Romantika Warung Kopi Belitung

romantika-warung-kopi-belitung

Saya mau ngopi dulu di kedai kopi sebelum ke Pulau Leebong. Ingin benar-benar merasakan minum kopi di salah satu usaha warung kopi yang ada di Kota Tanjung Pandan. Saat pertama kali ke Belitung sebenarnya ingin sekali bisa mampir di warung kopi Manggar. Tapi sepertinya harus menunggu lain waktu. 

Apalagi malam sebelumnya, hampir saja saya telat sampai Jakarta. Bus Damri yang saya tumpangi tidak bisa melanjutkan perjalanan karena tutup tangki tidak bisa dibuka. Mencoba peruntungan dengan pindah bus, walau harus rela berpindah kelas dari Royal ke ekonomi AC dan duduk di samping toilet bus 😀

Ke Belitung kali ini harus bisa rasakan suasana kedai kopinya. Begitu tekad saya saat terguncang-guncang di samping toilet sepanjang malam tersisa.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-11

Belum bertandang ke suatu kota kalau belum coba warung kopinya
Berawal dari tuitnya mas Hari JT “Salah 1 sudut KV Senang, Tanjungpandan #Belitung lokasi ini merupakan tempat ngopi favorit”. Memang tidak seperti kedai kopi Aceh yang sering saya datangi di Jl. Sultan Agung Way Halim Bandar Lampung. KV Senang yang berada di dekat Tugu Satam ini lebih sepi suasananya. Namun tiap kota kan pasti beda suasananya. Ada keunikannya masing-masing.

Saya dan mas Hari memang pernah duduk-duduk ngopi di KV Senang. Malam itu, Senin (02/05/2016), kami duduk berempat menikmati masing-masing segelas kopi, setelah seharian berwisata di Pulau Lengkuas dan Pulau Kepayang. Seperti warung kopi lain, perbincangan kami ngalor ngidul, daru Utara ke Selatan. Bahas banyak hal, dari urusan berat sampai urusan sepele.

Karena tekad di dalam bus dan pernah ngetuit kata-kata di atas, jadi semangat  untuk datang ke Waroeng Kopi Ake dan Kong Djie Coffee. Sayang juragan Hari JT pemilik blog muhamadazhari.com ini tak bisa temani di kedatangan saya kali ini.

Simak saja ceritanya ya…

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-3

Waroeng Kopi Ake, Warung Kopi Tertua di Belitung
Singkat cerita, Sabtu (23/07/2016) pukul 09:50, saya sudah menjejakkan kaki di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Kepada driver yang menjemput, saya bilang mau minum kopi dulu di warung kopi Ake. Dari bandara ke warung kopi Ake hanya butuh waktu dua puluh menit, melewati jalan-jalan mulus dan sepi.

Warung Kopi Ake masih terlihat sepi menjelang siang itu. Hanya 3 meja terisi pengunjung, dua meja di dalam dan satu meja di luar. Tidak ada obrolan khas warung kopi. Berasa senyap. Kehadiran saya yang orang luar Belitung mungkin yang membuat sedikit ramai. Mondar-mandir ambil foto, rekam video, dan banyak bertanya dengan cucu dari pendiri Warung kopi ini, koh Akiong.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-4

MInum kopi dan telur setengah matang sambil belajar sejarang warung kopi di Belitung.

Saya langsung memesan kopi O (kopi hitam) dan dua telur setengah matang dalam satu gelas. Dengan sigap, Willy keturunan ke-empat Warung Kopi ini langsung menyiapkan pesanan kami. Menuang susu kental ke dalam gelas, memanaskan air, memasukkan bubuk kopi ke dalam saringan, memasukkan air panas ke dalam salah satu cangkir besar.

Lalu dia memindah-mindahkan seduhan kopi tersebut dari satu cangkir ke cangkir lain beberapa kali, lalu dituangkan ke dalam gelas yang akan disajikan. Semua ini tentu sudah kerjaan hariannya. Kalau saya yang lakukan itu, mungkin rasa seduhan kopinya bakal ga karuan. Bisa terlalu kental atau bisa juga terlalu encer.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-7

Panci/ketel tembaga untuk merebus air.

Kopi O, kopi susu, dan teh bunga yang sampai duluan di meja. Tak lama kemudian pesanan telur setengah matang 3/4 saya sampai. 30 (tiga puluh) menit ada di sini, seruput kopi dan telur setengah matang, bincang-bincang dengan koh Akiong keturunan ketiga warung kopi.

Warung kopi ini dinamakan Ake, nama anak dari koh Abok pendirinya. Didirikan sekitar tahun 1911an oleh koh Abok lalu diteruskan ke koh Ake. Saat ini sudah dijalankan oleh generasi ketiga, koh Akiong, dan generasi keempat koh Willy. Koh Wilyy ini masih muda. Saya perkiraan usianya sekitar 25-30 tahun. Saat saya cari di mesin pencarian, rata-rata menceritakan warung kopi ini dimulai dari tahun 1922. Saat itu koh Abok berjualan kopi menggunakan gerobak di bawah tugu jam.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-1

Setia melestarikan warisan leluluhur berupa warung kopi

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-5

Koh Akiong menunjukkan ke saya artikel sangat lama tentang Kuliner Belitung.

