Melihat Kota Bandarlampung dari Meja Kopi Pasar Raya Lebak Budi

Heru Mataya Melihat Kota Bandarlampung dari Meja Kopi Pasar Raya Lebak Budi - Yopie Pangkey
Suasana inklusif dan terbuka di Pasar Raya Lebak Budi, Bandar Lampung, sore itu. Di meja kopi inilah, perbincangan organik bersama Mas Heru Mataya bergulir dan memantik refleksi mendalam mengenai etika warga dalam merawat ruang hidupnya. (Foto: Yopie Pangkey)

Pasar Raya Lebak Budi di sore hari punya suara yang berlapis. Langkah kaki pedagang yang hendak tutup lapak, suara motor yang sesekali masuk terlalu dekat, obrolan samar-samar dari meja sebelah. Ada aroma pisang goreng dari kios sebelah dan aroma ketan keju duren yang baru tiba di meja.

Di sanalah saya duduk dengan Mas Heru Mataya, pertemuan kedua kami di bulan Juni 2026 ini. Langit di luar sudah mulai bewarna jingga ketika dia mulai bercerita tentang sebuah komunitas di Solo.

Ceritanya sederhana di permukaan. Sekelompok warga melihat papan petunjuk arah di depan Bank Indonesia Solo tidak informatif, lalu memutuskan untuk bikin sendiri. Mereka pasang. Selesai.

Saya bertanya. “Biayanya dari mana, Mas?”

Mas Heru tersenyum. Urunan, katanya.

Seratus Ribu Per Orang

Rata-rata seratus sampai dua ratus ribu rupiah per orang. Tidak ada donatur tunggal yang namanya perlu dicantumkan. Tidak ada logo instansi yang ikut nempel.

Saya tanya lagi: siapa saja yang ikut? Ternyata bukan komunitas yang homogen. Di dalam Relawan #KotaSolo ada seniman, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, dan warga biasa yang kesehariannya tidak ada hubungannya satu sama lain.

“Kok bisa akur, Mas?”

Jawabannya ada pada satu aturan yang mereka pegang. Siapapun yang masuk ke ruang komunal itu wajib menanggalkan seragam dan kepentingan pribadinya di luar.

Afiliasi politik tidak dibawa masuk. Ego tidak dibawa masuk. Yang boleh masuk cuma niat untuk mengerjakan sesuatu bagi kota.

Kalau ada anggota yang punya lebih banyak uang dan ingin menyumbang lebih besar, sumbangan itu biasanya baru dikeluarkan di akhir, senyap, untuk menutup kekurangan yang tersisa. Tidak ada momen “saya yang paling banyak berkontribusi.” Yang penting plangnya jadi.

Saya duduk dengan cerita itu sebentar. Tidak ada proposal. Tidak ada sponsor korporat. Tidak ada kegaduhan di media sosial untuk menyindir anggaran pemerintah kota.

Mereka cukup urunan dan bikin.

Cangkir yang Tertahan

Mas Heru melanjutkan. Plang itu, entah karena desainnya atau posisinya, kemudian jadi spot foto. Orang berhenti di sampingnya, memotret.

Serunya, Wali Kota Solo Respati Ardi dan Wakil Wali Kota Astrid Widayani datang melihat langsung. Lalu keduanya ikut membagikannya ke pengikut mereka di Instagram.

Tepat di sini, cangkir kopi yang hendak saya dekatkan ke bibir tertahan beberapa senti di udara. Saya letakkan kembali ke meja tanpa sempat mencecapnya.

Pikiran pertama yang melintas adalah rasa skeptis yang biasa diidap para jurnalis warga: Ah, apakah ini cuma panggung pencitraan politik baru?

Mas Heru seperti sudah menduga reaksi itu. Dia menekankan satu hal: Respati Ardi dan Astrid Widayani tidak mengklaim plang itu sebagai program pemerintah kota.

Mereka tidak hadir dengan spanduk atau siaran pers. Mereka datang, melihat, lalu membagikannya seperti warga biasa yang kebetulan punya banyak pengikut.

Saya ambil kopi saya lagi. Skeptisisme saya tidak pergi sepenuhnya, masih ada di sana seperti endapan di dasar cangkir. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari cerita ini.

Kemungkinan bahwa apresiasi itu tulus, bahwa seorang pemimpin kota bisa ikut senang atas sesuatu yang lahir dari bawah tanpa perlu mengambil alih ceritanya.

Baca juga:
* Lampung Mods Mayday 2026: Back to the Roots dan Pertanyaan untuk Kota Kita

Kita Pernah Punya Itu

Obrolan kami kemudian berayun ke Bandarlampung sendiri, dan saya sadar kita sebenarnya tidak asing dengan pola seperti ini.

Ada Ruang Renjana, gelaran yang menyatukan komunitas kreatif muda Lampung di Pasar Seni Enggal. Nama itu dari kata renjana dalam bahasa Lampung, artinya cinta. Tidak ada satu komunitas yang tampil dominan. Orang datang, berekspresi, bersilaturahmi.

Ada juga Lalang Waya, digagas Generasi Pesona Indonesia Lampung bersama komunitas Lampung Foodies. Bersukaria dalam bahasa Lampung. Sempat ramai, bahkan gubernur waktu itu datang, tapi tidak untuk meresmikan apa-apa. Hanya ikut menikmati apa yang sudah dibangun orang lain.

Polanya sama persis. Komunitas bangun dari bawah, pemimpin datang mengapresiasi tanpa ambil alih panggung.

Bedanya satu hal saja. Ruang Renjana dan Lalang Waya adalah acara. Ramai waktu digelar, lalu sepi lagi begitu selesai. Plang swadaya di Solo fisik dan berdiri terus. Setiap orang yang lewat di depan Bank Indonesia Solo, setiap hari, tanpa sengaja diingatkan bahwa ada warga yang membuatnya. Bukan anggaran daerah. Bukan program kota.

Baca juga:
* Lebih dari Sekadar Ngopi: Cerita dari Sudut Pasar Raya Lebak Budi

Yang Belum Selesai

Trotoar di Bandar Lampung masih menjadi urusan yang rumit kalau kamu pejalan kaki. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya, permukaannya tidak ramah untuk anak-anak, tidak nyaman untuk lansia, dan saat hujan bisa jadi licin tanpa peringatan.

Tapi dari meja kopi di Lebak Budi sore itu, obrolan kami tidak berakhir dengan saling menuding siapa yang harus bertanggung jawab. Pertanyaannya bergeser: dengan semua keterbatasan yang ada, apa yang bisa kita kerjakan sekarang?

Saya tidak punya jawaban yang bersih untuk itu. Modal sosialnya ada, kita sudah tahu itu. Kita pernah membuktikan bahwa orang Lampung bisa membangun sesuatu bersama tanpa perlu satu pihak mendominasi.

Yang belum terjawab adalah bagaimana caranya semangat itu bisa mewujud dalam sesuatu yang berdiri lama di satu sudut kota. Sesuatu yang masih ada esok harinya, bukan cuma ramai sebentar lalu sepi lagi.

Kopi di meja saya sudah habis ketika kami berdua akhirnya berdiri. Pertanyaan itu saya bawa pulang.

Related posts