7 Alasan Jalan-jalan (Hanya) di Daerah Sendiri

Saat memasuki tahun 2016 ini selain melihat kedepan saya juga melihat ke belakang. Tepatnya mulai Januari 2011,sekitar 10 bulan sebelum lahirnya @kelilinglampung dan blog Keliling Lampung. Melihat apa saja yang sudah saya foto, sudah ke tempat wisata di Lampung mana saja dan mengapa saya memilih memotret itu.

Selama ini saya memang hanya fokus hunting foto dan “sedikit cerita” di blog Keliling Lampung, karena kebiasaan saya memotret dirasa lebih dibanding kebiasaan menulis, hehehe.. Itupun tidak semua di-posting di blog. Banyak cerita yang sepertinya lebih baik untuk disimpan, dan biarkan orang lain saja yang menceritakan keindahan-keindahan yang sudah saya lihat itu.

Tak sedikit sebagian stok foto saya selama beberapa tahun itu hilang. Hilang karena harddisk laptop jebol dan tidak sempat melakukan backup ke external hard disk. Sekali waktu saat melakukan backup dari satu harddisk ke harddisk lain, tiba-tiba listrik padam. Dan apa yang terjadi.. kedua harddisk saya itu jebol. huuhuhu…
Kenangan dua tahun pun hilang begitu saja dalam sekejap.

Sejak dari kejadian itu saya mulai berpikir untuk menulis di blog. Pernah dengan ungkapan yang kira-kira begini bunyinya; “Kamu menulis kamu hidup”. Jadi kalau kita menulis, kisah kita itu masih bisa dibaca oleh orang lain walau kita sudah tiada. Begitu kira-kira maknanya.

Selama di Aceh saya gunakan banyak waktu untuk jalan-jalan ke beberapa tempat yang menurut saya eksotis bersama kawan-kawan. Mumpung tinggal dan kerja di sini kapan lagi bisa kemari, iya ga?? Dan sekarang menyesal mengapa tidak saya catat semua cerita beserta foto-fotonya ke dalam blog.

Selain Aceh, ada beberapa daerah lagi yang sudah pernah saya kunjungi. Di Sumatera sempat tinggal di Bengkulu beberapa bulan. Mondar-mandir Medan, Palembang, Jambi. Mampir di Padang dan Pekanbaru. Semua tempat ada keindahan masing-masing, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kita tidak bahas itu ya 🙂

Takengon di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Takengon di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Bromo

Bromo

Saat masih di luar Lampung sering banget berpikir untuk bisa lebih banyak mengunjungi tempat2 menarik di daerah saya dibesarkan, yaitu Lampung. Seringkali merasa iri melihat postingan kawan-kawan di facebook yang memperlihatkan keindahan-keindahan Lampung. Mulai dari lumba-lumba di sekitar teluk Kiluan, Anak Krakatau, danau Ranau dan lainnya.

Erupsi Anak Krakatau tahun 2011

Erupsi Anak Krakatau tahun 2011

Lumba-lumba di sekitar teluk Kiluan

Lumba-lumba di sekitar teluk Kiluan

Dan akhirnya kontrak kerja pun selesai, meski berat meninggalkan banyak sahabat saya harus kembali ke Lampung. Asiknya nih, bakal bisa menghabiskan waktu bersama keluarga yang selama ini sering saya tinggal. Dan saya bisa lebih fokus untuk Keliling Lampung 🙂

Alhamdulillah, sejak Febuari 2010 sampai sekarang (15 Januari 2016), saya sudah ke beberapa tempat di Lampung yang sebelumnya sudah saya kunjungi dan belum pernah saya kunjungi. Beberapa tempat itu malah belum pernah dikunjungi sama sekali oleh banyak kawan-kawan yang tinggal di Lampung.

Lalu singkat cerita, di pertengahan November 2015, melalui Fajrin Herris, saya diminta untuk gabung di sebuah acara bincang-bincang yang diadakan di sebuah cafe di Bandar Lampung bernama Kedai Union. Topik yang diminta oleh owner Kedai Union, “Live in Tapis Hometown”. Jadi saya diminta bercerita kenapa saya betah tinggal di Lampung dan kenapa hunting foto Keliling Lampung saja.

Dan pada 4 Desember, akhirnya saya ngalor ngidul bercerita melalui foto-foto kenapa saya memilih untuk menekuni jalan-jalan di Lampung. Ya, secara visual sepertinya mudah untuk dicerna ya. Dan Baru kali ini presentasi beberapa waktu lalu itu saya tuangkan ke tulisan di blog baru ini.