Buka setiap hari dari pukul 06:00 sampai 22:00. Koh Akiong dan Willy masih menggunakan peralatan yang dipakai oleh koh Abok 94 tahun lalu. Panci/ketel tembaga merah untuk merebus air, dan sebuah tempat air terbuat dari porselen merk “The Brownlow” dari Inggris masih kelihatan terawat.Kompor gas, gelas, dan cangkir besar untuk menarik kopi yang terlihat baru.

Koh Akiong sudah tidak menggunakan tungku arang dan tidak menggiling sendiri biji kopinya. Kopi Lampung dan kopi Sumatera Selatan yang masuk ke Belitung, digiling oleh seorang kawannya. Dia pun tidak membuka cabang di tempat lain. Begitu setianya merawat dan menjaga warisan leluhur.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-2

tempat air porselen buatan Inggris.

waroeng-kopi-ake-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-8

Koh Ake, bapaknya koh Akiong, generasi kedua.

Wah jauh-jauh ke Belitung tetap saja minumnya kopi Lampung ya. Iya, tetapi dengan suasana berbeda tentunya 🙂

Kong Djie Coffee
Kong Djie Coffee, sejak 1943. Begitu tulisan yang saya baca di papan nama dua warung kopinya yang terletak di Pantai Tanjung Pendam dan di pojok Jalan Siburik Barat dan jalan Kemuning. Warung kopi ini terkenal seantero Tanjung Pandan, Belitung. Di sebuah buku yang saya baca, Kong Djie berdiri sejak 1937. Mana yang benar ya?

kong-djie-coffee-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-5

Terletak di pojokan jalan Siburik Barat dan jalan Kemuning, Tanjung Pandan.

Senang banget bisa mampir ke Kong Djie Coffee di jalan Siburik ini setelah mencoba yang di Pantai Tanjung Pendam saat pertama kali datang di Belitung bulan Mei 2016 lalu. Diajak oleh pak Toto, salah satu pengelola Wisata Pulau Leebong, setelah santap siang di RM Gangan Sari di Jalan Irian. Sembari menunggu jadwal kepulangan pesawat pukul 16:40. Namun ternyata delayed, dan kami bisa berlama-lama di Hotel 21 Hanggar. (Cerita menyusul ya).

(Baca Juga: Rumah Pohon Pulau Leebong: Rasakan Suasana Senyap dan Syahdu)

Warung Kopi Kong Djie Siburik ini terletak di pojok sebuah persimpangan yang mengarah ke Pelabuhan Tanjungpandan. Suasana sumpek warung kopi lebih berasa di sini. Ruangan yang sempit, meja dan kursi begitu rapat, dan pastinya asap rokok dimana-mana 😀

kong-djie-coffee-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-4

Dapurnya Kong Djie Coffee

Tapi di sini lah saya mendapat banyak informasi mengenai kehidupan Kota Tanjung Pandan. Seorang rekan pak Toto, bang Arfa (kalau tak salah), bercerita banyak mengenai Tanjung Pandan. Dari ketersediaan ikan segar, sayur mayur, kopi, telur, politik, sampai soal kredit macet kendaraan roda dua. Seru banget ceritanya.

Semua kenal semua orang di sini. Beberapa kali orang baru masuk, mereka langsung menyapa saya yang baru pertama kali datang. Saat mau berfoto di satu pojokan pun, kami dipersilakan oleh yang sedang duduk di mejanya. Dia rela mengalah agar kami bisa berfoto di situ. Agar bisa merasakan Romantika Warung Kopi Belitung ya 🙂

Sama seperti Waroeng Kopi Ake, Kong Djie Coffee memiliki pelanggan tetap dari berbagai kalangan. Pekerja tambang, tokoh masyarakat, pejabat, wisatawan, sampai artis.

travelerien-di-kong-djie-coffee

Semanis-manisnya kopi tetap ada rasa pahitnya.
(Katerina S di Kong Djie Coffee)

warung kopi belitung - kong djie coffee - tanjung pandan - belitung-yopie-pangkey-2

Bersama pak Toto Pulau Leebong, dan bang Arfa.

kong-djie-coffee-tanjung-pandan-belitung-yopie-pangkey-1

Suasana khas warung kopi. Hidup ini indah begini adanya.

Hidup ini Indah Apa Adanya
Sedikit mengutip kata-kata dari Filosofi Kopi. Tidak ada yang sempurna, termasuk kopi di dua warung yang ada di Tanjung Pandan yang sudah saya kunjungi. Kopi yang saya minum saat ini bukan kopi Tiwus di Jawa Tengah. Mungkin berasal dari Lampung dan Sumatera Selatan. Disajikan di Waroeng Kopi Ake dan Kong Djie. Saya tidak berbicara soal cita rasa kopi seperti di banyak cafe yang saya datangi. Saya hanya belajar hidup dari warung-warung kopi itu.

Mungkin satu saat akan kembali lagi ke dua warung kopi itu. Duduk-duduk santai melihat orang lalu lalang di luar. Mendengar bualan seseorang tak dikenal, atau kembali bertemu bang Arfa yang tidak pelit bercerita tentang kotanya. Juga mengulang foto-foto yang pernah saya ambil saat ini. Lanjut minum kopi, lanjutkan hidup.

“Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya” ~Filosofi Kopi