Kopi Sekanak Tanjungpinang, Sensasi Minum Kopi Rempah ala Raja Melayu

Kopi Sekanak Tanjungpinang – Ada banyak macam tata krama dalam kehidupan kita, setiap daerah bisa memiliki tata krama masing-masing. Termasuk di kedai kopi, salah satunya di kedai kopi yang ada di Tanjungpinang. Ada tahap yang harus dilewati, hanya untuk menghirup dan menyesap secangkir kopi.

Tata krama dan filosofi kopi itu bisa kita pelajari di Kopi Sekanak Dapoer Melayu, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Satu kedai kecil yang hanya memiliki 5-6 meja dan 1 meja hanya terdiri 5-6 kursi pula. Ciri khas kedai kopi Melayu seperti kedai kopi di Aceh, Pontianak, Singkawang. Pengunjung bisa saling berinteraksi walau tidak saling kenal.

Tidak afdol ke kota-kota Melayu kalau tidak mampir ke kedai kopinya. Termasuk saat saya berkunjung kembali ke Kota Tanjungpinang untuk menyaksikan Festival Pulau Penyengat 2019. Di grup WA kawan-kawan trip bareng, saya pun umumkan ingin mampir ke beberapa kedai kopi yang ada di Tanjungpinang.

Seorang kawan yang tinggal di Pulau Penyengat bilang, saya harus mencoba Kopi Sekanak yang beda dari yang lain.

Saran yang sama datang dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Boer Alimar, saat kami bertemu di Pembukaan Festival Pulau Penyengat 2019, Kamis (14/2/2019) siang. Beliau sarankan untuk minum Kopi Sekanak saat sarapan atau di siang hari.

Namun saran tersebut berubah. Beliau mengajak kami ke Kopi Sekanak Dapoer Melayu di malam hari itu juga.

Air Sepang - Kopi Sekanak Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 6

Air Sepang.

Kayu Sepang - Kopi Sekanak Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 7

Kayu Sepang.

Baca juga: Tanjungpinang, Negeri Seribu Satu Kedai Kopi

Air Sepang

Singkat cerita, kami sudah berada di Kopi Sekanak Dapoer Melayu sekitar pukul 19:45 WIB. Seluruh meja yang ada sudah disiapkan khusus untuk kami serombongan. ‘Dato’ Teja Alhabd, seorang sastrawan asli Kepri, langsung menyambut kami.

Minuman pembuka kami malam itu adalah air sepang yang bewarna merah. Seperti teh, namun yang ini dihasilkan dari sebatang kayu Sepang yang ada di Tanah Melayu.

Dijelaskan oleh dato Teja Alhabd, air sepang mempunyai banyak khasiat. “Wanita yang meminum ini secara rutin maka sekujur tubuhnya akan mengeluarkan bau harum.

Selain itu, air rebusan kayu ini juga bermanfaat sebagai antibiotik. Kalau kepala pusing lalu meminum air sepang, rasa sakit itu dalam lima menit akan menghilang.” Datu Teja Alhabd menjelaskan.

Oya, kayu sepang dahulu adalah satu dari tiga hal yang diburu oleh Cheng Ho, selain rempah-rempah dan air liur naga (teripang).

Sebuah awal perjumpaan yang ajib dan sangat mengesankan dari Dato Teja Alhabd, pemilik Kopi Sekanak Dapoer Melayu.

Teja Alhabd pemilik Kopi Sekanak Waroeng Melayu Tanjungpinang- Yopie Pangkey - 1

Dato Teja Alhabd pemilik Kedai Kopi Sekanak Waroeng Melayu Tanjungpinang.

Ritual Minum Kopi Sekanak

“Jangan diminum dulu, ada SOPnya,” bang Teja Alhabd meminta kami jangan minum dulu sambil bercanda.

Wah ternyata ada tata krama dalam minum kopi Sekanak ini. Semakin menarik aja mendengarnya. Bang Teja Alhabd juga bertanya apakah kami biasa minum kopi. Karena ada tingkatannya di sini.

Malam itu kopi yang dihidangkan ada level 7, level 9, dan level 11. Saya lupa menanyakan lebih detail tentang level tersebut. Kalau saya tebak sih itu karena komposisi kopi dan campuran rempahnya. Saya dan pak Boeralimar mendapat kehormatan di level 11.

