Arif dan Laut yang Ia Cintai: Cerita dari Kuala Teladas

Arif Rahman dan Laut yang Ia Cintai - Cerita dari Kuala Teladas Tulang Bawang - Yopie Pangkey
Ngopi bareng bang Arif Rahman (kanan) dan bang Rafles dari Mitra Bentala. (Foto arsip Yopie Pangkey)

Kedatangan saya ke Kuala Teladas bukan sebagai tamu yang ingin menikmati keindahan pesisir. Ada tugas yang dibawa: mengajarkan warga cara bercerita tentang dunia mereka.

Tapi justru Arif Rahman yang akhirnya menitipkan pelajaran lebih besar kepada saya.

Dua jam perjalanan dari jalan aspal, meski jarak sebenarnya hanya sekitar delapan puluh kilometer. Ban mobil kami berkali-kali menghantam genangan dan lubang di sepanjang jalan yang lebih pantas disebut sungai kering.

Belakangan, Andi Asnawi, Ketua Forkom Nelayan Tradisional Pesisir Timur Lampung, menyebut bahwa kondisi paling parah sebetulnya hanya ada di sekitar tiga kilometer.

Dia bilang, kalau saja pemerintah bangun jalan di tiga kilometer itu, nelayan sudah sangat terbantu.

Lewat jalan yang sama itulah seluruh hasil tangkapan Kuala Teladas dikirim keluar. Rajungan, udang, cumi, berbagai ikan ekonomis. Semua bergerak melalui jalan yang sama yang nyaris membuat roda kendaraan kami menyerah.

Ketika kami tiba, suasana kampung menyambut dengan cara yang tak terduga. Kuala Teladas punya keeksotisan yang senyap. Satu jenis keindahan yang jarang diketahui orang, karena memang jarang yang tahu ada kehidupan sungai dan kehidupan di daerah kuala seperti ini di Lampung.

Rumah-rumah panggung berdiri di atas sungai. Di pinggiran kuala ada penampungan rajungan yang sibuk dengan kegiatan sehari-harinya. Di salah satu sudut kampung, seorang perempuan muda membuka salon kecantikan. Sebuah pemandangan yang terasa kontras sekaligus hangat.

Di beberapa titik tidak ada sinyal ponsel sama sekali, tapi di warung-warung dan sebagian rumah warga, ada wifi yang mengalirkan dunia luar ke dalam kampung ini.

Puluhan warga sudah berkumpul saat kami tiba, masing-masing dengan telepon genggam di tangan. Nelayan, ibu-ibu pengolah ikan, anggota kelompok usaha dari Desa Kuala Teladas dan Desa Sungai Nibung.

Mereka tidak datang untuk melaut hari itu. Mereka datang untuk belajar sesuatu yang belum pernah ada yang mengajarkannya: cara menyampaikan cerita tentang laut mereka kepada dunia di luar melalui media sosial.

Saya berbagi pengalaman di sana bersama Lamda dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung. Materi yang dibawa: jurnalisme warga, konten digital, strategi media sosial. Dalam benak, itulah yang dibutuhkan.

Tapi sore harinya, duduk bersama Arif Rahman di tempat pengasinan ikannya. Terbersit tanya dalam hati, apakah solusi yang kami bawa sudah sesuai dengan masalah yang sebenarnya ada.

Meutia Isty, Programme Specialist dari Environmental Defense Fund yang mendukung kegiatan ini, menyampaikan sesuatu yang langsung dicatat dalam hati. Pelatihan ini, kata Isty, tidak dirancang untuk mencetak warga menjadi profesional media.

Tujuannya jauh lebih sederhana: supaya warga lebih lancar, lebih memahami, dan lebih akrab dengan kegiatan mendokumentasikan. Merekam foto, video, dan menulis.

“Warga di sini yang tinggal di sini, yang lebih memahami dan lebih cepat mengetahui apa-apa yang terjadi di sini,” kata Isty.

“Dan sekarang sudah zamannya borderless. Masyarakat yang jauh dari kota sekalipun bisa menjangkau orang-orang yang jauh di Lampung bahkan di luar Lampung.”

Kalimat itu langsung mengingatkan saya pada Arif.

Kuala Teladas dan desa tetangganya, Sungai Nibung, dikenal sebagai kawasan pesisir dengan potensi perikanan besar di Tulang Bawang. Rajungan menjadi komoditas andalan.

Sebagian hasil laut itu tidak dijual mentah. Di tangan kelompok perempuan yang tergabung dalam Poklahsar, ikan dan rajungan diolah menjadi kemplang, kerupuk, dan berbagai produk makanan.

