Idoy dan Hutan Kemiri: Cerita dari Lereng Sunyi Register 21

Idoy dan Hutan Kemiri Cerita dari Lereng Sunyi Register 21 Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 3
Dahyoto (Idoy) di hutan kemiri yang dibangunnya bersama dengan tanaman pala dan cengkeh. (Foto arsip pribadi)

Saya pernah berjanji pada Idoy untuk mampir, bahkan menginap di dusunnya.

Akhirnya pagi itu, Idoy menjemput saya di desa tetangga, Desa Sumber Jaya. Tidak banyak basa-basi. Seperti orang yang sudah lama kenal, ia meminta saya segera menghabiskan kopi agar kami bisa langsung berangkat.

Idoy, petani agroforestri yang sudah lama tinggal di Dusun Bumiayu, tidak banyak menunggu. Kami sempat mampir ke bengkel kecil untuk menambah angin ban. Mungkin untuk mengimbangi tubuh saya yang terasa kurang sebanding dengan ukuran motor yang kami pakai.

Saya dibonceng Idoy, melintasi kawasan hutan lindung. Jalan tanah sempit, di beberapa bagian berupa tanjakan dan turunan curam yang terasa lebih tajam saat dilalui dengan motor tua yang kami tumpangi.

Sesekali roda tergelincir tipis, tapi Idoy tampak hafal betul medan ini. Tangannya santai di setang, seolah jalan seperti ini adalah halaman rumahnya sendiri.

Menjelang sampai, jalan setapak berubah. Batu-batu tersusun rapi. Tidak sempurna, tapi cukup membuat motor lebih stabil. Idoy menyebutnya sambil lalu, “ini warga dusun yang susun bareng-bareng.”

Saya langsung tahu, ini bukan jalan biasa.

Dusun yang Tumbuh dari Lereng

Dusin Bumiayu Desa Babakan Loa - Register 21 - Yopie Pangkey 4
Dusin Bumiayu, Desa Babakan Loa. Tempat Dahyoto memilih untuk tinggal. (Foto arsip pribadi)

Dusun Bumiayu terletak di bagian barat daya Desa Babakan Loa, Kecamatan Kedondong, Pesawaran. Letaknya diapit lereng-lereng kawasan Register 21.

Dari atas, yang terlihat pertama adalah hijau. Bukan hijau yang rapi seperti kebun monokultur, tapi hijau yang berlapis. Pohon kemiri, cengkeh, pala, kopi, kakao. Semuanya tumbuh dalam satu ruang yang sama.

Tidak ada garis tegas antara hutan dan kebun.

Dahyoto, nama aslinya, tinggal di sini sejak lahir. Ia bukan pendatang yang datang dengan konsep atau proyek. Ia tumbuh bersama perubahan itu sendiri.

“Dari dulu memang bertani. Tapi tidak selalu seperti ini,” katanya.

Dari Padi ke Pohon

Idoy dan Hutan Kemiri Cerita dari Lereng Sunyi Register 21 Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 7
Dari padi menjadi kemiri. (Foto arsip pribadi)

Di satu titik, kami berhenti di kebunnya. Ia menunjuk beberapa pohon kemiri yang sudah tinggi, sebagian lagi masih muda.

Dulu, kata Idoy, warga mengandalkan padi dan palawija. Tapi di wilayah perbukitan seperti ini, hasilnya tidak pernah benar-benar pasti.

Air tergantung hujan. Tanah mudah terkikis.

Ia mulai menyadari sesuatu yang sederhana: cara lama tidak selalu cocok dengan kondisi sekarang.

Alih-alih pergi merantau, Idoy memilih tinggal. Ia mencoba menanam kemiri. Pelan-pelan. Tidak banyak bicara ke orang lain.

“Masyarakat lebih percaya apa yang dilihat. Ada bukti baru mereka tiru,” katanya.

Dan memang, itu yang terjadi.

Bertani dengan Akal Sehat

Foto Gambar Agroforestri Kebun Hutan Kemiri di Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 2
“Penyuluh dari KPH Pesawaran Dinas Kehutanan Provinsi Lampung sering kemari,” kata Idoy. (Foto arsip pribadi)

Yang dilakukan Idoy sebenarnya tidak rumit. Ia menanam kemiri sebagai tanaman utama, lalu mengisi sela dengan kopi, kakao, lada, bahkan palawija.

Bukan sekadar soal variasi tanaman, tapi soal cara berpikir.

Kemiri memberi naungan. Tajuknya menahan air hujan agar tidak langsung menghantam tanah. Akar-akarnya menahan lereng.

Tanaman lain ikut hidup di bawahnya.

Sistem agroforestri ini tidak hanya menghasilkan, tapi juga menjaga.

“Kalau padi, panen sekali selesai. Kalau ini, hampir sepanjang tahun ada hasil,” katanya.

Saya melihat sendiri. Kebunnya tidak pernah benar-benar “kosong”.

Jalan yang Dibangun Tanpa Proyek

Idoy dan Hutan Kemiri Cerita dari Lereng Sunyi Register 21 Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 1
Untuk ukuran jalan setapak di tengah hutan, ini termasuk rapi kan?

