Pesona Air Terjun Putri Malu di Way Kanan

Air Terjun Putri Malu – Siang itu, Kamis (10/09/2015), merupakan hari pertama kalinya saya menyaksikan langsung air terjun Putri Malu yang terletak di Jukuh Batu, kecamatan Banjit kabupaten Way Kanan.

Menyaksikannya pertama kali saya langsung bergumam, kemana aja saya selama ini kenapa baru tau potensi tempat wisata di Lampung yang luar biasa indahnya seperti air terjun ini. Lain kali harus kembali kemari.

Rencana Dadakan Biasanya Terlaksana

Malam itu, Kamis (19/05/2016), saya duduk-duduk di kedai Lapakopi di jalan Nusa Indah bersama dua orang kawan jalan, Kiki dan Dito. Sudah lama kami tidak duduk-duduk santai sambil nyeruput kopi Lampung dan saling bertukar info-info terbaru mengenai tempat wisata di Lampung. Meski janjiannya pukul 21:00, kami tak segan kelaur rumah untuk bertemu dan mengobrol sampai tengah malam.

Namanya juga warung kopi, obrolannya pun biasanya ngalor ngidul kalau kata orang Jawa. Obrolan sana-sini sesuka hati membicarakan kabar kawan yang lama tak bertemu, kabar gunung Pesagi dan gunung Betung, kabar sungai-sungai yang belum pernah kami datangi.

Termasuk rumah-rumah tua di Kampung Wisata Gedung Batin yang baru saja saya kunjungi bulan lalu, akhir bulan April tepatnya.

(Baca: Jelajah Waktu di Kampung Wisata Gedung Batin)

Saya bercerita kalau di Gedung Batin Way Kanan itu banyak sekali rumah tuanya. Kampungnya dikitari oleh sungai Way Besai yang airnya berasal dari Lampung Barat.

Selain itu di Kasui ada air terjun Gangsa (curup Gangsa) yang terletak di ujung aliran irigasi untuk mengairi sawah-sawah di sekitar. Juga ada dua air terjun yang berdekatan di Juku Batu, Banjit.

Lalu terlontarlah keinginan pergi ke Way Kanan mengunjungi tempat-tempat yang saya ceritakan itu. Mulailah kami berdiskusi seru mengenai tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan maksimal mengingat waktu terbatas dan mengenai waktu keberangkatan.

“Kenapa ga wiken ini aja, kita bertiga kan ga ada kegiatan di wiken ini.” Begitu celetuk Kiki mengusulkan. Eh, tapi apa bener banyak kegiatan di wiken-wiken lain? hahahaha.. 😀

Air Terjun Putri Malu Banjit - Way Kanan - Yopie Pangkey

Air Terjun Putri Malu di kecamatan Banjit.

Malam itu saya langsung menghubungi bang Yazid, kawan yang sudah lama berkeja sebagai PNS di Kabupaten Way Kanan. Bang Yazid ini yang menjadi tuan rumah saat saya menjadi juri lomba foto di acara Festival Radin Jambat 2016 lalu. Dan saya mendapat tawaran untuk menginap kembali di rumahnya di Blambangan Umpu 🙂

Beliau juga yang menginspirasi saya untuk menulis tentang Wisata Alam Way Kanan.

Kami juga mengajak kawan-kawan lain, siapa tahu ada yang mau gabung untuk jalan-jalan eksplorasi keindahan wisata Way Kanan. Tapi akhirnya hanya kami bertiga yang berangkat, bermodal uang pas-pasan, bekal makanan pas-pasan dan banyak rasa penasaran 🙂

Menuju Blambangan Umpu

Malam itu, Sabtu (21/05/2016), saya masih packing perlengkapan yang mau saya bawa saat Dito mengirim pesan di Line memberitahu kalau dia sudah mau jalan menjemput saya. Sesuai perjanjian, Sabtu ini kami berangkat pukul 19:00.

Akhirnya macet lalu lintas lah yang menyelamatkan saya dari janji pukul 19:00 itu. Dan pukul 21:00 kami mengisi bahan bakar di SPBU di dekat Mal Boemi Kedaton, lalu langsung cuss luar kota menuju Blambangan Umpu.

Perjalanan malam itu cukup lancar, tidak ada kemacetan sepanjang jalan. Beberapa kali saja kami melewati rombongan truk yang sepertinya menuju provinsi tetangga, Sumatera Selatan.

