Warung Kopi di Lorong King

Warung Kopi Njun di Lorong King Bandarlampung 1 - Yopie Pangkey
Bukan soal menunya. Tapi tentang duduk, berbagi ruang, dan memulai hari dari secangkir kopi di Warkop N’Jun, Lorong King. (Foto arsip pribadi)

Tentang Warkop N’Jun, dan keajaiban kecil yang terjadi di antara cangkir dan emperan Lorong King

Tidak banya orang yang tahu tempatnya. Lorong King (Loking) memang bukan jalan yang ada di peta wisata mana pun. Tapi begitu saya masuk ke dalam gang itu, saya tahu saya tidak salah tempat.

Menjelang ujung lorong yang sempit itu berdiri sebuah kios kecil. Sederhana sekali. Dinding, langit-langit, dan bagian dapur di ujung dalam kios yang sederhana.

Tidak ada papan nama besar. Tidak ada neon sign. Yang ada hanya orang-orang yang berkelompok di luar, duduk di bangku sederhana, dan beberapa lagi tidak sungkan duduk di lantai teras kios.

Itulah Warkop N’Jun, yang sangat jarang diketahui penikmat kopi sekalipun dan masyarakat umum.

Warkop ini menawarkan sesuatu yang tidak rumit: kopi hitam, kopi susu, telur setengah matang, uduk, dan lainnya.

Menu khas warung kopi Melayu yang sudah ada jauh sebelum kita terbiasa menyebut nama minuman kopi dengan bahasa asing. Tidak ada V60. Tidak ada cold brew. Tidak perlu.

“Yang datang ke sini bukan hanya mencari kopi. Mereka mencari tempat untuk duduk bersama. Di bangku, di teras, di gang, tidak peduli.”

(Warkopnya ada di detik 23-24 di video di atas)

Pagi itu saya pesan kopi susu. Sambil menunggu, saya mulai memperhatikan sekeliling.

Di sebelah kiri saya, sekelompok orang berpakaian olahraga dengan sepeda yang bersandar di dinding. Komunitas pesepeda yang tampaknya baru selesai gowes pagi.

Di meja sebelah, seorang pria berseragam dengan tanda pangkat di bahu sedang serius berbicara pelan dengan seseorang yang berpakaian kasual.

Di bagian dalam kios, seorang pria yang saya tebak pengusaha, dari caranya bicara di telepon dan jam tangannya. Dia duduk santai, berdua rekannya, menyeruput kopi dengan nikmatnya.

Di sinilah keajaiban kecil itu terjadi. Di warkop yang tidak lebih besar dari garasi mobil ini, semua orang duduk di level yang sama. Harfiah maupun kiasan.

Saya teringat sebuah tulisan tentang fungsi sosial warung kopi di budaya Melayu. Bahwa warung kopi bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang netralisasi.

Tempat di mana jabatan dilepas sejenak, urusan bisnis bisa dimulai dari obrolan lepas, dan komunitas terbentuk tanpa agenda.

Warkop N’Jun sepertinya adalah salah satu tempat terakhir di kota ini yang masih menjalankan fungsi itu dengan jujur.

Yang menarik, percakapan di sini jarang terdengar serius, bahkan ketika topiknya serius.

Saya mendengar dua orang membahas sesuatu yang sepertinya urusan bisnis, tapi gestur mereka santai, suara mereka rendah dan ringan, sesekali diselingi tawa pendek.

Tidak ada yang membuka laptop. Tidak ada yang mencatat. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa di sini, semua hal boleh dibicarakan, asal nadanya tetap manusia.

Pola bayarnya pun punya logika sendiri. Di sini orang memesan dulu, bayar belakangan. Sebuah kepercayaan kecil yang terasa besar di zaman serba kasir digital ini.

Dan ada yang lebih menarik lagi. Kadang seseorang berdiri, pamit pergi, lalu dengan tenang membayar kopinya sekalian dengan kopi orang-orang yang masih duduk.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada gestur dramatis. Si penerima hanya mengangguk, atau tersenyum tipis, lalu melanjutkan obrolannya. Kebaikan yang disampaikan sambil lalu, seperti koin yang jatuh pelan ke meja.

Kopi susu saya datang. Sedikit kental, dengan crema tipis di atasnya. Saya minum pelan-pelan.

Di luar, seseorang dari komunitas lari datang dengan nafas masih ngos-ngosan, langsung memesan tanpa membaca menu. Karena memang tidak ada papan menu. Semua orang di sini sudah tahu mau pesan apa.

Saya pernah duduk di sebuah coffee shop modern di pusat kota. Kursinya empuk, musiknya dipilih dengan cermat, kopinya mahal dan enak.

Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Di sana, kenyamanan didesain untuk membuat orang betah sendirian. Di lorong King, kenyamanan tumbuh dari kehadiran orang lain.

Baca juga:
* Lebih dari Sekadar Ngopi: Cerita dari Sudut Pasar Raya Lebak Budi

Mungkin itulah yang membuat para pejabat, pengusaha, dan pesepeda itu tetap datang ke sini. Bukan karena tidak mampu membeli yang lebih mahal, tapi karena di kios kecil ini mereka bisa menjadi manusia biasa.

Duduk sekenanya, bayar kopi temannya, lalu pergi tanpa perlu meninggalkan kesan apa pun.

Mungkin itulah yang membuat warkop ini bertahan. Bukan karena menunya yang inovatif. Bukan karena interiornya yang fotogenik.

Tapi karena di sini, siapa pun yang datang akan selalu menemukan tempat untuk duduk. Meski harus di emperan sekalipun.

Dan itu, entah kenapa, terasa seperti sesuatu yang semakin langka.

Related posts