Apa saja alasan saya hanya jalan-jalan (hanya) di Lampung, simak saja yuk…

(1) Banyak Kenangan
Dari balita sampai kerja di Bandar Lampung, secuil demi secuil kejadian terekam dalam memori otak. Teringat waktu SMP pernah diajak jalan-jalan bareng kantornya nyokap ke Bendungan Way Rarem di Kotabumi. Juga ingat pernah ke air terjun Way Lalaan, Kota Agung.

Saat ini muncul keinginan untuk kembali ke tempat-tempat yang pernah saya kunjungi saat kecil dulu. Dan alhamdulillah keinginan tersebut terlaksana tahap demi tahap dalam waktu 4 tahun terakhir ini.

Way Rarem - Kota Bumi

Ingat pernah ke Way Rarem – Kota Bumi, bersama mama, saat masih kecil dulu.

Pulau Maitam

Punya banyak kenangan saat camping bersama kawan-kawan SMA

(2) Dekat dengan Kawan-kawan
Kawan boleh ada di mana saja, tetapi kawan yang dekat tentu berbeda. Jalan-jalan di daerah sendiri bersama kawan-kawan dekat tentu mempunyai rasa tersendiri. Tak ada saling ga enak, tak ada sungkan, tak ada malu. Hal-hal luar biasa selama jalan-jalan mungkin saja terjadi 😀

Krakatau Flying Club di Pesisir Barat

Krakatau Flying Club di Pesisir Barat

Bersama kawan-kawan nongkrong minum kopi, di pulau Pisang

Bersama kawan-kawan nongkrong minum kopi, di pulau Pisang

(3) Dukungan dari Keluarga
Dukungan bisa dari jauh juga sebenarnya. Tetapi saat dukungan itu datang dari dekat akan berasa berbeda tentunya. Dukungan bukan hanya dari kata-kata saja, tetapi bisa berupa menemani kita jalan. Kita akan senang toh, kalau ada anggota keluarga kita yang mencoba mengikuti hobi kita jalan-jalan 🙂

Farhan di Tanjung Putus

Farhan di Tanjung Putus, saat masih SMP sudah berani snorkel di tempat dalam 🙂

(4) Tau Kapan dan Dimana Harus Berbelok Arah
Sudah seharusnya kita tau tempat tujuan kita saat kita jalan-jalan di daerah sendiri. Kita tau dimana rumah makan, bengkel, pom bensin. Juga termasuk arah Utara Selatan Timur Barat. Saya tidak terlalu kawatir dan bisa sejenak melupakan untuk bertanya ke google 🙂

Jembatan Umbul Kunci, Bandar Lampung

Jembatan Umbul Kunci, hanya 30 menit dari pusat kota Bandar Lampung.

(5) Hemat
Jalan-jalan di daerah sendiri, saya bisa memilih untuk mampir dimana saja. Termasuk untuk mampir di rumah saudara, rumah sahabat, atau rekan kerja untuk sekedar minum kopi atau makan siang. Kalaupun makan bayar sendiri, toh jalan2 di daerah sendiri tidak akan makan terlalu banyak biaya bahan bakar dan waktu. Semua terasa dekat.

Batu Granit Tanjung Bintang

Batu Granit Tanjung Bintang

Gigi Hiu- Batu Layar Pegadungan

Batu layar Pegadungan, tak perlu keluar uang banyak untuk kemari.

(6) Kenal Banyak Orang
Mengerti bahasa yang diucapkan, budaya dan kebiasaan yang berlaku, saya merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat lokal. Lebih mudah bagi untuk melakukan pendekatan saat berkunjung ke suatu tempat yang belum pernah saya datangi.

Air Terjun Batu Duduk di Banjit

Menuju Air Terjun Batu Duduk di Banjit, banyak mendapat kenalan warga lokal.

Geredai

Bertemu dan kenal banyak orang di perjalanan. Salah satunya saat mengunjungi Geredai, Liwa, Lampung Barat.

(7) Bisa Ikut Banyak Acara
Saat masih di luar Lampung, rasanya begitu iri melihat kawan-kawan lama bisa rutin mengikuti beberapa festival yang diadakan di Lampung, baik gelaran provinsi maupun kabupaten/kota. Begitu sudah menetap, tinggal pilih mana saja yang mau didatangi. Bahkan bisa berulang-ulang mengikuti beberapa acara tersebut setiap tahunnya. Asiik kan..

Festival Krakatau 2015

Festival Krakatau 2015

Festival Teluk Semaka 2014

Festival Teluk Semaka 2014

 

Masih banyak alasan-alasan lain kenapa saya banyak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Lampung akhir-akhir ini. Ada yang mau menambahkan alasan-alasan itu? 🙂

(Foto: Yopie Pangkey)