Where the road ends, beauty begins, dan saya mulai bertanya-tanya.
Dulu saya pegang betul ungkapan itu.
Where the road ends, beauty begins. Bagi saya yang waktu itu lebih sering membawa kamera DSLR daripada ponsel, kalimat itu bukan sekadar quote di caption Instagram.
Itu semacam keyakinan, bahwa tempat-tempat terbaik selalu tersembunyi di balik perjalanan yang tidak mudah. Bahwa jalan rusak adalah semacam “tiket masuk” menuju keindahan yang belum terjamah.
Teluk Kiluan dan Gigi Hiu Pantai Pegadungan adalah dua buktinya. Jalur yang meliuk ke selatan dari Bandarlampung – Padang Cermin – Marga Punduh, lalu terus ke barat ke arah Kelumbayan Negeri, bagi kami fotografer lanskap dulu, itu bagian dari petualangan.
Jalan berlubang, badan berguncang, tapi begitu tiba dan melihat teluk itu terbentang tenang, atau menyaksikan batu-batu karang Gigi Hiu berdiri gagah di tepi laut, semua terasa sepadan.
Saya masih ingat perasaan itu.
Yang Berubah Bukan Jalannya
Yang berubah adalah cara saya dan kawan-kawan melihatnya.
Suatu kali, di perjalanan ke Gigi Hiu-Kiluan, saya Bersama Budhi Marta Utama dan Rudi Huang, berhenti di sebuah tanjakan tanah berpasir. Seorang pemuda dan motornya yang mengangkut hasil kebunnya tergelincir.
(Bisa lihat di foto carousel instagram di atas di slide 4)
Kami bilang jalannya lumayan parah. Dia cuma senyum.
“Biasa, Mas. Selalu begini.”
Kalimat itu pendek. Tapi cukup untuk membuat kami diam sejenak.
Bagi saya, jalan rusak itu bagian dari cerita perjalanan yang akan saya tulis.
Bagi pemuda tersebut, dan warga lain di sepanjang jalur itu, jalan rusak adalah kondisi hidup sehari-hari. Bukan adventure. Bukan tiket masuk ke keindahan. Hanya beban yang sudah terlalu lama diterima sebagai hal yang wajar.
Jalan itu setiap hari dilewati petani yang mengangkut hasil kebun, anak sekolah yang berangkat pagi, warga yang butuh akses ke kota.
Bagi mereka, jalan bukan latar petualangan, jalan bukan untuk akses wisata. Itu ruang hidup, dan kondisinya menentukan banyak hal yang jauh lebih penting dari sekadar kenyamanan berkendara.
Privilege yang Sebenarnya Lama Saya Sadari

Saya traveler. Saya datang, saya foto, saya pulang.
Jalan rusak bagi saya punya batas waktu. Sehari, dua hari, lalu selesai. Saya kembali ke Bandarlampung, ke jalan yang mulus, ke kehidupan yang tidak terlalu terdampak oleh kondisi jalan di Kabupaten Tanggamus bagian tenggara itu.
Itu privilege yang sangat saya sadari.
Ungkapan “where the road ends, beauty begins“, mengandung sesuatu yang agak egois. Seolah jalan yang buruk itu romantis. Seolah kesulitan akses adalah bagian dari estetika perjalanan, bukan masalah yang perlu diselesaikan.
Ditambah ada kekawatiran di kalangan kami, jika suatu tujuan wisata (spot foto lanskap) semakin terkenal dan semakin banyak kunjungan, akan ada banyak sampah dan bisa jadi susunan karang Gigi Hiu akan rusak karena sering terinjak.
Sementara bagi petani yang harus mengangkut hasil kebun keluar dari sana, tidak ada yang romantis dari jalan berlubang. Bagi warga yang butuh akses cepat ke rumah sakit, tidak ada petualangan di sana.
Rencana Perbaikan, dan Harapan yang Mengikutinya

Ada kabar bahwa pemerintah provinsi, inisiasi dari Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, berencana memperbaiki beberapa titik jalan dengan kondisi rusak parah di jalur Simpang Teluk Kiluan – Gigi Hiu Pegadungan.
Saya mencatat ini sebagai perkembangan yang sangat baik.
Tapi ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Bukan sebagai kritik, melainkan sebagai harapan.
Saya tidak nyaman kalau perbaikan jalan itu dibingkai terutama sebagai perbaikan akses pariwisata. Bukan karena saya tidak peduli pada pariwisata, tapi justru karena saya peduli.
Saya tahu bahwa framing itu bisa membawa ekspektasi yang salah dan tekanan yang tidak perlu bagi destinasi dan warganya.
Gigi Hiu Pantai Pegadungan dan Teluk Kiluan punya karakter tersendiri. Keindahannya justru ada pada keterpencilannya, pada suasananya yang belum ramai adem tenteram, pada warga lokal yang masih menjadi bagian utama dari lanskap di sana.
Pemerintah provinsi seharusnya menjadi kurator yang bijak. Tahu betul karakter destinasi yang ingin dijaga, bukan sekadar membuka akses lalu membiarkan semuanya berkembang tanpa arah.
Perbaiki jalannya, tapi biarlah alasan utamanya adalah petani yang bisa mengangkut hasil kebun dengan lebih mudah, pedagang kecil yang biaya angkutnya bisa turun, warga yang tidak perlu khawatir ambulans terlambat karena aspal yang amblas.
Kalau pariwisata ikut berkembang setelahnya, itu bonus. Itu bukan tujuan utama.
Baca juga:
* Panorama Eksotik Teluk Kiluan dan Gigi Hiu
Saya Masih Suka Blusukan
Ini bukan pernyataan tobat dari dunia blusukan.
Saya masih percaya bahwa tempat-tempat terbaik sering kali tidak ada di peta wisata utama. Teluk Kiluan dan Gigi Hiu tetap ada di daftar teratas tempat yang ingin saya kunjungi lagi. Dan saya masih akan merekomendasikannya, seperti biasa.
Tapi sekarang, catatan itu bukan lagi sekadar “siapkan mental.”
Sekarang saya lebih sering berpikir: semoga jalan ini diperbaiki bukan karena orang-orang seperti saya ingin perjalanannya lebih nyaman. Tapi karena bapak yang tergelincir di turunan berpasir itu, dan semua orang yang hidupnya bergantung pada jalur ini, yang sudah cukup lama bersabar.
Where the road ends, beauty begins.
Tapi tidak ada salahnya berharap agar jalan yang bagus itu suatu hari tidak perlu berakhir dulu, hingga harus melewati jalan rusak, untuk memulai keindahan.

