Alunan Merdu Gurindam 12 dan Secangkir Kopi di Festival Pulau Penyengat 2019

Gurindam Dua Belas – Kemarin siang, Kamis (14/02/2019), halaman Balai Adat Pulau Penyengat ramai dengan muda-muda Kepulauan Riau.  Pelajar berusia 15-17 tahun dari Pulau Penyengat dan Kota Tanjungpinang mengikuti Lomba Membaca Gurindam Dua Belas di Festival Pulau Penyengat 2019.

Matahari lumayan terik. Ada tarub besar memanjang memenuhi setengah halaman Balai Adat. Penonton dan peserta lomba duduk santai. Menunggu giliran tampil dan menikmati suguhan budaya yang memiliki makna luhur. Nasihat agama yang dikemas dalam syair indah Gurindam XII.

Saya memilih duduk di luar area Balai Adat, di sebuah kedai yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Rujak tahu yang didominasi mie kuning, ada rujak, es cendol, kopi O, es teh Obeng (es teh manis), dan lain-lain.

Mendengarkan lantunan sambil menyesap kopi O (kopi hitam) tanpa gula. Mendengar nasihat-nasihat agama sambil membayangkan pahitnya kehidupan dunia dan akhirat 😀

Memang ada hubungan ya antara Gurindam Dua Belas, segelas kopi hitam pahit, dan kehidupan yang sudah kita lalui. Pantas saja mau berkali-kali datang ke Pulau Penyengat dalam 4 (empat) tahun terakhir ini.

Kok curhat. Kita kembali saja ke urusan pariwisata Kepulauan Riau ya.

Festival Pulau Penyengat 2019 - 3

Para penonton lomba baca Gurindam Dua Belas.

Gurindam Dua Belas di Festival Pulau Penyengat 2019

Lomba Gurindam XII selalu masuk dalam rangkaian acara Festival Pulau Penyengat. Termasuk tahun 2019 ini yang diikuti oleh pelajar usia 15-17 tahun dari Kota Tanjungpinang. Mereka berlomba dalam melantukan lagu, logat, dan artikulasi. Demikian dijelaskan oleh seorang warga di kedai.

Kembali seruput kopi yang berasa gosong, lantunan gurindam terus terdengar dengan jelas. Saya sih berpikir, ini tidak beda dengan lomba tilawatil Qur’an. Bedanya ini membaca gurindam, sejenis puisi lama Nusantara yang terdapat dalam masyarakat Melayu dan dipengaruhi oleh budaya Arab.

Lantunannya terasa merdu dan meneduhkan hati yang sedang gundah gulana. Cuaca yang panas terkadang membuat kita terkantuk, terbayang ademnya kamar di hotel di dekat Pelabuhan Pulau Penyengat. Namun fasal-fasal berisi nasehat terdengar seperti bunyi guntur di siang hari bolong. Menyadarkan kita dari rasa kantuk dan buaian mimpi setengah sadar.

Sudah tiga kali ke Pulau Penyengat, dan saya sadar belum khatam Gurindam 12, dalam hal praktek. Kalau membaca mungkin sudah beberapa kali, bahkan sempat hapal waktu SD.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang Syafaruddin, bilang begini kemarin Kamis (14/2/2019): “Gurindam XII sebenarnya refleksi dari Al Qur’an dan Hadist. Jadi, Gurindam merupakan puisi lama karya luar biasa. Yang dinilai adalah teknik membacanya. Gurindam XII bisa dibuat dendang, tapi juga bisa dibawakan dengan langgam Jawa. Sekarang dengan irama syair.”

Mengutip dari rilis Kementerian Pariwisata, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani bilang, “Semua petuah dari Gurindam XII ini benar adanya. Isinya pun sangat menginspirasi dengan kedalaman makna.”

Benar kan, Gurindam 12 ini memang benar-benar menyentuh kehidupan riil kita. Sebuah warisan luar biasa dari leluhur Melayu di Pulau Penyengat.

