Lebih Dekat dengan Koleksi Museum Lampung

Ingin melihat-lihat koleksi Museum Lampung, saya langsung tertarik dengan dua kalimat yang tertulis di sebuah banner sesaat memasuki gedung museum. “Museum itu merupakan jendela informasi budaya dan ilmu pengetahuan. Ayo berkunjung ke Museum, kenali budayamu, cintai bangsamu”. Kalau saya katakan begini, gimana ya. “Museum Lampung adalah jendela informasi budaya dan ilmu pengetahuan Lampung. Ayo berkunjung dan lihat-lihat koleksi Museum Lampung, kenali budaya Lampung-mu, cintai Lampung-mu. Cocok?

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 2 - hasil foto iphone 5s

Sering banget melintasi Museum Lampung, apalagi kalau mau keluar kota. Baru beberapa kali mengunjunginya. Namun baru kali ini bisa menulis tentang Museum Lampung ini. Padahal banyak sekali yang bisa dilihat dan dibahas tentangnya.

Night at Museum

Beberapa tahun lalu sempat diadakan program “Night at Museum”. Kawan-kawan komunitas pecinta sejarah Lampung, Lampung Heritage, ikut ambil bagian di acara ini dengan menjadi peserta. Banyak keseruan yang didapat, terutama cerita-cerita di balik benda-benda koleksi museum Lampung ini.

Saya ga ikutan di acara itu. Hanya membayangkan saja gimana kalau terjadi hal-hal seperti yang ada di film “Night At The Museum” yang diperankan oleh Ben Stiller, Carla Gugino, Dick Van Dyke, Mickey Rooney, Bill Cobbs, Robin Williams. Khayalannya tertalu tinggi. Tapi seru aja membayangkan hal-hal dalam film fantasi komedi itu terjadi di dunia nyata. Apalagi terjadinya di Museum Lampung, hehehe..

Saya tidak sempat ikutan acara tersebut, hanya berharap akan ada lagi program serupa diadakan oleh UPTD Meseum Lampung.

Museum Lampung - Yopie Pangkey - 13

Tempat membeli karcis masuk. diapit tangga menuju lantai dua.

Sejarah Museum Lampung

Museum Lampung mulai dibangun tahun 1975, peletakan batu pertama tahun 1978. Diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan, pada 24 September 1988. Bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di PKOR Way Halim.

Saat diberlakukan Otonomi Daerah, Museum Lampungmenjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Pendidikan. Sejak tanggal 1 Januari 2008 kedudukan museum berubah menjadi UPTD Dinas Pariwisata (Parekraf). Dan di tahun 2016 lalu, kembali menjadi UPTD Dinas Pendidikan. Mungkin karena ada pertimbangan lebih baik dengan pendekatan pendidikan ya untuk pengelolaannya.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 1

Lebih Dekat Dengan Koleksi Museum Lampung

Pertama kali saya masuk Museum Lampung kalau ga salah saat bersama rombongan study tour kelas 1 SMA. Sudah lama sekali pastinya, sudah lama apa yang sudah saya lihat saat itu. Sempat foto-foto beberapa koleksinya dengan kamera analog. Entah dimana film negatifnya sekarang.

Di saat semua serba digital, ini adalah kunjungan ketiga saya ke Museum Lampung. Bersama kawan-kawan dari Jakarta yang sedang melakukan eksplorasi pariwisata Lampung dalam tiga tahap. Beda dengan saat pertama kali masuk dan seterusnya, kali ini saya lebih mencoba memahami apa saja yang menjadi koleksi Museum Lampung ini. Mencoba lebih mengenal Budaya Lampung dan mencintai Lampung.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 5

Rumah Kenali di halaman depan Museum Lampung

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 6

Lumbung padi berasal dari Way Krap, Wonosobo, Tanggamus. Didirikan tahun 1880, dipindahkan ke Museum Lampung tahun 2001.

Melihat-lihat Koleksi Museum Lampung

Saat kita memasuki halaman museum Lampung, kita sudah disuguhi beberapa koleksi. Ada meriam kuno peninggalan masa penjajahan dan rumah panggung kayu berumur ratusan tahun yang dipindahkan dari desa Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat. Kalau sempat ke Lampung Barat, coba juga lihat rumah lainnya yang mirip yang sama-sama berumur ratusan tahun.

Di bagian kiri taman, bisa kita lihat Jangkar, pelampung kapal, dan bola besi. Bola besi terbut biasa digunakan di daerah tujuan transmigrasi pada 1953-1956. Digunakan untuk membuka lahan transmigrasi di wilayah Lampung Timur, Raman Utara dan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Seputih Banyak, dan Seputih Raman.

Memasuki bagian dalam Museum Lampung, kita bisa memilih untuk memulai lantai satu terlebih dahulu atau ke lantai dua.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 8

Salah satu pojok di lantai satu

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 7

Benda-benda peninggalan Radin Inten II, di lantai satu Museum.

(Baca: Wisata Sejarah – Mencontoh Semangat Kepahlawanan Radin Inten II )

Di lantai satu bisa kita temui berbagai peninggalan prasejarah, benda-benda zaman Hindu – Budha, zaman kedatangan Islam, masa penjajahan, dan paska kemerdekaan RI.

AlQuran tulis tangan

Prasasti Batu Bedil - Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey

Prasasti Batu Bedil.

