Bermesraan Dengan Gajah Way Kambas

Gajah “Jangan takut sama gajah, lawan mas. Jangan tunjukkan kalau kita tidak takut sama dia.” Jelas seorang pawang gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sambil memberi contoh menakuti seekor anak gajah dengan ranting pohon yang dipegangnya. Tak lama anak gajah itu menghampiri saya dengan sedikit berlari. Saya yang sedang asik motret kaget tiba-tiba dihampiri anak gajah itu dan langsung ambil langkah mundur. Duh, cuma seekor anak gajah aja bisa mendorong saya lumayan keras. Untung saja tidak terjengkang ke belakang. 

Saya kembali lagi mengunjungi salah satu tempat wisata di Lampung yang sudah terkenal se-antero nusantara sebagai Pusat Pelatihan Gajah. Didirikan tahun 1985, Pusat Latihan Gajah pertama di Indonesia ini sudah berganti nama menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG), kalau ga salah ya. Keluar dari Bandar Lampung, melewati jalan lintas Sumatera menuju Tegineneng, berbelok ke kanan ke arah kota Metro dan Sukadana. Di Sukadana berbelok ke kanan memasuki Jalan Lintas Pantai Timur, saat bertemu dengan pasar kecamatan Labuhan Ratu belok kiri yang terdapat gerbang bertulis Taman Nasional Way Kambas.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 4

Dari pusat kota Bandar Lampung sampai simpang kecamatan Labuhan Ratu sekitar 97 kilometer. Dari simpang tersebut kita harus menempuh jarak 7 kilometer untuk sampai di loket masuk TNWK. Dari loket ke lokasi Pusat Latihan Gajah masih harus berkendara lagi sejauh 8,5 kilometer melaui jalan aspal yang sebagian sudah diperbaiki oleh dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung pada tahun 2015. Dengar-dengar akan dilanjutkan lagi di tahun 2016 ini karena keterbatasan anggaran.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 1

Beberapa kilometer jalan yang sudah direhab

Tidak Ada Atraksi Gajah
Saat kami sampai di loket dan hendak membayar tiket masuk, seorang petugas Balai TNWK menjelaskan, bahwa atraksi gajah jinak yang biasanya bisa dinikmati wisatawan untuk sementara dihentikan. Saat saya tanya apa masih bisa menaiki gajah sebentar saja, dijawab termasuk menaiki gajah.

Sebelumnya saya sebenarnya sudah membaca berita tentang penghentian atraksi gajah jinak ini di pertengahan tahun 2015. Tapi saat pergi hari itu kami berpikir yang penting datang saja dulu dan lihat nanti apa yang bisa dilakukan di sana. Tidak ada target harus ini harus itu.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 5

Sebelumnya bisa naik gajah seperti ini.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 2

elephant tour di sekitar Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas.

Saat menulis ini saya kembali mencari berita terkait, dan ternyata memang penghentian tersebut karena adanya edaran dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup agar atraksi gajah dan hiburan gajah dihentikan. Dijelaskan, selama ini tarif hiburan oleh gajah itu belum masuk dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP, sehingga saat ini hiburan atraksi gajah dihentikan untuk menghindari dugaan korupsi dan hal-hal yang tidak diinginkan. Sesudah membaca berita itu, saya jadi maklum kenapa untuk sementara atraksi gajah jinak ini dihentikan.

Terakhir ke Pusat Latihan Gajah tahun 2013 bersama seorang kawan dari Jakarta dan Inggris, kami masih bisa menaiki gajah yang sudah disediakan oleh petugas. Bisa berkeliling sekitar tempat parkir kendaraan, bisa juga berkeliling PLG selama kurang lebih satu jam. Satu orang satu gajah, memasuki rawa-rawa dan area pepohonan di sekitar PLG, benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi yang suka dengan alam dan hewan.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 6

elephant tour di sekitar Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 8

Foto-foto di PLG Way Kambas
Meskipun kecewa tidak bisa merasakan sensasi menaiki gajah, saya tetap ingin masuk ke Pusat Latihan Gajah. Yang penting bisa lihat dulu, lain kali bisa datang lagi. Toh kami tetap diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat dan memotret. Soalnya banyak juga spot foto yang bsia bagus terlihat melalui lensa kamera di sini.

Di dekat loket masuk saja kita sudah bisa melakukan pemotretan, di jalan yang sepi dengan pepohonan yang rapat di kiri kanan. Pemotretan dengan suasana yang masih banyak alaminya dan ditemani suara-suara serangga yang membuat suasana terasa ramai.

Saat sampai di PLG Way Kambas, kami memutuskan untuk tidak memarkir mobil dan tetap mengendarainya ke beberapa titik yang ada gajahnya. Belok ke kanan kita bisa melihat asrama gajah yang luas sekali. Jangan membayangkan seperti asrama puteri yang nyaman di dekat kampus-kampus ya. Asrama gajah ini ya tidak lain adalah kandang gajah berupa tanah luas tanpa atap. Yang ada hanya tonggak-tonggak untuk merantai kaki gajah agar tidak pergi kemana-mana saat malam. Di itu ada tulisan “Attention, Don’t Enter, Staff Only”, kita dilarang masuk rupanya.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 9 gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 7

Lalu kita bisa menjumpai sebuah kolam yang besar, dimana gajah bisa masuk untuk mandi dan minum airnya. Kalau datang di sore hari, kita bisa melihat gajah-gajah mandi bersama pawangnya masing-masing sebelum kembali masuk ke kandang. Kita masih tengah hari di sini, terlalu lama menunggu sore hari menjelang gelap.