Festival Pulau Penyengat 2019 - 2

Salah seorang peserta lomba baca Gurindam Dua Belas. (foto: ist)

Sejarah Gurindam 12

Karya populer ini diciptakan oleh Raja Ali Haji pada 1264 Hijriah atau 1847 Masehi. Terdiri dari 12 pasal dengan 60 bait. Ada 5 ciri utama dalam setiap pasal Gurindam XII. Ada ciri rangkap, perkataan, suku kata, rima, dan setiap bait memiliki makna. Secara khusus, rangkap bermakna setiap baris berisi syarat atau makna yang saling melengkapi dan berkesinambungan.

Saya cari ke berbagai sumber. Ternyata Gurindam Dua Belas ini tercipta karena rasa prihatin Raja Ali Haji tehadap kondisi yang membayakan terhadap kehidupan masyarakat Melayu Kerajaan Riau-Lingga.

Raja Ali Haji merasa bertanggungjawab secara moral untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi agama dan budaya Islam yang harus menjadi pegangan hidup masyarakat Melayu.

Melalui Gurindam yang mempunyai 12 pasal inilah beliau berusaha agar agama dan adat-istiadat bernafaskan Islam bisa hidup kembali dalam kehidupan masyarakat melayu Kerajaan Riau-Lingga.

Setiap perkataan dalam setiap baris Gurindam XII antar pasal tidak tetap. Hanya saja, baris kedua menjawab persoalan di baris pertama. Suku kata bisa dikatakan tidak mengikat jumlahnya.

Gurindam XII punya rima yang khas. Rimanya tidak terikat, baik sajak atau akhir liriknya. Menjadi penyampai petuah, setiap baitnya memiliki makna tersendiri.

Gurindam Dua Belas Pasal 1 dan Pasal 2.

Gurindam Dua Belas Pasal 1 dan Pasal 2.

Nilai Moral Gurindam Dua Belas

Gelas pertama kopi O pahit, gelas kedua saya memesan kopi susu. Dari halaman Balai Adat terdengar lantunan Pasal 1 yang terdiri dari 6 bait. Seorang pelajar peserta lomba membacakan: “Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang yang ma’rifat.”

Pasal 1 ini mengajarkan tentang konsep Ketuhanan hingga memunculkan rasa damai. Mengajarkan 4 ajaran; syari’at, ma’rifat, tarikat dan hakikat. Kita bisa tenang kalau bisa memahami 4 hal tersebut.

Pelajar tersebut melanjutkan bacaannya, “Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia mudarat.”

Kehidupan dunia ini memang hanya sesaat kan. Dunia ini bukan tempatnya kekekalan, karena kita semua akan meninggalkannya. Perbanyak amalan selama di dunia, untuk persiapan kehidupan selanjutnya. Begitu kira-kira yang bisa kita ambil hikmahnya.

Gurindam Dua Belas - Gurindam 12 - Gurindam XII - Festival Pulau Penyengat 2019 - Razib

Pelajar pria sedang ikuti lomba baca Gurindam XII. (foto: Razib)

Baca juga: Meriahnya Acara Pembukaan Festival Pulau Penyengat 2019

Wisatawan Mengenal Detail Budaya Melayu di Festival Pulau Penyengat 2019

Memang sih, tidak harus datang ke Pulau Penyengat untuk sekadar tahu budaya Melayu. Namun beda rasanya kalau kita bisa merasakan lewat panca indera kita langsung di tempat budaya tersebut berasal.

Artikel ini pun langsung saya selesaikan di Pulau Penyengat, Jumat (15/02/2019). Saat acara lomba Berbalas Pantun dan Lomba Kompang sedang berlangsung.

Pesan-pesannya begitu menyentuh. Banyak yang bisa wisatawan pelajari. Menjadi pengalaman luar biasa saat jalan-jalan menikmati libur akhir pekan di Pulau Penyengat.

Saya kutip lagi dari rilis Kemenpar. Menteri Pariwisata Arief Yahya pun berpendapat bahwa Festival Penyengat selalu memberikan input positif. Para wisatawan semakin mengenal detail dari budaya Melayu.

Beruntung sekali bisa menikmati secara langsung lantunan Gurindam Dua Belas yang memiliki keindahan seni yang dihiasi dengan tuntunan moral. Isinya singkat, padat, bisa mudah kita terima.

Dua gelas kopi pahit dan manis hanya sebagai teman saja. Pelestarian karya sastra bangsa Indonesia yang mulia tetap nomor satu.


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