Di sepanjang jalan juga banyak ditemui warung-warung kecil yang masih buka hingga tengah malam. Tidak kawatir jika harus berhenti mampir membeli minuman dan makanan ringan.

Kami memilih jalan malam hari agar bisa sampai di Blambangan Umpu tengah malam dan bisa istirahat mempersiapkan badan untuk jalan menuju air terjun Puteri Malu keesokan hari. Rencananya begitu, tetapi biasanya nih bang Yazid menawarkan kopi sebagai minuman penyambut tamu kepada kami-kami tamu dari Bandar Lampung.

Dan benar, malam itupun saat tiba di rumahnya pukul 02:00 dini hari kami disuguhi kopi kembali sebagai kawan ngobrol sebelum kami memutuskan untuk istirahat di kamar yang sudah disiapkan 😀

Malam itu kami memutuskan untuk berkunjung ke Kampung Wisata Gedung Batin dan Air Terjun Putri Malu.

Selamat Pagi Blambangan Umpu

Pagi itu, Minggu (22/05), kami sudah siap untuk berangkat. tetapi harus menunggu seorang guru yang ingin ikut melihat air terjun Puteri Malu. Mbak Susan, selain sebagai guru dia juga seoarang penulis novel lho. Sudah banyak bukunya yang diterbitkan.

Kampung Wisata Gedung Batin

Pukul 09:30 akhirnya kami berangkat juga menuju Kampung Gedung Batin. Di sini kami hanya mengobrol dengan salah satu pemilik rumah tua yaitu pak Ali Bakri. Di rumahnya kami megobrol santai sambil ditemani pisang goreng dan teh manis. Luar biasa suasana keramahan Gedung Batin pagi itu.

Sambil mengobrol kami tak lupa berfoto-foto di teras rumah panggungnya yang luas. Kalau gelar tiker di terasnya, bisa menampung sekitar kurang lebih 70an orang. Lumayan luas kan. Ditambah dengan suasana sekitar yang asri, rumah-rumah panggung kayu dan pepohonan yang rindang.

Obrolan dirasa cukup dan teh di gelas sudah menyusut, kami pun pamit untuk menuju Juku Batu. Paling tidak butuh sekitar satu jam berkendara dari Juku Batu.

Juku Batu

Juku Batu adalah sebuah kampung yang berada di kecamatan Banjit kabupaten Way Kanan, Lampung. Kampung Juku Batu ini berbatasan dengan kawasan hutan lindung Reg. 24 Bukit Punggur, yang terdapat air terjun Puteri Malu di dalamnya.

Jika kita dari arah Bandar Lampung/Bukit Kemuning, di Baradatu kita berbelok ke kiri masuk ke arah Banjit. Di Banjit kita bisa bertanya-tanya ke warga arah menuju Juku Batu. Baradatu – Banjit kira-kira membutuhkan waktu 1 jam berkendara.

Melewati jalan kecil yang mulus, berlubang dan kadang jalan berbatu. Di kiri kanannya kita banyak menjumpai rumah-rumah adat Bali. Di beberapa titik kita bisa melihat bentangan sawah yang indah.

Juku Batu - Banjit - Way Kanan - Yopie Pangkey

Pemandangan di salah satu belakang rumah warga.

Petualangan Seru Menuju Air Terjun Putri Malu

Boleh dibilang akses menuju air terjun Putri Malu ini sangatlah tidak bagus. Pertama kali kemari di bulan September 2015, saya merasakan pegal-pegal saat melintasi kebun-kebun kopi, hutan. Dan ada salah satu jalurnya itu bersisian dengan jurang yang landai. Itupun di musim kemarau saat tanahnya kering dan berdebu. Nah, kali ini saya kemari di musim hujan. Malam sebelumnya pun Way Kanan hujan lebat hampir semalaman.

Jika tadi saat menuju Juku Batu dari Gedung Batin cuaca cerah dengan langit biru dengan ditutupi awan sebagian, saat setiap kami menaiki ojek trail gunung (pukul 14:00) cuaca sudah mulai didominasi dengan mendung. Masih ada biru di langit yang membuat saya sedikit tenang.

