Viewing Platform Tempat Hunting Foto Baru di Bandar Lampung

Ada tempat hunting foto baru di Bandar Lampung di Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman, terutama yang senang foto-foto untuk kemudian diupload di akun media sosialnya seperti instagram. Tempatnya di sebuah pohon di dekat dengan penangkaran rusa dan taman kupu-kupu Gita Persada.Beberapa hari sebelum saya sebenarnya sudah melihat seorang kawan upload fotonya di akun instagramnya. Tidak seperti di Kali Biru yang platformnya berada di atas pepohonan lain, yang di sini masih di antara rimbunnya pepohonan lain. Tapi cukup lah menurut saya untuk memulainya di Lampung. Menambah daftar tempat hunting di Bandar Lampung selain yang sudah ada saat ini.

Saya, Teguh Prasetyo dan Kiki sore kemarin, Jumat (18/06/2016) menuju penangkaran rusa Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman yang berada di desa Sumber Agung kecamatan Kemiling. Ada acara Ngabuburit Tahura Wan Abdul Rahman (WAR) yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Saya lihat di daftar undangan yang akan datang sekitar 100 orang dari beberapa dinas terkait seperti, Balai Besar TNBBS, Balai TNWK, BKSDA Bengkulu seksi Lampung, dan beberapa organisasi yang bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Lampung, serta awak media dan beberapa komunitas anak muda.

Siang itu selesai sholat Jumat turun hujan sangat deras di Bandar Lampung, kami bertiga yang sudah niat pergi menggunakanmotor harus menunggu hujan reda dulu. Di undangan tertera acara dimulai 13:30. Kami baru bisa berangkat motoran pukul 14:00, dan tiba di penangkaran rusa pukul 14:40. Acara diskusi sudah dimulai, tampak Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, pak Sutono berbicara di tempat terbuka, dikelilingi para undangan yang duduk di bangku-bangku kayu.

Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 5

Acara Diskusi Tahura WAR

Acara ngabuburit ini diadakan dalam rangka mempromosikan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR) sebagai salah satu Destinasi Wisata Alam Lampung yang memiliki empat pilar pengembangan yaitu: penangkaran rusa, penangkaran kupu-kupu, agroforestri, dan kampung durian.

Pak Sutono mengatakan bahwa sebagian area Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman ini sedang dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu berbasis alam. Dengan luas 11.000 hektar, kawasan ini menyuguhkan konsep agrowisata dengan keunggulan buah durian dan kawasan ekowisata melalui kegiatan pelestarian alam.

(Acara Pencanangan kawasan wisata Tahura WAR bisa dibaca di: Semerbak Festival Durian )

Sempat juga saya bertanya-tanya dalam hati, apakah dengan adanya kawasan wisata di hutan bisa merusak alam hutan. Karena pasti ada saja efek negatif dari pariwisata seperti kerusakan tumbuh-tumbuhan dan sampah. Nah hal ini terjawab saat pak Sutono mengatakan, kawasan yang dimanfaatkan adalah area Blok Pemanfaatan. Di situ ada 11.000 petani yang mencari nafkah dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu.

Lebih lanjut dijelaskan pencanangan kawasan Taman Hutan Raya sebagai tempat wisata tidak akan mengganggu blok lindung seluas 6.000 hektar. Namun justru bisa meningkatkan kesadaran warga sekitar untuk melestarikan hutan, selain bisa untuk meningkatkan perekonomian warga. kalau begitu bagus dong bisa menambah tempat wisata di Lampung.

Koleksi Anggrek dan Usaha Kolang Kaling
Selesai acara diskusi kami diajak berkeliling lokasi penangkaran rusa. Pertama-tama menuju tempat koleksi bunga anggrek di sebuah ruangan yang setengah terbuka, karena tidak ada dinding sampai atas tetapi hanya terali besi saja. Tidak banyak koleksi anggrek yang ada di sini, tetapi saya cukup menikmati berada di antara anggrek-anggrek ini.

Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 6

Ada perasaan tenang berada di antara tumbuhan yang hidupnya menumpang di pohon lain tetapi bukan parasit, dan hidup dari embun dan udara lembab. Jadi teringat masa-masa kecil di rumah yang banyak bunga karena nenek dan ibu saya waktu itu sangat hobi koleksi bunga. Rumah kami begitu asri dengan adanya bunga-bunga itu.

