Wisata Sejarah – Mencontoh Semangat Kepahlawanan Radin Inten II

Besok acara Haul Radin Inten II di Kuripan Lampung Selatan. Wah saya mesti ikut nih, mau tahu (pake banget) Keratuan Darah Putih dan daerah yang menjadi tanah kelahiran pahlawan nasional asal Lampung. Selama ini saya tidak banyak membaca tentang Radin Inten II yang namanya diabadikan menjadi nama bandara Lampung yang sebentar lagi akan menjadi bandara internasional. Salah satu pintu masuk pariwisata Lampung. Sering dengar nama tetapi tidak tahu latar belakangnya.

Keinginan saya tersebut langsung disambut rekan sesama fotografer Gede Setiyana, yang langsung menyilakan saya untuk bertugas meliput acara yang akan dihadiri oleh Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo. Asiik kan, bisa juga menandangi tanah kelahiran Radin Inten II di Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Petandang yang bekerja sekaligus jalan-jalan ke tempat wisata di Lampung Selatan, wisata sejarah tepatnya.

Di akhir acara dan saat pulang, saya benar-benar bersyukur bisa menghadiri acara Haul Radin Inten II ini. Selain bertambah pengetahuan sejarah walaupun masih sedikit, saya juga berkesempatan bertemu beberapa anggota keluarga Keratuan Darah Putih. Mereka sangat terbuka. Bercerita tanpa diminta, menyilakan saya masuk ke rumah kelahiran Radin Inten II. Memperkenalkan para keturunan Dalom Kesuma Ratu Jamil yang merupakan sepupu Radin Inten II.

Silsilah Keratuan Darah Putih

Menuju Kuripan di Lampung Selatan

Di jadwal kegiatan Gubernur yang dikeluarkan oleh protokol, acara Haul dimulai pukul 09:00. Sedangkan di 08:30, Gubernur dijadwalkan bertemu dengan Menteri PUPERA di hotel Novotel. Ada dua pilihan buat saya, ikut di rangkaian rombongan gubernur atau berangkat duluan. Saya dan kawan-kawan lebih cocok dengan pilihan kedua. Kami bisa berkendara dengan santai dan bisa mampir mencoba tempat makan baru yang ada di jalan lintas Sumatera di Lampung Selatan.

Meskipun rencananya jalan santai namun tetap saja saya jejak pedal gas agak dalam. Ingin cepat sampai dan ingin sarapan di satu tempat terlebih dahulu. Sebenarnya sudah sarapan siih di Kopi Dunia II jalan Kartini, tapi mau juga sarapan lagi sambil minum kopi. Ga masalah kopi asalan yang banyak tersedia di rumah makan pinggir jalan. Hidup sudah asalan ini, ga perlu ribet dengan kopi berkualitas yang susah ditemui kalau sedang jalan jauh :p

Buang waktu dua puluh menit untuk semangkuk indomie telur dan segelas kopi sebelum meliput acara, sambil telpon sana-sini menanyakan lokasi acara. Setelah lokasi diketahui pasti, kami lanjutkan perjalanan menuju rumah kelahiran Radin Inten II. Tidak jauh dari tempat makan. Dari arah Bandar Lampung belok kanan di perempatan Palas. Ada plang dengan tulisan Makam Pahlawan Nasional Radin Inten II.

Hunting Foto

Kami tiba sebelum acara dimulai. Gubernur di saat yang sama ternyata masih harus menunggu Menteri PUPERA yang belum tiba di Novotel. Saat menteri tiba, mereka berbincang-bincang sebentar, lalu Gubernur langsung tancap gas menuju acara ini.

Saya masih punya waktu banyak untuk berkeliling sekitar lokasi acara. Banyak atribut budaya yang menarik perhatian saya. Mulai dari tutup kepala berupa kain putih, sarung tapis, tuping (topeng), umbul-umbul Keratuan Darah Putih. Oya, saya dan kawan-kawan juga pakai sarung di acara ini. Sudah jadi kebiasaan kalau ada acara adat, saya bertanya apa yang boleh apa yang tidak. Salah satunya adalah memakai sarung. Walau ternyata tidak masalah, tapi saya bangga bisa bepartisipasi meramaikan acara dengan mengenakan sarung. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung 🙂

Atraksi silat - haul 160 tahun gugurnya Radin Inten II - Yopie Pangkey

Atraksi silat di peringatan 16o tahun gugurnya Radin Inten II.

Foto bersama - haul 160 tahun gugurnya Radin Inten II - Yopie Pangkey

Antri gantian foto bareng dengan punggawa. Punggawa bertugas sebagai penyecakh imbokh, semacam patwal yang membuka jalan kalau zaman sekarang.