Selain saya bertiga dari Bandar Lampung dan 4 orang dari bang Yazid cs, kami ditemani 2 orang petugas Kehutanan yang banyak mengenal wilayah hutan Bukit Punggur ini. Juga ada ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Juku Batu. Dengan cerianya kami pun memulai perjalanan seru menuju air terjun.

ojek trail Juku Batu - air terjun putri malu - Yopie Pangkey - 1

Ketemu lagi dengan abang ojek yang sama di trip kedua menuju air terjun Putri Malu.

Oya, ojek trail yang aku tumpangi hari itu ternyata sama dengan yang aku tumpangi di bulan September 2015 saat menjadi juri desa wisata se-Lampung.

“Videonya sudah saya lihat di youtube lho mas.” begitu celetuknya saat melihat saya kembali. Ternyata mereka mantau media sosial juga ya 😀

Selepas jalan berbatu kampung Juku Batu, kami sudah dihadapkan dengan turunan yang lumayan kemiringannya. Jika saat pertama kali saya tidak terlalu kawatir, kali ini saya sedikit waswas karena jalur tanahnya masih terlihat licin terkena hujan semalam.

Dalam hati bergumam, untung ya kami pergi agak kesiangan sehingga tanah sudah menjadi lebih kering terkena panas matahari.

ojek trail Juku Batu - air terjun putri malu - Yopie Pangkey - 2

Penampakan motor modifikasi ala Juku Batu yang membawa saya dua kali ke air terjun Putri Malu.

Bukan turunan dengan kemiringan yang lumayan aduhai saja yang bisa bikin kita deg-degan, ada beberapa tanjakan yang membuat kita mau ga mau harus memeluk abang ojek trail kalau ga mau terjengkang ke belakang.

Serius harus meluk, yah minimal rapetin badan kita ke badannya abang ojek deh 😀

40 (empat puluh) menit deg-degan di atas motor trail, akhirnya kami sampai juga di ujung jalan setapak yang bisa dilalui motor.

Di situ ada satu plang/papan dari besi bertuliskan “Anda memasuki kawasan wisata alam air terjun putri malu“. Dan ada tulisan “Jangan buang sampah semabarangan di wilayah ini”.

Kemegahan Air Terjun Puteri Malu

Sama seperti saat pertama berkunjung ke air terjun Putri Malu ini, kali kedua pun saya masih dibuat takjub dengan kemegahan air terjun ini. Gimana tidak, air terjun ini lumayan tinggi dengan hempasan airnya yang begitu deras dan kuat.

Ditambah dengan dinding batu yang luas yang menambah kesan megah air terjun ini. Beda dengan beberapa air terjun yang pernah saya datangi di Lampung. Beda tempat beda keindahan maksudnya, yang ini memili keindahan super yang berbeda dengan air terjun lain.

(Lihat di sini: Asiknya Mandi di Kesejukan Air Terjun Puteri Malu)

Walau tidak banyak memotret di perjalanan kali ini, tetapi saya cukup puas datang kemari dengan mengajak serta Kiki dan Dito yang baru pertama kali kemari. Senang bisa mengajak kawan lain dan sangat bahagia bisa berenang di sini.

Ini foto-foto yang saya upload di IG @Kelilinglampung_ di saat pertama kali datang:

Saat pertama datang, saya banyak memotret air terjun Putri Malu ini dan satu air terjun bernama air terjun Batu Duduk yang terletak tidak jauh.

Dua air terjun ini sama tingginya. Bedanya, air terjun Batu Duduk agak tersembunyi di balik pepohonan yang rapat dan tinggi. Dan dua-duanya nampak megah dan anggun bagi saya.

Berendam di aliran air terjun ini lumayan bisa membuat badan menggigil, airnya lumayan sejuk. Ingin rasanya berlama-lama di sini, bahkan kalau bisa menginap satu waktu nanti.

Air Terjun Putri Malu - Banjit - Way Kanan - Yopie Pangkey - 2

Air Terjun Putri Malu.

Hujan Deras

Baru beberapa menit di air terjun ini, tiba-tiba terasa rintik hujan mengenai kulit. Rupanya gerimis mulai turun dari awan yang terlihat sudah merapat menutup biru langit.

Sebagian kami langsung mengamankan barang bawaan dan membuat semacam tenda darurat untuk berteduhnya barang-barang bawaan. Termasuk saya yang langsung mengamankan tas berisi kamera.