Benda-benda pada masa kedatangan Islam antara lain: teko alpaka, talam, Prasasti Bohdalung berbahasa Jawa Banten, Alquran tulis tangan di atas kertas deluang, stempel Marga Sabu. Serta naskah 15 halaman di kulit kayu aksara Lampung berbahasa Lampung, Banten dan Arab.

Juga ada benda-benda peninggalan Radin Inten II. Serta beberapa prasasti seperti Prasasti Tanjung Raya II, Prasasti Dadak, Prasasti Ulu Belu, Prasasti Bawang, Prasasti Bungkuk, Prasasti Batu Bedil.

Di Lantai dua, kita akan menemui koleksi aksesori dua sub-etnik Lampung, yaitu Saibatin dan Pepadun. Kedua sub-etnik ini memiliki kekhasan masing-masing dalam ritual adat dan aksesorinya. Keduanya memiliki upacara daur hidup. Mulai dari upacara kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, perkawinan dan kematian. Dalam upacara-upacara daur hidup tersebut terkandung unsur falsafah bernilai luhur. Seperti nilai-nilai hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan supernatural.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 2

Pernak pernik ritual pernikanan Saibatin.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 11

Perahu lesung yang ditemukan di Terbanggii Besar. Diperkirakan berusia 120 tahun.

Masih banyak koleksi Museum Lampung yang tidak saya foto. Baiknya kamu datang dan lihat satu persatu secara langsung. Apalagi kalau kamu warga kota Bandar Lampung. Tidak susah dan jauh untuk sesekali datang dan melihat koleksi-koleksi yang ada.

Benda-benda Bernilai Sejarah

Menurut ibu Zuraida, Kepala UPTD Museum Lampung, koleksi museum Lampung itu harus mempunyai nilai sejarah. Tidak melulu soal usianya saja. Ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi koleksi museum.

Ada beberapa koleksi Museum Lampung yang merupakan hibah perorangan lho. Dan pihak museum khususnya serta Pemerintah Daerah sangat mengapresiasi hal tersebut. Bukan dilihat dari rupiahnya, namun nilai-nilai yang terkandung dari koleksi tersebut.

Nah kalau kamu punya barang-barang bernilai sejarah/budaya, bisa informasikan pihak Museum Lampung. Nanti bisa dirundingkan prosesnya. Bisa ganti rugi, bisa hibah, dan penitipan.

Di Februari 2016, koleksi Museum Lampung berjumlah 4751. Entah kalau saat ini sudah bertambah lagi. Dan siapa tau kamu punya sesuatu untuk dititipkan di Museum Lampung juga supaya koleksinya bisa bertambah dan bisa dinikmati banyak orang 😀

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 3

pernak-pernik ritual pemakaman.

Koleksi Museum Lampung - Yopie Pangkey - 4

Kain tapis berbentuk kain sarung. Terbuat dari benang kapas, bermotif dasar horizontal. Pada bidang tertentu diberi hiasan sulaman benang emas, benang perak, atau sutera.

Lokasi Museum Lampung

Museum Lampung sangat mudah dicari dan ditemukan. Perkiraan saya, hanya berjarak 300an meter dari terminal Rajabasa. Tidak jauh dari lampu merah pertigaan masuk kampus Unila. Dari Rajabasa terletak di sebelah kiri jalan, dengan pelataran parkir yang cukup luas.

Dari arah pusat kota Bandar Lampung, museum ini ada di sebelah kanan jalan H. Zainal Abidin Pagaralam. Berjarak sekitar 7,6 kilometer dari Tugu Adipura, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit di tengah hari melewati 5-6 titik kemacetan.

Lihat di Google Map

Jam Berkunjung Museum Lampung

Kita bisa berkunjung ke Museum Lampung setiap hari. Jadi tinggal pilih saja mau hari apa. Asal jangan saat libur nasional ya, karena Museum ditutup saat libur nasional. Perincian jam silakan catat ini:

Senin – Kamis : 08:00 – 14:00
Jumat : 08:00 – 10:30
Sabtu – Minggu : 08:00 – 14:00
Libur Nasional Tutup

Harga Karcis Masuk Museum Lampung

Harga tiket masuk Museum Lampung menurut saya sangatlah terjangkau/murah. Coba lihat daftar di bawah ini:

Anak-anak rombongan : Rp. 500
Anak-anak perorangan : Rp. 500
Dewasa Rombongan : Rp. 1.000
Dewasa Perorangan : Rp. 4.000

Gimana? Terjangkau bukan.

Karcis Museum Lampung - Yopie Pangkey - 14

(Seluruh Foto merupakan hasil foto iphone 5s)

Ayo Berkunjung ke Museum Lampung

Kalau saya perhatikan nih, animo warga Lampung untuk berkunjung ke museum dengan kesadaran sendiri itu masih minim sekali. Mungkin karena para warga Lampung (perorangan, keluarga, komunitas) lebih tertarik dengan wisata mainstream seperti ke pantai dan pulau.

Padahal dengan berkunjung ke museum kita bisa juga rekreasi sambil belajar. Boleh dibilang ada 60 persen unsur pendidikan dan 40 persen bersenang-senang, saat kita berkunjung ke museum. Kalau bisa bukan cuma menghabiskan waktu 15-30 menit saja. Kalau perlu berlama-lama di museum, dan jangan ragu untuk mencari tahu cerita dibalik koleksi-koleksi yang ada.

Kalau rasa ingin tahumu sudah tergugah, bisa jadi kamu akan berkunjung kembali untuk lebih mengamati dan lebih mempelajari koleksi Museum Lampung yang ada. Bagaimana menurutmu?


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