Saya datang ke Pasar Raya Lebak Budi, Kota Bandarlampung, hari Minggu itu tanpa tahu banyak soal mods. Tidak punya skuter, apalagi Vespa. Saya hanya tahu bahwa ada keramaian, dan keramaian itu terasa berbeda dari biasanya.
Ternyata dugaan saya benar, tapi bukan dalam cara yang saya bayangkan.
Kejutan pertama: ini bukan “dunia pria” saja
Selama ini Vespa di kepala saya identik dengan pria. Entah dari mana asalnya persepsi itu, mungkin dari film lama, mungkin dari jalanan. Tapi begitu saya tiba di Pasar Raya Lebak Budi dan melihat deretan skuter berjejer, persepsi itu langsung runtuh.
Ada perempuan di sana. Banyak. Mereka berkendara, mereka tampil, mereka bukan sekadar “dibonceng.” Scooterist perempuan berdiri sejajar dengan yang lain: sepatu boots, dan tampilan yang jujur saja, lebih stylish dari kebanyakan orang yang saya lihat di mall.
Saya tidak menyangka akan menemukan kesetaraan gender di sebuah acara skuter. Tapi di situlah saya salah mengira.
Dan ada detail kecil yang entah kenapa justru paling membekas: banyak scooterist pria yang wangi. Modis. Beberapa membawa istri, ada yang gendong anak. Ini bukan geng motor dengan citra keras yang sering ada di berita. Ini keluarga yang memilih cara berbeda untuk menghabiskan akhir pekan.
Kejutan kedua: semua “label” ditinggal di rumah
Di antara keramaian, saya bertemu banyak wajah yang saya kenal. Dari berbagai latar belakang: ada yang berkecimpung di fotografi, ada wartawan, pengusaha EO, pengusaha kopi, anggota band lokal, bahkan ada yang punya latar belakang politik.
Di luar sana, masing-masing punya identitas yang kuat. Punya label. Punya “dunia” mereka sendiri.
Tapi di acara Lampung Mods Mayday 2026 ini, di salah satu pasar kota Bandar Lampung, semua itu tidak kelihatan. Tidak ada yang membawa atribut profesi atau afiliasi. Semua menyapa dengan hangat, hangat yang terasa tulus, bukan hangat karena protokol. Semua cuma scooterist.
Saya tidak tahu persis apa yang membuat sebuah komunitas bisa mencairkan sekat-sekat sosial seperti itu.
Mungkin musik ska yang mengalun dari panggung. Mungkin aroma kopi yang campur aduk dengan asap mesin dua tak. Atau mungkin memang ada sesuatu dalam kultur mods itu sendiri, sesuatu tentang ekspresi diri yang tidak perlu pembuktian, yang membuat orang merasa aman untuk melepas topengnya.
Pasar Raya Lebak Budi sebagai “tempat ketiga”
Ada konsep dalam sosiologi urban yang disebut third place, tempat ketiga, selain rumah dan tempat kerja. Tempat yang tidak menuntut produktivitas, tidak mensyaratkan identitas tertentu untuk masuk. Warung kopi di sudut jalan bisa jadi tempat ketiga. Taman kota bisa. Perpustakaan bisa.
Pasar Raya Lebak Budi hari itu, Minggu 24 Mei 2026, terasa seperti itu.
Bukan venue eksklusif. Bukan gedung yang disewa dengan harga mahal. Ini pasar rakyat, terbuka, cair, dan milik semua orang.
Pedagang nasi goreng, jajanan tradisional, kedai kopi, semuanya ada dan ikut kebanjiran pengunjung. Para scooterist duduk ngopi, ngobrol, dan menikmati penampilan musisi lokal. Warga sekitar yang sekadar melintas pun bisa ikut menikmati suasana tanpa perlu beli tiket.
Saya pikir itu bukan kebetulan. Pilihan venue seperti ini adalah pernyataan: bahwa kultur mods bukan milik komunitas tertutup, tapi ruang bersama yang terbuka untuk siapa saja yang mau masuk.
Mereka tidak butuh dana. Mereka butuh ruang.
Ada satu hal yang menurut saya perlu dikatakan dengan jelas.
Komunitas ini datang tanpa bergantung pada anggaran pemerintah. Mereka cari sponsor sendiri, pilih venue sendiri, atur logistik sendiri.
Hasilnya: acara yang tertib, meriah, dan bahkan ikut menghidupkan ekonomi pedagang kecil di sekitar lokasi. Tidak ada keributan. Tidak ada kemacetan yang tidak tertangani. Tidak ada insiden.
Yang mereka butuhkan dari pemerintah kota dan provinsi sebenarnya jauh lebih murah dari subsidi: ruang dan perhatian.
Ruang publik yang memang dirancang untuk komunitas berkumpul. Kemudahan izin yang tidak berbelit. Pengakuan bahwa skena urban seperti ini, dengan segala ekspresi musik, fashion, dan kultur jalanannya, adalah bagian sah dari wajah kota. Bukan sesuatu yang perlu diawasi, tapi sesuatu yang perlu difasilitasi.
Kota-kota lain sudah lama memahami ini. Bandung punya skena yang hidup karena ada ekosistem yang dibangun pelan-pelan, sebagian oleh komunitas, sebagian oleh kota yang mau mendengar. Yogyakarta punya ruang-ruang publik yang memang terasa seperti milik warganya.
Lampung punya energi yang sama. Komunitasnya ada, kreativitasnya ada, kemandiriannya sudah terbukti.
Yang belum ada adalah kota yang serius menyambut itu.
Baca juga:
* Lebih dari Sekadar Ngopi: Cerita dari Sudut Pasar Raya Lebak Budi
Saya pulang dengan apa?
Tema acara Lampung Mods Mayday 2026, Back to the Roots. Kembali ke akar.
Awalnya saya kira itu jargon komunitas biasa. Tapi setelah menghabiskan hari Minggu di sana, saya mulai mengerti maksudnya, dan saya rasa itu bukan hanya tentang skuter atau kultur mods.
Kita hidup di kota yang makin cepat, makin individual, makin terfragmentasi oleh algoritma dan kesibukan masing-masing. Ruang untuk sekadar bertemu, menyapa, dan merasakan vibe yang sama makin langka.
Hari itu di Lebak Budi, saya melihat sekelompok orang yang dengan sadar memilih untuk hadir, secara fisik, tanpa layar di antara mereka. Berbagi aspal, berbagi kopi, berbagi musik.
Saya tidak punya Vespa. Saya bukan scooterist.
Tapi saya pulang dengan dua rasa sekaligus: kagum pada komunitasnya, dan bertanya-tanya pada kota tempat saya tumbuh besar. Sampai kapan energi seperti ini harus terus tumbuh sendiri, di celah-celah yang tersisa?