Sinar matahari lumayan terik dari pukul 09:00 pagi itu. Saya mondar-mandir saja seolah tak merasakan kalau kepala saya sudah berasa pusing sedikit. Tiba-tiba ada yang menegur saya, “ini bang Yopie ya?”. Ternyata ada juga yang mengenali saya di sini. Lalu dari situ lah saya dikenalkan dengan beberapa keluarga keturunan dari sepupunya Radin Inten II. Seolah semua dimudahkan untuk saya. Mengalir begitu saja. Mungkin karena kami sopan dan juga ikut mengagungkan kearifan lokal yang berlaku di situ.

Berkenalan dengan banyak orang di satu waktu sebenarnya sesuatu yang sulit bagi saya. Tidak cepat ingat nama orang dan cepat lupa. Lebih baik bertukar nomor HP dan akun instagram untuk memudahkan. Sempat terucap, “Ohh jadi ini adminnya akun instagram @kelilinglampung_”. Senang sekali ada yang mengenali dan bisa berkenalan dengan banyak orang.

Sebagai penutup hunting foto saya sebelum aca dimulai adalah memotret beberapa benda peninggalan Radin Inten II. Ada Kawai Besi (baju besi), peluru meriam, Alquran tulis tangan, stempel dagang, celana sirwal dan baju Radin Inten II, batu ilahan, kertas bertulis aksara Lampung kuno, dan lain-lain.

Baju Besi Radin Inten II dan peluru merian - Yopie Pangkey

Baju Besi Radin Inten II

Baju Radin Inten II - Yopie Pangkey

Baju Radin Inten II

Kertas bertulis aksara Lampung kuno - Yopie Pangkey

Kertas bertulis aksara Lampung kuno.

Peringatan Gugurnya Pahlawan Nasional Radin Inten II ke-160 Tahun 2016

Acara seremonial Peringatan Gugurnya Pahlawan Nasional Radin Inten II ke-160 Tahun 2016 dimulai. Silih berganti ada enam orang yang memberi kata sambutan. Diawali oleh Ketua Panitia Perayaan, dilanjutkan oleh Penasihat Adat Keratuan Darah Putih, lalu Pakualaman, Kesultanan Banten, Bupati Lampung Selatan yang diwakilkan oleh Wakil Bupati, dan terakhir sambutan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo.

Tidak banyak yang bisa saya ingat di semua kata sambutan tersebut. Yang saya ingat salah satunya adalah dari Penasehat / Juru Bicara Adat Radin Kesuma Yuda. Beliau menjelaskan bahwa Keratuan Darah Putih bukan menganut sistem kerajaan. Dimana pemimpin perlu dihormati, bukan untuk disembah. Karena mereka berdasar Kitabullah (AlQur’an).

Putra mahkota Keratuan Darah Putih

Di acara ini juga ada acara adat peringatan ulang tahun ke-17 Putra Mahkota Keratuan Darah Putih yang memiliki hubungan dengan Raden Intan II. Bukan hubungan keturunan, karena putra mahkota saat ini adalah keturunan dari anak pamannya (sepupu). Karena Radin Inten II wafat pada usia sangat muda dan belum sempat menikah, apalagi memiliki keturunan.

Peringatan Wafatnya Radin Inten II - Yopie Pangkey - 1

Diminta foto bersama setelah memberi kata sambutan.

Peringatan Wafatnya Radin Inten II - Yopie Pangkey - 2

Ridho Ficardo di antara tamu undangan dan tuan rumah (Foto: +yopiefranz)

Foto-foto saya ada juga di:

  • https://sgpradiolampung.com/2016/11/16/gubernur-m-ridho-ficardo-contoh-semangat-perjuangannya-raden-inten-ii/
  • http://radarlampung.co.id/read/2016/11/16/gubernur-lampung-contoh-semangat-perjuangan-radin-inten-ii/
  • http://translampung.com/raden-intan-jadi-aset-sejarah-bagi-wisatawan/
  • http://www.tegarnews.com/berita-memperingati-160-tahun-gugurnya-raden-inten-ii-gubernur-ridho-contoh-semangat-perjuangannya.html

Contoh Semangat Perjuangan Radin Inten II

Yang paling saya ingat dari begitu banyak kata sambutan adalah kata-kata dari Gubernur Lampung. Beliau berpesan agar kita bisa mencontoh semangat kepahlawanan dari Radin Inten II, khususnya dalam rangka membangun Lampung.

Haul 160 tahun gugurnya Radin Inten II - Yopie Pangkey

Yuk kita contoh semangatnya.

“Kita contoh semangatnya, bapak ibu harus tanamkan semangat ini kepada anak-anak. Perhatikan sekolah dan ngajinya. Sehingga ketika daerah kita terbangunan anak-anak kita siap menjadi tuan di tanah sendiri. Apalagi Lampung Selatan merupakan Kabupaten dengan Infrastruktur terlengkap, mulai dari Pelabuhan, Bandara, dan kini Jalan Tol Trans Sumatera juga melintasi Lampung Selatan. Ditambah Pemprov akan membangun kawasan Industri, Lampung Selatan harus bersiap menyongsong pembangunan, kita siapkan anak-anak kita.” Himbau Ridho Ficardo.

