang, hampir satu porsi pindang kepala simba saya habiskan saat yang lain kekenyangan. Mau lihat pindangnya? coba cek Keseruan Yang Bisa Dilakukan Sebelum Menuju Teluk Kiluan.

Sampai di rumah di pinggir lapangan bola itu, kami tidak langsung menyeberang ke cottage yang sudah disiapkan. Tuan rumah masih menyiapkan segala sesuatu untuk melayani kami, dua hari Sabtu dan Minggu (27-28/02/2016) . Mulai dari jukung yang akan menyeberangkan kami, bahan bakar genset untuk listrik 2 (dua) hari, makanan, minuman, dan juga kru yang bertugas.

Keseruan Kiluan pun Dimulai
Begitu semua siap, kami segera menuju tepi pantai untuk menyeberang ke cottage. Dan pastinya sebelum naik jukung semuanya sibuk dengan kamera HP dan DSLR masing-masing untuk merekam suasana teluk Kiluan sore itu.

Tiba di pantai cottage Maimun, suasanyanya sepi hanya kami satu rombongan ini, 1 pria 5 wanita. Ada satu rombongan ibu-ibu yang duduk-duduk di pantai, tetapi saat kami tiba mereka segera naik jukung untuk kembali ke tempat mereka akan menginap.

Memang, sebelum menyeberang tadi, saya sudah bertanya kepada Bram (saudaranya Maimun) ada berapa tamu wiken ini. Dan sungguh di luar dugaan saya kalau ternyata wiken ini hanya rombongan kami yang datang di cottage mereka. “Bulan Januari dan Februari memang biasanya sepi bang. Maret nanti mulai ramai, beberapa bahkan sudah booking untuk Maret, April, dan Mei”, begitu penjelasannya Bram.

Teluk Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 5

Menuju Bandung Jaya, lalu trekking menuju Laguna Gayau.

Laguna Gayau
“Kapan baiknya kami ke Laguna Gayau, sore ini atau besok.” Saya bertanya.
“Besok aja bang, setelah dolphin tour” jawab Bram.
“Gimana kalau sore ini aja biar sekalian capek. Besok tinggal santai berenang di depan cottage?”
“Boleh. Tapi sekarang jalan bang, kasih tau yang lain segera siap-siap. nanti kemaleman kita pulangnya”
“OK”

Pukul 16:45 kami sudah menaiki jukung lagi, menuju dusun Bandung Jaya. Dari situ kami akan berjalan kaki menaiki dan menuruni bukit menuju Laguna Gayau. Menurut saya, bukit ini tidak terlalu berat dilalui. Yang penting atur nafas dan jalan perlahan-lahan agar kita bisa sampai puncak bukit, dan berhati-hati saat menuruninya.

Setelah menuruni bukit, akan tiba di pantai yang tak kalah indahnya. Dari situ kita ke arah kanan menyusuri batu karang dan berjalan sejauh sekitar 100an meter di tebingnya yang tidak terlalu tinggi dan curam.

Laguna itu berupa air laut yang terperangkap di sebuah lekukan karang. Air laut masuk saat ombak menerjang karang tersebut hingga masuk ke dalam lekuk karang tersebut. Di bagian terdalam mencapai sekitar 2 meter. Sedangkan di tepiannya sekitar sepinggang orang dewasa. Laguna ini tidak seperti laguna-laguna yang kita lihat di film-film layar lebar ya, kalau kamu penasaran.

Ini foto saya beberapa tahun lalu:

Nah kalau berani nih, kita bisa menaiki bagian karang yang menghadap laut. Agak mengerikan memang. Tetapi  sebenarnya aman-aman saja kalau tidak panik.  Saat ombak besar datang dan menerjang karang, deburan ombaknya akan mendorong kita ke arah dalam, ke dalam laguna. Bukannya menyeret kita ke arah laut. Tetapi tetap harus hati-hati saat menaikinya karena karangnya tajam dan licin.

Tak terasa matahari mulai menghilang tertutup awan di ufuk barat sebelum tenggelam. Puas bermain di laguna, kami berjalan kembali ke Bandung Jaya, untuk kembali ke cottage.

Malam yang senyap
Tiba kembali di cottage, suasana sudah gelap. Lampu-lampu di dalam cottage dan di luar yang di pasang di antara pepohonan sudah dihidupkan. Saat yang lain bergantian bilas di kamar mandi di dalam cottage, saya memilih untuk menyeruput kopi di halaman cottage sambil menghadap laut yang gelap.