Saat seluruh undangan bergeser ke penangkaran rusa, saya memilih untuk tetap berada di antara anggrek-anggrek ini. Menikmati indah warna-warni dan bentuknya yang khas. Tidak banyak yang tahu kalau tanaman anggrek ini selain berfungsi sebagai tanaman hias ada yang bisa digunakan sebagai sumber obat-obatan herbal dan bahan penyedap kue. Masih malas mengeluarkan DSLR saya memilih untuk memotret dan merekam video dengan kamera smartphone saya.

Setelah yang lain selesai melihat rusa, kami bergeser ke seberang jalan. Di sana ada satu keluarga yang sedang mengolah kolang kaling. Saya belum pernah melihat pengolahan kolang-kaling dari dekat, baru kali ini. Ternyata sebelum bisa kita konsumsi kolang-kaling harus melalui beberapa proses. Dari pemilihan buah aren yang masih setengah matang, lalu direbus/dibakar, membelah buah aren untuk diambil bijinya, pelepasan kulit biji aren, merendam biji aren. Biji aren itulah yang kita sebut kolang-kaling.

Kolang-kaling ternyata memiliki kadar air sangat tinggi lho, hingga mencapai 93,8% dalam setiap 100 gram-nya. Rasa menyegarkan, dan bisa membantu memperlancar kerja saluran cerna manusia. Mengurangi nafsu makan sehingga cocok sebagai makanan diet. Jadi kebayang kolak kolang kaling yang segar… πŸ˜€

Tahura Wan Abdul Rahman - kolang kaling - Yopie Pangkey - 1

Keluarga ibu Sara, dalam satu hari bisa produksi 50 kg kolang kaling.

Tahura Wan Abdul Rahman - kolang kaling - Yopie Pangkey - 7

Viewing Platform
Ini dia yang saya tunggu-tunggu dari tadi, bisa melihat dan mencoba viewing platform Tahura Wan Abdul Rahman. Viewing Platform di sini semacam balkon yang dibangun dengan susunan kayu di atas sebuah pohon besar. Di atas platform itu kita bisa melihat pemandangan di bawahnya.

Walau meniru, tetapi pasti berbeda dengan yang ada di Jogja dan Bandung, terutama view alam sekitarnya. Viewing platform di Tahura WAR ini masih dikelilingi oleh pepohonan tinggi, tidak terbuka seperti yang ada di Kali Biru. Di situ kita bisa melihat pemandangan Teluk Lampung di kejauhan. Jadi membayangkan apa sensasinya berdiri di situ di saat matahari mulai muncul di ufuk Timur. Harus kemari di saat kemarau nanti, saat langit tidak dipenuhi dengan awan πŸ™‚

Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 3 Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 4

Bagi yang mau memotret juga didiakan sebuah platform di pohon lain. Agak susah untuk mendapatkan foto sedahsyat seperti foto-foto di Kali Biru. Tetapi itulah seninya memotret, kita yang harus dituntut kreatif memilih sudut pengambilan dan lensa yang dipakai. Mudah-mudahan menjadi bahan pemikiran untuk membuat yang lebih dahsyat di tempat lain di Lampung πŸ™‚

Tetapi kalau melihat di beberapa akun instagram yang sering berseliweran, saya anggap foto-foto mereka sudah bagus dan membuat yang melihatnya ingin mencoba. Sedangkan saya belum puas datang kemari di kali pertama ini. Selain kami harus terburu-buru turn karena hujan dan cuaca yang redup, saya mau memotret di lain waktu dengan suasana yang berbeda.

Kamu mau ikut atau mau datang sendiri dengan kawan-kawan? Atau kalau sudah pernah kemari, upload fotomu dan tag akun instagram @kelilinglampung_ milik saya ya. Siapa tau bagus dan bisa saya repost πŸ™‚

Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 9

Tahura Wan Abdul Rahman - Yopie Pangkey - 8

Naik ke pohon lainnyaΒ untuk memotret kawan-kawan di viewing platform seberang.

Info:

Untuk mencapai Tahura Wan Abdul Rahman bisa dari arah Taman Bumi Kedaton atau dari arah Perum Langkapura. Kalau mau lewat jalan yang bagus pilih lewat dari Langkapura aja melewati SLB.


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya πŸ™‚