Bagi saya, Lampung Selatan itu begitu indah alamnya dengan banyak potensi yang bisa digali dengan bijaksana. perlu semangat dari para Pemuda-nya untuk membangun daerahnya sendiri. Turut serta mengembangkan wisata Lampung Selatan juga tentunya.

Penari - haul 160 tahun gugurnya Radin Inten II - Yopie Pangkey

Penari di acara peringatan 160 tahun gugurnya Radin Inten II

Masuk Kalender Pariwisata Provinsi Lampung
Gubernur Lampung juga mengusulkan agar acara peringatan gugurnya Radin Inten II ini tercatat di Kalender Pariwisata Provinsi Lampung. Kalau sudah begitu bisa digelar secara rutin dan meriah. Sehingga bisa menarik minat wisatawan untuk datang dan agar semangat perjuangannya bisa menjadi contoh bagi banyak orang.

Setuju banget kalau acara ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat Lampung Selatan khususnya dan masyarakat Lampung pada umumnya. Lebih-lebih kalau bisa mendatangkan wisatawan nusantara untuk tandang ke acara Haul Gugurnya Radin Inten II. Lalu bisa berkunjung ke rumah tempat kelahiran dan juga makamnya.

(Baca juga artikel lain ya: Tempat Wisata di Lampung )

Penari - haul 160 tahun gugurnya Radin Inten II - Yopie Pangkey - 2

Untuk info saja. Di dekat situ ada air terjun yang indah lho. Air terjun Way Kalam. Tadinya saya mau mampir ke air terjun ini. Namun kawatir kesorean karena ada banyak hal yang harus diselesaikan akhirnya kami urungkan niat itu. Akan datang lagi lain waktu.

Rangkaian acara haul gugurnya Radin Inten II selesai. Oleh salah satu anggota keluarga, saya diajak untuk masuk ke rumah kelahiran dan tempat tinggalnya Radin Inten II. Sebuah rumah kayu panggung seperti rumah kayu lainnya yang pernah saya kunjungi. Tidak sempat memperhatikan perbedaan dengan rumah kayu lain. Saya hanya memotret beberapa sudut dan ornamen yang ada. Ke bagian belakang sebentar lalu keluar lagi untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan panitia.

Rumah Radin Inten II - Yopie Pangkey

Rumah Radin Inten II.

Pernak pernik Lampung di dalam rumah Radin Inten II - Yopie Pangkey

Pernak-pernik khas Lampung di dalam rumah Radin Inten II.

Ziarah Makam

Seluruh rangkaian acara sudah selesai. Gubernur Lampung Ridho Ficardo mengutarakan keinginannya untuk berziarah ke makam Radin Inten II. Saya yang sudah selesai makan langsung berpamitan dan melepaskan serta memulangkan sarung yang kami pinjam. Cussss menuju makam.

Letak makam tidak jauh dari Jalan Lintas Sumatera, juga tidak jauh dari rumah kediaman Radin Inten II. Masih di Kecamatan Penengahan. Sudah berpagar bagus dan masih terawat dengan baik sejak diresmikan oleh Gubernur Lampung H. Zainal Abidin P.A. pada tanggal 5 Oktober 1957. (Makam Radin Inten II di Google Map)

Makam Radin Inten II - Yopie Pangkey

Makam Radin Inten II.

Peringatan Wafatnya Radin Inten II - Yopie Pangkey - 3

Ziarah makam.

Di sini, rombongan Gubernur dan tuan rumah Lampung Selatan melakukan doa bersama dan berkeliling area makam. Tidak lama.

Sempat mendengar sekilas penjelasan pengelola makam, dalam sehari bisa ada seratusan pengunjung yang melakukan ziarah. Jadi dalam satu bulan bisa ada tiga ribu orang yang berkunjung. Tiga ribu orang yang berwisata rohani.

Saya dan Patung Radin Inten II

Saya dan Patung Radin Inten II.

Potensi Wisata Lampung Selatan
Kesimpulan saya dari tandang hari itu adalah, Lampung Selatan mempunyai daya tarik wisata sejarah dan wisata rohani. Khususnya di desa Kuripan Kecamatan Penengahan. Selain potensi wisata alam yang masih belum banyak dikenal oleh warga Lampung umumnya.

Kalau saja Haul Radin Inten II ini bisa diselenggarakan rutin setiap tahunnya dengan kemasan yang menarik, tentu akan menjadi daya tarik buatan tersendiri. Sama seperti festival-festival lain di Indonesia yang diadakan untuk mengenang jasa para pahlawan atau kerajaan yang pernah berjaya.

Dengan mengangkat satu daerah bisa ikut mendongkrak pariwisata Lampung juga. Menambah pilihan tempat wisata di Lampung yang wajib kita kunjungi. Semamgat berwisata sambil mengenang perjuangan dan mencontoh semangat perjuangan Radin Inten II.