Menikmati semilir angin sepoi-sepoi tanpa harus repot membilas badan sehabis berenang di Laguna Gayau. Sudah kebiasan sejak 2012 tak pernah bilas sehabis berenang di laut. Berasa nikmat akan sesuatu yang jarang dirasakan di kota. Berasa liar seperti tarzan (tanpa huruf X) dan bisa menyatu dengan alam. Dan pastinya ada secangkir kopi hangat menemani. tssaaah…

Tak lama kemudian, kami menikmati makan malam gurih ala kampung. Ikan tongkol segar, daun lalapan segar, sambal yang aduhai nikmatnya dan tidak begitu pedas, dan petai mentah. Urusan petai, lagi-lagi saya ga ada lawannya kali ini. Asiiiik.. 😀

Dan setelah makan malam, semua langsung tidur dengan pulasnya di cottage paling besar, lelah trekking naik dan turun bukit menuju Laguna Gayau. Saya mengobrol dulu dengan tuan rumah sambil minum segelas kopi kedua dan terakhir untuk hari itu.

Hujan rintik-rintik berubah menjadi deras, saat saya masuk ke cottage yang lebih kecil yang dipersiapkan untuk saya sendiri. Malam yang sepi tanpa suara kendaraan hilir mudik. Hanya suara hujan dan angin. Malam senyap yang tidak bisa saya rasakan di kota. Hanya ditemani satu lampu yang kemudian saya matikan. Indah banget!!

Tur Lumba-lumba
Menjelang matahari terbit semua sudah bangun, hanya saja masih berada di dalam cottage masing-masing. Segelas kopi dan satu teko plastik teh hangat dihidangkan, membuat kami keluar juga. Pagi itu tidak sarapan dulu, hanya minum dan makan cemilan yang dibeli di perjalanan menuju Kiluan sehari sebelum.

Dua jukung sudah siap mengantar kami ke tengah laut. Angin dan ombak tampak teduh pagi ini. Beberapa rombongan jukung sudah mendahului kami keluar teluk. Meskipun sepi kunjungan, paling tidak ada 20-an jukung ke tengah laut pagi ini mengantar para wisawatan yang ingin melihat lumba-lumba di habitat aslinya.

Namanya hewan liar, kita tidak dengan mudah menjumpainya. Beberapa kali saya kemari, paling tidak butuh satu jam untuk mencari dan bertemu rombongan lumba-lumba. Beberapa bisa dalam 30an menit bertemu, beberapa kali malah butuh dua jam untuk bertemu. Kalau sudah butuh waktu lama dan tidak bertemu, itu namanya apes. Dan itu terjadi ke beberapa tamu Kiluan.

Saat salah satu jukug melihat lumba-lumba, jukung-jukung lain segera tancap gas untuk mendekat. Itu yang terjadi pagi ini. Jukung yang saya tumpangi langsung balik arah mengejar lumba-lumba yang muncul di dekat jukung lain.

Kami tidak cukup beruntung kali ini. Hanya melihat paling banyak 20-an ekor lumba-lumba. Padahal saya pernah dua kali melihat ribuan lumba-lumba bermunculan. Itu setelah dua jam mencari kesana kemari tanpa hasil. Saat hendak kembali tiba-tiba ribuan lumba-lumba itu muncul, seolah hendak mengantar kami kembali ke teluk.

Tapi yang penting bisa melihat lumba-lumba di habitat aslinya, bukan di kebun binatang atau taman hiburan lainnya. Lalu kami pun kembali ke cottage untuk sarapan dan santai-santai sebelum pulang.

Teluk Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 1

Kopi, degan, dan FocusOne Lampung.

Teluk Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 2

degannya segar dan manis.

Snorkeling
Bagi saya, snorkeling di Kiluan bukanlah daya tarik utama. Selain banyak koral yang rusak karena arus dan dihantam gelondongan kayu saat arus deras, jarak pandang pun tidak terlalu bagus menurut saya. Tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

Di beberapa titik, karangnya ada yang bagus. Termasuk di depan cottage Maimun ini selain di depan cottage Anak Abah milik @kiluandolphin. Saya lihat ada banyak karang-karang yang baru tumbuh di antara karang-karang rusak.

Teluk Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 4

Karang yang baru tumbuh di antara karang-karang mati.

Teluk Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 9

Karang di depan cottage.

Di kedalaman 1,5 – 2 meter, baru kita bisa melihat karang-karang yag agak bagus dan bisa melihat banyak ikan-ikan yang agak besar. Di beberapa titik ada rak-rak transplantasi karang yang dikelola oleh beberapa penggiat wisata di Lampung. Paling tidak kita bisa snorkeling di sepanjang 50-100an meter gugusan karang di situ. Lumayan untuk menghibur diri setelah kepanasan mencari lumba-lumba di tengah laut.

Petai Kiluan 😀

“Mau bawa petai bang Yopie? Dari kebon belakang”
“Mau lah”
“Ini yang satu ikat boleh dibawa”
Ini percakapan beberapa saat setelah selesai snorkeling dan yang lain sedang berkemas 🙂
Lumayan buat lauk di rumah 😀

Teluk-Kiluan - Tempat Wisata di Lampung - Yopie Pangkey - 10

Buat sambal petai di rumah.

Pernah dapat menu petai di Kiluan? 😀

 


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