Bukan soal mana yang lebih baik.
Saya suka coffee shop yang menawarkan kopi enak berkelas. Saya akui itu. Ada yang kursinya nyaman, musiknya tidak mengganggu. Kopinya, kalau pesan yang benar, memang enak. Ada kepuasan tersendiri ketika barista menjelaskan profil rasa: fruity, floral, aftertaste yang ringan dan segar. Saya mengangguk, mencoba mendeteksinya di lidah, dan kadang berhasil.
Tapi ada satu hal yang selalu saya sadari setelah beberapa menit duduk di sana: saya tidak berbicara dengan siapa pun. Dan orang-orang di sekitar saya juga tidak. Masing-masing tenggelam dalam rasa.
Kalaupun ada percakapan, hanya dengan barista. Suasananya hangat, tapi antar orang terasa ada jarak. Tipis tapi nyata, seperti kaca yang bening.
Kemudian saya pergi ke warkop sederhana.
“Di warkop, tidak ada yang terlalu sibuk membicarakan kopinya. Orang datang, duduk, menyeruput, lalu percakapan berjalan sendiri.”
Di warung kopi tradisional, warkop khas Melayu seperti yang masih bisa ditemukan di beberapa sudut Bandarlampung, tidak ada yang menjelaskan apa pun tentang kopi yang saya pesan.
Kopi hitam ya kopi hitam: hitam, pahit, panas, dan cukup. Kopi susu dituang dengan tangan yang sudah melakukannya ribuan kali. Tidak ada tasting notes. Tidak ada single origin. Tidak perlu.
Yang ada adalah sesuatu yang lain: orang-orang dari berbagai latar duduk dalam jarak yang sangat dekat tanpa merasa perlu menjaga jarak.
Di bangku sebelah bisa ada pesepeda yang baru turun dari pelana, pejabat yang melepas jaketnya, dan tukang ojek yang menunggu orderan.
Mereka tidak selalu ngobrol satu sama lain. Tapi kehadiran mereka bersama di ruang yang sama terasa seperti sesuatu. Seperti pengakuan diam-diam bahwa kita semua sedang menjalani hari yang sama di kota yang sama.
Di banyak tempat lain, orang-orang seperti itu mungkin tidak akan duduk berdekatan apalagi semeja. Di warkop, jarak itu seperti tidak terlalu penting.
Ruang membentuk perilaku. Dan warkop tradisional, dengan segala kesederhanaannya, membentuk perilaku yang satu ini: campur baur tanpa syarat.
Saya pernah merasakannya di tempat lain. Empat tahun bekerja di Banda Aceh, saya menemukan suasana yang sama persis di warkop-warkop sana.
Lalu di Tanjungpinang, di Pontianak, di Kendari. Warkop yang berbeda, kota yang berbeda, tapi pola yang sama: orang-orang dari berbagai latar duduk berdekatan, kopi dipesan tanpa banyak kata, dan waktu berjalan lebih pelan dari biasanya.
Seolah ada satu kesepakatan tak tertulis yang berlaku di seluruh warkop Nusantara: di sini, siapa pun boleh duduk.
“Kenyamanan di coffee shop modern dirancang untuk membuat orang betah sendirian. Kenyamanan di warkop tumbuh dari kehadiran orang lain.”
Saya pernah iseng membayangkan: apa jadinya kalau karakter-karakter yang biasa duduk di emperan warkop itu dipindahkan ke coffee shop modern?
Mereka tetap bisa pesan kopi. Mereka tidak akan diusir. Tapi saya rasa ada sesuatu yang akan berubah. Dalam cara mereka duduk, dalam cara mereka berbicara, dalam cara mereka merasa nyaman atau tidak.
Ini bukan soal mana yang lebih baik. Saya masih akan kembali ke coffee shop yang bagus. Untuk kerja, untuk kopi yang benar-benar enak, untuk ketenangan yang kadang memang dibutuhkan.
Baca juga:
* Warung Kopi di Lorong King
Tapi saya juga akan terus kembali ke warkop, ke meja panjang kayu yang penuh goresan, ke kopi hitam yang tidak perlu dijelaskan.
Karena ada hari-hari ketika yang saya butuhkan bukan kopi yang sempurna. Yang saya butuhkan adalah duduk di antara orang-orang, merasakan bahwa kota ini dihuni oleh banyak kehidupan yang berbeda. Dan semuanya, untuk sementara, sedang minum kopi di tempat yang sama.
Itu sesuatu yang tidak ada di menu mana pun.
#Warkop #CoffeeShop #BudayaKopi #RuangPublik