Tapi selama ini, pemasarannya masih bertumpu pada pasar lokal dan jaringan dari mulut ke mulut. Produk yang dibuat dengan kerja keras itu kesulitan menembus pasar yang lebih luas. Bukan karena tidak layak, melainkan karena tidak terlihat.

“Kalau bisa dipasarkan lewat media sosial, mungkin produk kami bisa lebih dikenal orang luar,” kata salah satu anggota Poklahsar di sesi pelatihan.

Di balik kekhawatiran soal pemasaran, ada keresahan yang lebih dalam. Aktivitas penambangan pasir di wilayah pesisir disebut-sebut warga sebagai ancaman bagi ekosistem laut.

Dan bersama itu, ancaman bagi kawasan tangkapan yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Kerusakan jalan membuat cerita-cerita ini jarang menerobos keluar.

Keterisolasian bukan hanya perkara jarak, tapi perkara siapa yang mau mendengarkan.

Sungai Nibung menghadapi persoalan serupa. Herman, ketua Pokmaswas dari desa itu, menyampaikan kegelisahannya dengan nada yang tidak bisa dilepaskan dari kelelahan panjang.

Potensi ikan di desanya tidak kalah dari Kuala Teladas, tapi kondisi akses menuju desanya juga sama saja buruknya.

“Jangan hanya janji saat pilkada lima tahunan,” kata Herman.

Ia berharap pemerintah benar-benar memperhatikan desanya, bukan sekadar datang ketika suara dibutuhkan.

Seorang anggota Pokmaswas yang tidak bersedia disebut namanya menceritakan hal lain yang tidak kalah berat. Ketika upaya meramaikan kasus penambangan pasir mulai dilakukan, bentuk-bentuk intimidasi mulai diarahkan ke mereka.

“Kami sebenarnya bisa melakukan tindakan,” katanya, “tapi kami masih memperhatikan hubungan antarmanusia di desa.”

Sebuah pengekangan diri yang tidak mudah, dari orang-orang yang sebenarnya tahu persis apa yang sedang dipertaruhkan.

Masyarakat di sini keras. Itu kesan pertama yang ditangkap. Tapi di balik kekerasan itu ada ketulusan yang tidak dibuat-buat.

Siapa pun yang datang dengan niat baik disambut dengan tangan terbuka. Bukan keramahan yang sopan secara permukaan, tapi keramahan yang berakar.

Sore itu saya duduk di tempat pengasinan Arif. Bau garam dan laut. Arif, pengurus Pokmaswas Kuala Jaya Lestari sekaligus pemilik usaha pengasinan, berbicara santai. Tapi setiap kalimatnya terasa seperti milik orang yang sudah lama duduk bersama pikirannya sendiri.

Ketika ditanya kenapa kepedulian terhadap kelestarian laut begitu kuat di sini, jawaban Arif datang singkat dan langsung.

“Kalau laut rusak, kami yang mati duluan.”

Bukan retorika. Itu aritmatika.

Arif bercerita tentang kebiasaannya menonton YouTube. Bukan untuk hiburan, melainkan untuk mengamati cara perburuan rajungan dilakukan di negara-negara lain: Amerika, Australia, Jepang.

Dan dari pengamatan itu, ia menangkap sesuatu yang absen di Kuala Teladas: aturan.

Di luar sana ada kalender musim. Ada ukuran minimum rajungan yang boleh diambil. Ada periode pemulihan, di mana laut dibiarkan bernapas.

“Di sini tidak ada yang mengatur begitu. Kalau musim rajungan, semua orang turun. Hasilnya memang banyak sekarang, tapi entah sepuluh tahun lagi.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Tidak ada keluhan yang menggantung tanpa arah. Yang ada adalah mimpi, yang dirumuskan dengan sangat spesifik dan sangat membumi.

Nelayan yang sejahtera. Alam yang terjaga. Dua hal yang di banyak tempat dibenturkan, di kepala Arif berjalan berdampingan begitu saja.

Dunia sudah borderless, kata Isty. Dan Arif sudah membuktikannya jauh sebelum pelatihan ini ada. Dari layar telepon di ujung pesisir Lampung, dunia nelayan belahan lain sudah bisa dilihat dan direnungkan.

Lalu pertanyaan itu muncul sendiri: kenapa kita tidak bisa?

Ada hal lain yang Arif ceritakan, dan ini yang paling membekas.