(Baca: Teluk Kiluan Tempat Wisata Seru di Lampung)

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 3

PDKT sama Anak Gajah
Melewati kolam minum gajah, kami menuju tempat yang lebih terbuka. Di kiri kanan jalan hanya ada ilalang, dan di ujung pandangan terdapat pepohonan. Banyak gajah yang dibiarkan di tempat terbuka itu secara berkelompok. Mungkin dikelompokkan berdasar keluarga, bapak ibu anak. Mungkin ya…

Ada beberapa kelompok yang mondar-mandir mengamati dan mendekati gajah-gajah itu. Sepertinya mereka ini mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Nampak juga dua orang asing yang juga melakukan pengamatan, mereka menginap di sebuah rumah dengan kamar-kamar yang menghadap ke luar, di dekat kandang gajah.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 11

Dengan rasa penasaran, turun dari mobil saya mencoba mendekati sekelompok gajah yang sedang sibuk makan rerumputan. Kalau dipikir-pikir ya, gajah ini paling banyak memakan rerumputan yang ditemuinya. Tiap saat selalu makan, baik saat berdiam diri maupun saat sedang berjalan. Hanya makan rumput tapi kok badannya bisa sebesar dan sekuat itu ya. Kita yang makan makanan bergizi paling mentok berat badan 85 kilogram dan tinggi badan 185 cm. Apa kita harus makan rumput juga biar bisa kuat seperti gajah ya? 😀

Agak ngeri juga untuk berdiri dekat-dekat dengan gajah meskipun kaki mereka diikat rantai. Yang kami dekati pertama kali adalah seekor anak gajah dan emaknya gajah yang berciri tidak memiliki gading. Yang saya takutkan kalau mendekati anak gajah, induknya itu bakal merasa terancam lalu menyerang kami. Di saat ragu-ragu itulah kebetulan lewat seorang pawang yang mengendarai motor yang lalu kami stop dengan ramah, siapa tau bisa menolong kami untuk mendekat.

Sensasi Diseruduk Gajah
Dengan sukarela, pawang tersebut pun menghentikan motornya dan menjelaskan tentang kebiasaan-kebiasaan gajah dan juga pawangnya. Gajah itu sensitif jelasnya, kita cukup memerintah dengan beberapa kata yang sudah dimengertinya dengan perlahan tak perlu teriak. Dan itu dipraktekkannya di hadapan kami. Gajah juga punya perasaan ternyata 😀

Tapi ada saatnya juga kita harus menunjukkan kita itu lebih berkuasa ke gajah, insting hewan siapa yang kuat dia yang berkuasa. Setiap pawang faham itu dan mereka bisa menundukkan gajah untuk keperluan manusia dan juga untuk kepentingan kelestarian gajah itu sendiri. Terutama untuk mengatasi konflik gajah-manusia yang sering terjadi karena manusia menganggu habitat gajah.

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 12

Tidak lama dari ini, anak gajah imut mendekati saya 😀

Nah, saat si anak gajah tiba-tiba mendekati saya dengan sedikit berlari, pawang gajah tadi bilang “Jangan takut sama gajah, lawan mas. Jangan tunjukkan kalau kita tidak takut sama dia. Pukul saja belalai atau kepalanya.”

Duh, boro-boro mau melawan pikir saya. Gajah yang kecil saja tenagaya sudah kayak tenaga beberapa orang dewasa. Saya yang panik langsung mundur dengan cepat sambil memegang kamera untuk menghindar serudukan anak gajah itu. Tidak sampai dua meter anak gajah sudah dekat sekali dengan saya, saya pun diseruduk dengan belalainya. Untung tidak sampai terjerembab karena sang pawang langsung mengusirnya dengan sebatang ranting yang sudah dipegangnya dari tadi.

Dia berpikir kita mau masih dia makanan, makanya mendekat. Itu penjelasan si pawang dengan santainya. Dia jadi manja karena sering dilepas saat wisatawan ramai berkunjung dan sering diberi makanan. Bisa juga gajah jadi manja selain berperasaan ya :p

gajah - taman nasional way kambas - yopie pangkey - 13

Dua gajah jantan saling beradu nyali

Foto Bareng Gajah Jantan
Setelah dengan anak gajah, kami kembali ditemani untuk mendekati dua gajah jantan yang diikat tak jauh dari tempat saya diseruduk anak gajah. Dibanding dengan anak gajah, melihat gajah jantan saya tentu lebih takut lagi. Dengan tenang sang pawang mendekati gajah dan menenangkannya. Kami pun leluasa untuk memotret tanpa membuat gajah-gajah tersebut merasa terganggu.

“Yang ini aman mas, mereka tidak dalam masa birahi. Kalau birahi bawaannya nyeruduk-nyeruduk aja.” Canda sang pawang. Memang kalau birahi gajah-gajah ini akan ganas, bisa sampai luka-luka karena berkelahi dengan sesama gajah jantan lain. Sama juga dengan manusia ya, kalau sudah masanya memang harus segera diijabqabulkan biar ga nyeruduk kesana kemari, hehehe…

degan di way kambas - yopie pangkey

Minum kelapa muda sebelum pulang

Kenangan Tak Terlupakan
Diseruduk ini jadi pengalaman paling lucu saya bersama gajah. Jadi tahu kebiasan-kebiasan gajah dan apa yang harus kita lakukan kalau bertemu lagi dengan gajah di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas ini.

Kalau sudah ada aturan jelas mengenai atraksi gajah jinak dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, saya mau datang lagi. Mau ikut??


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