Dalam perjalanan masuk tadi, saya sempat bertanya soal jalan batu itu.

Idoy tertawa kecil.

“Itu bukan bantuan. Kami bikin sendiri.”

Masalah terbesar di dusun ini bukan menanam, tapi mengeluarkan hasil panen. Jalan tanah jadi licin saat hujan. Motor sulit lewat.

Akhirnya, warga menyusun batu satu per satu. Gotong royong. Tanpa upah.

Hasilnya tidak sempurna. Tapi cukup.

“Kalau jalannya susah dilalui, panen banyak juga percuma,” kata Idoy.

Kalimat yang terdengar sederhana, tapi menjelaskan banyak hal.

Belajar dari Dapur

Foto Gambar ternak kambing Register 21 Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 5
(Foto arsip pribadi)

Hal lain yang menarik dari Idoy adalah cara dia belajar.

Ia tidak punya latar belakang pendidikan pertanian formal. Tapi ia terus mencoba hal baru.

Belakangan, ia mengolah sisa dapur jadi pupuk organik dari kulit pisang, air cucian beras, ampas sayur. Ia menyebutnya hasil belajar dari pelatihan eco-enzyme.

Setelah eco-enzyme jadi, ia pakai di kebun kopi dan kakao.

“Lumayan. Daun lebih hijau,” katanya.

Tidak ada klaim besar. Tidak ada istilah teknis yang berlebihan. Hanya pengamatan sederhana yang berulang.

Ekonomi yang Tidak Meledak, Tapi Stabil

Dari kebunnya, Idoy punya lebih dari 200 batang kemiri produktif.

Dalam setahun, ia bisa menghasilkan sekitar 1,5 sampai 2 ton. Dijual ke pengepul dengan harga sekitar Rp12.000–Rp15.000 per kilogram.

Ditambah kopi dan kakao, penghasilannya memang tidak besar.

Tapi cukup.

“Yang penting tidak kosong,” katanya.

Kalimat itu lagi-lagi sederhana, tapi terasa tepat. Di tempat seperti ini, stabilitas lebih penting daripada lonjakan.

Bertahan adalah Pilihan

Banyak orang seusia Idoy memilih pergi. Mencari kerja di kota. Meninggalkan dusun.

Idoy memilih sebaliknya.

“Saya sudah mantap. Hidup saya di sini.”

Ia tidak mengatakannya dengan nada heroik. Lebih seperti keputusan yang sudah lama selesai dipikirkan.

Baginya, hutan bukan hanya sumber penghasilan. Tapi juga penyangga hidup. Air, tanah, dan masa depan anak-anaknya.

Refleksi di Bawah Tajuk Kemiri

Siang menjelang sore, kami berdiri di bawah pohon kemiri. Angin bergerak pelan, membawa suara daun yang saling bergesek.

Saya mencoba mengingat kembali perjalanan masuk tadi. Jalan sempit, batu yang disusun, lereng yang ditanami dengan cara yang tidak biasa.

Apa yang dilakukan Idoy mungkin tidak terlihat besar dari luar.

Tidak ada proyek besar. Tidak ada program yang mencolok.

Tapi di sini, perubahan itu terasa nyata.

Dimulai dari satu orang yang memilih tinggal. Lalu menanam. Lalu memberi contoh.

Dan pelan-pelan, satu dusun ikut bergerak.

Baca juga:
* Hutan yang Pulih, Waktu yang Kembali: Catatan dari Desa Bangun Rejo

Kalau Suatu Hari ke Bumiayu

Idoy dan Hutan Kemiri Cerita dari Lereng Sunyi Register 21 Bumiayu Babakan Loa - Yopie Pangkey 6
Semoga bisa berkunjung kembali. (Foto arsip pribadi)

Menjelang keluar dari Dusun Bumiayu, kami sempat berhenti sebentar di tikungan terakhir. Tempat di mana susunan batu itu berakhir, lalu kembali jadi jalan tanah biasa.

Idoy tidak banyak bicara. Ia hanya memastikan motor aman, lalu menyalakan mesin seperti biasa.

Perjalanan kembali terasa lebih cepat. Mungkin karena jalannya sudah dikenali, atau mungkin karena pikiran masih tertinggal di bawah tajuk kemiri. Di kebun yang tidak benar-benar terlihat seperti kebun.

Saya sempat membayangkan, kalau datang lagi ke sini, mungkin saya akan tinggal lebih lama. Tidak buru-buru pulang. Mungkin ikut memungut kemiri saat panen, atau sekadar duduk lebih lama mendengar cerita-cerita yang biasanya muncul tanpa direncanakan.

Dusun ini memang tidak menawarkan banyak hal yang “instan”. Tidak ada spot foto yang dibuat-buat. Tidak ada papan penunjuk yang ramai.

Tapi justru di situ letaknya.

Kalau ingin melihat bagaimana hutan dirawat tanpa banyak kata, bagaimana orang bertahan tanpa harus pergi jauh, mungkin Bumiayu bisa jadi salah satu tempat untuk datang. Pelan-pelan, tanpa ekspektasi berlebihan.

Sisanya, biarkan dusun ini yang memberi cerita.

Related posts