Belum sempat motret pakai DSLR sudah keburu hujan, agak dongkol sebenarnya. Tapi untungnya saya sudah punya beberapa stok foto. Yang belum itu kan merasakan sensasi mandi di air terjun ini.

Selesai amankan barang bawaan, saya kembali masuk ke dalam air. Berendam sambil membuat video dengan action camera saya.

Sedangkan Dito dan Kiki asik membuat air panas dengan kompor dan panci yang sengaja dibawa dari Bandar Lampung. Tadinya mau ngopi-ngopi ganteng tapi ternyata urung, Dito lupa menurunkan kopi dari mobil, duhh,, hehehehe…

Kami makan siang dengan nasi bungkus dengan lauk mi goreng siang itu. Menu yang sangat biasa tapi jadi luar biasa karena makan ditemani dengan suara gemuruh air terjun. Apalagi Dito juga sengaja memasak mie instan tambahan untuk kami.

Rasa lapar perut kami agak tertutupi dengan keindagan tempat ini, terbukti dari ludesnya semua makanan yang dibawa.

Tak lama kemudian hujan semakin deras. Sebagian kami masih asik di tempat ini, sebagian masih di air terjun Batu Duduk. Saya agak kawatir kalau-kalau aliran air semakin deras dan terjadi banjir bandang. Tetapi petugas kehutanan menjelaskan kalau letak air terjun ini sudah termasuk tinggi, jadi tidak mungkin terjadi bandang. Hanya debit airnya saja yang bertambah sedikit tanpa perlu kita kawatir.

Segera Berkemas dan Kembali

“Kita enak motoran saat hujan deras seperti ini. Kalau hujan sudah selesai tanah akan semakin licin.” seloroh salah satu dari kami.

Benar juga pikir saya dalam hati. Tak perlu pikir panjang, saya langsung bilang ke bang Yazid baiknya kita segera kembali ke kampung Juku Batu.

Selesai beberes tanpa meninggalkan sampah sedikitpun, kami langsung tancap gas untuk kembali. Menerobos hujan deras melewati tanjakan dan turunan, dan jalan setapak sempit di tepian jurang yang masih landai namun tetap saja bikin deg-degan.

Saat pergi kami membutuhkan waktu 40 menit, saat pulang sepertinya lebih dari itu. Pastinya, pukul 17:30 saya dan kiki sudah duluan sampai di Juku Batu. Sedangkan yang lain menyusul 10-15 menit kemudian.

Saat pergi ga pake tergelincir dan turun dari motor. Di saat pulang, motor yang saya tumpangi dua kali tergelincir. Dan sekalinya pake jatuh sampai-sampai motornya menimpa kaki kiri saya di sebuah turunan yang sangat licin. Jatuh, tapi malah tertawa-tawa kegirangan.

Iya, sebuah pengalaman yang sangat jarang saya alami yang bisa saya ceritakan ke keluarga di rumah dan kawan-kawan lain yang suka dengan petualangan.

Pulang ke Bandar Lampung

Selesai sholat magrib, saya beserta Dito dan Kiki memutuskan untuk langsung kembali ke Bandar Lampung. Semua baju dan daleman (eehh) yang kami bawa dalam tas ternyata basah semua. Masih beruntung ternyata kami masih menyimpan baju kering yang sengaja kami tinggal di mobil.

Saya di mobil duduk manis di bangku tengah mengenakan baju kaos yang sedikit basah, celana pendek dan sarung. Duduk manis menahan kantuk, terbayang-bayang serunya perjalanan air terjun Putri Malu ini 😀

Dito bilang masih kuat untuk drive mobilnya sampai Bandar Lampung, saya duduk dan tertidur di belakang. Tak terasa saat bangun sudah sampai di kota Bandar Lampung.

Kami bertiga tidak kapok datang ke air terjun Putri Malu di Banjit Kabupaten Way Kanan ini. Malah kami sangat berharap bisa datang kembali untuk merasakan Wisata Way Kanan yang tiada dua rasanya ini.

Menambah daftar tempat wisata di Lampung yang sudah kami kunjungi. Eksplorasi potensi-potensi yang ada untuk diceritakan kepada kawan-kawan lain yang ingin datang.

Kamu pernah ke air terjun ini?


Kalau berkenan share ke kawan-kawan lain ya 🙂