Ia dan ayahnya menjalankan prinsip sederhana dalam usaha pengasinan mereka: pegawai bukan sekadar tenaga kerja. Mereka ingin pegawai bekerja sambil belajar cara mengolah, cara berdagang, cara mengelola. Supaya suatu hari bisa berdiri di atas kaki sendiri, membuka usaha miliknya sendiri.

Saya terdiam mendengar ini.

Di kota, konsep seperti itu diberi nama-nama yang terasa berat: transfer of knowledge, capacity building, sustainable livelihood.

Arif melakukannya diam-diam, di tempat pengasinan ikan di ujung pesisir Lampung, tanpa tahu istilahnya.

Dan di penghujung sesi pelatihan, ia mengajak rekan-rekannya untuk terus kompak. Kalimat yang sederhana. Tapi dari orang seperti Arif, terasa seperti perjanjian, bukan basa-basi penutup.

Ketika ditanya apa yang mendasari semua ini. Jawabannya: kepedulian pada laut, keinginan memberdayakan orang-orang di sekitarnya, mimpi tentang aturan tangkap yang adil.

Arif tidak menjawab dengan bahasa kebijakan atau bahasa gerakan lingkungan.

Jawabannya datang dari sesuatu yang jauh lebih tua dari itu semua.

Cinta kasih. Pada Tuhan, dan pada sesama manusia. Termasuk pada alam yang menjadi titipan-Nya. Itu ajaran yang dipegangnya. Dan bagi Arif, ajaran itu tidak berakhir di masjid.

Ajaran itu mengalir ke cara ia memperlakukan laut, cara ia memperlakukan orang-orang yang bekerja bersamanya, cara ia membayangkan masa depan desanya.

Ini penting untuk dicatat. Bukan sebagai hiasan, tapi sebagai penjelasan yang sesungguhnya.

Kita sering mencari kerangka eksternal untuk mendorong konservasi berbasis komunitas: insentif ekonomi, regulasi pemerintah, program dari lembaga internasional. Semuanya perlu dan nyata manfaatnya.

Tapi di Kuala Teladas, ada sesuatu yang sudah bekerja jauh sebelum program apa pun tiba. Nilai yang hidup di dalam komunitas itu sendiri, yang membuat orang seperti Arif tidak perlu diyakinkan bahwa menjaga laut itu penting.

Ia sudah tahu. Ia sudah percaya. Sejak lama.

Isty bilang ia yakin warga di sini sudah banyak yang punya akun media sosial. Yang dibutuhkan tinggal kepercayaan diri untuk menggunakannya. Untuk bercerita, mendokumentasikan, menyuarakan apa yang terjadi.

Saya yakin itu benar. Tapi setelah menghabiskan sore bersama Arif, ada satu catatan yang ditambahkan untuk diri sendiri.

Yang tidak kalah penting adalah dunia luar juga perlu siap mendengar. Bukan sekadar mengklik, menyukai, atau membagikan.

Tapi sungguh-sungguh memahami bahwa di ujung pesisir yang jalannya berlubang-lubang itu, ada orang-orang yang sudah memikirkan keberlanjutan jauh lebih dalam dari yang banyak orang bayangkan.

Sebelum meninggalkan Kuala Teladas, saya sempat berkeliling ke beberapa sudut kampung.

Ke pinggiran kuala, melewati rumah-rumah panggung yang berdiri di atas sungai. Ke jembatan menuju TPI Kuala Teladas, tempat senja turun perlahan dari atas air.

Di dua titik itu, kamera dan perekam video sempat dinyalakan. Mengabadikan keindahan yang belum banyak orang tahu keberadaannya.

Perjalanan pulang melewati jalan yang sama. Genangan yang sama, lubang yang sama.

Tapi yang dibawa pulang adalah gambaran Arif di tempat pengasinannya, berbicara tentang video rajungan dari YouTube. Dia bertanya dalam hati, kenapa mereka bisa punya aturan, dan kita tidak?

Itu bukan pertanyaan orang yang menyerah. Itu pertanyaan orang yang sedang merencanakan sesuatu, dengan cinta sebagai bahan bakarnya.

Tulisan ini merupakan refleksi dari kunjungan ke Desa Kuala Teladas, Tulang Bawang, dalam rangka pelatihan jurnalisme warga yang didukung oleh Tim Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (TPPRB) yang didukung Environmental Defense Fund (EDF) dan Blue Action Fund. Bersama Meutia Isty Wulandari dan Gus Warman dari EDF, serta Lamda Perdana Kusuma dari DKP Provinsi Lampung.

Related posts