Orang Melayu biasanya menghirup harum kopi terlebih dahulu sebelum mengaduknya tanpa gula. Menyesapnya, akan terasa kegurihan khas kopi itu. Bagi yang tiak biasa minum kopi tentu akan merasa pahit. Seperti kehidupan yang kita lalui, terkadang ada yang pahit.

Kalau ingin menambahkan gula tambahkan. Kemudian kita aduk dengan mengngunakan potongan kayu manis, sehingga ada rasa manis di kopi. Meski demikian, rasa gurih rempah kopi Sekanak tetap tak akan mampu dikalahkan oleh rasa manis dari gula/susu/kayu manis.

Kopi Sekanak Tanjungpinang - Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 4

Kopi, kayu manis, kue batang buruk.

Kalau kita sabar menghadapinya akan lebih terasa manis dibanding minum kopi yang terasa pahit. Begitu kira-kira makna yang
terkandung di sesap pertama dan kedua.

Sensasi bertambah dengan adanya kue batang buruk yang menjadi pendamping kopi sejak ratusan tahun lalu. Batang Buruk disesap ke dalam mulut secara utuh. Rasa kopi Sekanak yang perlahan direguk membilas kue kering di mulut.

Kenikmatan ini hadir menggugah rasa yang berbeda. Bercampur dengan larutan kue batang buruk, gurihnya kopi menjadi sangat lezat dan sangat lembut.

Pecah di mulut jangan pecah di tangan, pesannya. Langsung masukkan kue Batang Buruk secara utuh ke dalam mulut. Kue ini makanan ringan khas orang Melayu. Bisa untuk menguji baik buruknya tingkah laku seseorang.

Kalau memakannya sambi bicara bisa nyembur. Jadi, kalau memakan, makan sampai habis dulu jangan mengobrol. Selesaikan di meja makan, itu kira-kira nilai adatnya.

Sebagai pelengkap Kopi Sekanak yang strong dan pahit di lidah. Rasa pahit akan hilang setelah Batang Buruk ikut mengamankan rasa di lidah.

Dato Teja bertutur, pada zaman dulu Batang Buruk adalah pertanda baik. Kalau seseorang dihidangkan Kopi Sekanak beserta kue Batang Buruk di tatakan, pertanda esok harinya dia akan dilantik.

Kopi Sekanak Tanjungpinang - Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 2

Foto bareng Dato Teja Alhabd.

Khasiat Kopi Sekanak

Zaman dulu, Kopi Sekanak adalah kopi yang disajikan di istana yang hanya dapat dinikmati oleh para anggota kerajaa. Tidak semua orang bisa meminumnya.

Diceritakan, permaisuri suka meminumnya karena mengandung antibiotik yang sangat tinggi. Rempahnya mengharumkan sekujur tubuh termasuk organ vital. Kalau dibawa kerja akan membangkitkan semangat, dibawa tidur akan nyenyak.

Diyakini, kopi yang dicampur dengan beragam rempah ini memiliki keistimewaan. Ada 7 rempah yang dilarutkan. Bukan obat, tapi memiliki khasiat dan ciri khas tersendiri.

Bila ditambahkan dua rempah khusus lagi ke dalam kopi sekanak, maka khasiatnya dapat lebih dahsyat. Khususnya untuk pasangan suami istri.

Kopi Sekanak Tanjungpinang - Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 5

paket lengkap: Kopi Sekanak, air sepang, kue batang buruk, air lima akar tunggal.

Filosofi Kopi Sekanak

Setelah minum kopi dan makan makanan khas Melayu, saya sempatkan mengobrol sedikit dengan Dato Teja Alhabd. Terungkap bahwa beliau meracik Kopi Sekanak ini selama dua tahun sampai komposisi kopi dan rempahnya pas, sehingga rasanya juga maksimal.

Menyinggung tentang budaya minum kopi di kota-kota Melayu di Indonesia, Dato Teja menjelaskan, mendekati orang Melayu dibutuhkan sebuah proses penyelaman etika. Kebanyakan orang Melayu tak bisa didekati dengan watak keras, butuh kelihaian membangun kesantunan.

