Hari itu di Desa Bangun Rejo terasa biasa saja.
Tidak ada yang benar-benar dramatis. Tidak ada pemandangan yang langsung membuat saya berhenti dan berkata, “ini luar biasa.” Hutan di kejauhan tampak seperti hutan pada umumnya. Hijau dan tenang.
Tapi justru dari ketenangan itulah saya mendengar cerita yang pelan-pelan terbuka.
Saya datang untuk melihat hasil rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Itu saja. Dalam bayangan saya, ini akan jadi cerita tentang pohon: berapa banyak yang ditanam, jenis apa saja, dan sejauh mana keberhasilannya.
Ternyata saya tidak sepenuhnya benar.
Air yang Tidak Lagi Ditunggu

Dusun Wonorejo, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Punduh Pedada, Pesawaran, cerita yang menarik perhatian saya bukanlah tentang pohon, tapi tentang air.
Dulu, warga harus berjalan cukup jauh sambil membawa jeriken. Mereka berangkat ke mata air terdekat sejak sore, sekitar pukul lima, dan baru selesai ketika hari sudah gelap.
Air bukan sesuatu yang tersedia. Air adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
Saya membayangkan rutinitas itu.
Berjalan, menunggu, membawa beban pulang. Mengulanginya setiap hari. Anak-anak ikut membantu. Waktu belajar berkurang, tenaga terkuras.
Dan yang paling terasa: hidup jadi sempit, hanya berputar di kebutuhan paling dasar.
Hari ini, cerita itu berubah.
Air sudah mengalir lebih dekat ke rumah. Tidak lagi harus ditunggu berjam-jam. Tidak lagi harus menjadi beban harian yang melelahkan.
Saat saya ke kamar mandi rumah Supomo, air mengalir tidak hentinya. Air keluar dari selang, berasal dari mata air di area RHL, sekitar 2-3 kilometer dari rumah.
Perubahan itu terlihat sederhana dari luar. Tapi kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar soal akses air.
Ini tentang waktu yang kembali.
Tentang tenaga yang bisa dialihkan.
Tentang hidup yang perlahan jadi lebih longgar.
Dan dari situ, saya mulai memahami sesuatu: reboisasi ternyata punya cara yang sangat sunyi untuk mengubah kehidupan.
Kebiasaan Lama, Dampak yang Panjang
Saya kemudian bertanya kepada Supomo, atau Pomo, begitu ia biasa dipanggil.
Dari ceritanya, saya melihat sisi lain dari kerusakan hutan. Bukan tentang eksploitasi besar-besaran, tapi tentang kebiasaan yang berlangsung lama.
Dulu, mereka menanam kopi tanpa naungan. Pohon besar ditebang agar sinar matahari masuk penuh. Logikanya sederhana: semakin banyak cahaya, semakin bagus panen.
Dan memang, dalam jangka pendek, itu berhasil.
Tapi alam selalu punya cara untuk “mengingat”.
Tanah perlahan kehilangan kesuburannya. Air menghilang. Lingkungan jadi tidak stabil.
“Dulu kami hanya berpikir panen jangka pendek,” kata Pomo.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi terasa seperti refleksi yang lebih luas. Tentang bagaimana kita sering membuat keputusan hari ini tanpa memikirkan dampaknya nanti.
Menanam Pohon Itu Mudah. Mengubah Cara Pandang, Tidak

Ketika program rehabilitasi hutan mulai berjalan sekitar 2019 hingga 2021, ribuan bibit ditanam di kawasan ini.
Pala, cengkeh, kemiri, durian, petai. Beragam jenis pohon mulai mengisi kembali ruang-ruang yang sebelumnya terbuka.
Tapi semakin lama saya berada di sana, semakin saya sadar:
Menanam pohon bukan bagian tersulit dari reboisasi.
Yang jauh lebih sulit adalah mengubah cara manusia memandang hutan.
Di awal, tidak semua orang yakin. Ada kekhawatiran produksi kopi akan menurun jika ditanam berdampingan dengan pohon besar. Ada rasa ragu untuk meninggalkan cara lama yang sudah terasa “aman”.
Dan itu wajar.
Karena perubahan, dalam bentuk apa pun, hampir selalu terasa tidak nyaman di awal.
Negosiasi antara Hari Ini dan Masa Depan
Seiring waktu, pendekatan baru mulai diterapkan: agroforestri.
Kopi tidak lagi berdiri sendiri. Kopi tumbuh bersama pohon-pohon lain. Yang memberi naungan, menjaga tanah, dan membantu mempertahankan air.
Di sela-sela itu, warga tetap menanam kebutuhan jangka pendek. Ada pisang, cabai, dan sayuran lainnya.
Di titik ini, saya melihat sesuatu yang menarik.
Ini bukan sekadar praktik bertani. Ini adalah negosiasi.
Negosiasi antara kebutuhan hari ini dan keberlanjutan masa depan.
Antara ekonomi dan ekologi.
Antara bertahan hidup dan memperbaiki hidup.
Dan yang mengejutkan, keduanya ternyata bisa berjalan berdampingan.
Hutan yang Pelan-Pelan “Kembali”
Perubahan di Bangun Rejo tidak datang dengan cepat. Tidak ada momen instan yang langsung mengubah segalanya.
Tapi waktu bekerja dengan cara yang konsisten.
Pohon-pohon mulai dan terus tumbuh. Tajuk mulai terbentuk. Pohon-pohon merindang. Tanah kembali menyimpan air.
Bahkan, sekitar 15 mata air baru mulai muncul di kawasan ini.
Angka itu penting. Tapi yang lebih penting adalah maknanya:
Alam tidak benar-benar hilang. Alam hanya menunggu kesempatan untuk pulih.
Belajar dari Ketidaksempurnaan
Tentu saja, perjalanan ini tidak sempurna.
Ada pohon yang tumbang karena angin. Ada tanaman yang belum berbuah. Tidak semua harapan langsung terwujud.
Dan justru di situlah cerita ini terasa jujur.
Karena kita sering terbiasa dengan narasi sukses yang rapi, yang seolah semua berjalan lancar.
Padahal kenyataannya, perubahan selalu datang dengan proses yang tidak lurus.
Kadang maju. Kadang berhenti. Kadang terasa tidak jelas arahnya.
Tapi tetap berjalan.
Menanam Lebih dari Sekadar Pohon
Yang dilakukan Kelompok Tani Hutan Sido Makmur di Bangun Rejo pada akhirnya bukan hanya soal menanam pohon.
Mereka membangun sesuatu yang lebih dalam.
Mereka belajar mengelola hutan.
Belajar mengambil keputusan bersama.
Belajar melihat hutan sebagai sistem, bukan sekadar lahan.
Dengan kata lain, mereka menanam cara berpikir baru.
Tentang Waktu, dan Apa yang Kita Pilih
Sebelum pulang, saya kembali mengingat satu kalimat dari Pomo:
“Hutan yang hidup itu seperti tabungan.”
Kalimat itu terus terngiang.
Karena mungkin, itulah inti dari semua ini.
Selama ini, kita sering terburu-buru. Ingin hasil cepat, perubahan cepat, keuntungan cepat.
Padahal hutan mengajarkan sesuatu yang berbeda. Bahwa hal-hal yang benar-benar penting justru membutuhkan waktu.
Dan ketika kita akhirnya bersedia memberi waktu itu. Kepada alam, kepada proses, bahkan kepada diri sendiri. Sesuatu yang pelan tapi pasti mulai kembali.
Air kembali mengalir.
Tanah kembali hidup.
Dan manusia, pelan-pelan, belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.