Hal tersebut tergambar saat meminum kopi Sekanak. Jangan coba-coba menyeruput kopi Sekanak secara langsung. Bila nekad melakukannya, bisa-bisa ada ledakan rasa dalam perut dan kepala.

Sambil ngobrol dengan sesama pengunjung, Orang Melayu menikmati kopi Sekanak menggunakan batang kayu manis yang kering. Kayu manis itu dicelupkan ke dalam gelas kopi. Cairan kopi yang nempel di kayu manis itu diisap.

Butuh satu penghayatan untuk menyesap rasanya dan saat itulah kenikmatan kopi Sekanak hadir. Kenikmatan rasa kopi Sekanak memang sangat khas, berbeda dengan beragam kopi yang sedang mewabah di tempat lain.

Kopi Sekanak Tanjungpinang - Waroeng Melayu - Yopie Pangkey - 3

Banyak khasiat dalam Kopi Sekanak Tanjungpinang ini.

“Inilah secangkir kopi sekanak. Hiruplah! Dan kau akan rasakan ketagihan keladak pahitnya, sesap asamnya, hitam daki coffeinnya, pesona cangkir poselen Cina, yang akan membuat kau selalu mengingatnya. Sesaplah agar kita tak pernah melupakan sejarah!” Rida K Liamsi.

Sejarah Kopi Sekanak

Dato Teja bercerita bahwa dirinya mendapat resep Kopi Sekanak di tahun 2012 dari salah satu tokoh di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Resep itu didapatkannya dari kitab warisan sejarah Tabib Kerajaan.

Kopi Sekanak diracik oleh Tabib Kerajaan Kesultanan Riau-Lingga pada abad awal 20. Kopi rempah tersebut biasanya diracik untuk dihidangkan kepada para tamu kerajaan.

Dinamakan Sekanak berdasarkan cerita dari kitab yang dituliskan Tabib. Pada zaman dahulu seputaran hilir dan hulu perempatan daerah kekuasaan kerajaan Kesultanan Riau-Lingga terdapat arus air laut yang kuat, menerjang kapal-kapal kerajaan dan sulit menempuhnya. Selat itu dinamakan Sekanak.

Di sekitar situ banyak ditanami pohon kopi. Sehingga saat ada kapal bersandar, kopilah yag menjadi minuman jamuan kerajaan. Sumber rempah juga banyak dan alami. Ditambah lagi, raja juga gemar minum kopi. Kopinya sendiri, Kopi Suma Oriental, adalah warisan dari pengelana laut asal Tiongkok (Cina), yang diracik dengan hati.

Dipadukan dengan sensasi 7 rempah pilihan. Gabungan kopi dan rempah tersebut meghasilkan rasa yang gurih, nikmat, dengan aroma harum.

Kopi Suma Oriental yang disukai Laksamana Chengho ini hanya dapat dinikmati secara diam-diam oleh masyarakat umum.

Kopi Sekanak Dapoer Melayu bersama Kepala Dinas Pariwisata Kepri Boer Alimar

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, pak Boer Alimar, juga sering minum kopi di sini.

Baca juga yang ini ya: Pesona Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau

Kedai Kopi Sekanak Tanjungpinang

Di Dapoer Melayu, Kopi Sekanak menjadi menu utama. Dihidangkan dengan cangkir porselen Tiongkok yang bisa membuat kenikmatan rempah cepat menyatu kala diseduh.

Saat menghirup aromanya, kita bisa merasakan uap wangi cengkih dan kayu manis. Menggugah selera minum kopi. Menyesap kopinya, membuat ilham dan ide lancar muncul dalam pikiran, seiring dengan kayanya rasa seduhan kopi tersebut.

Dulu sama sekali ga suka yang namanya kopi rempah. Tapi kali ini saya akui, kopi rempah Sekanak ini luar biasa rasanya.

Penasaran? Datang saja langsung ke Kopi Sekanak Dapoer Malayoe di Jalan Sultan Machmud, Kelurahan Tanjung Unggat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Lumayan banyak informasi di atas yang saya sadur dari berbagai sumber. Mudah-mudahan bermanfaat. Lain waktu bakal mampir lagi untuk menghirup dan menyesap nikmatnya Kopi Sekanak Tanjungpinang. Nikmatnya budaya minum kopi peninggalan Kerajaan Melayu.


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